Kepri Catatkan Inflasi di Bawah Nasional, Kepala BI: Ini Terbaik

Ilustrasi.

Batam - Perkembangan inflasi Kepulauan Riau (Kepri) pada November 2018 tercatat sebesar 2,29 persen (ytd) atau 3,04 persen (yoy) lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 2,50 persen (ytd) atau 3,23 persen (yoy). 

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri, Gusti Raizal Eka Putra mengatakan bahwa capaian inflasi November adalah yang terbaik, karena sepanjang 2018 level inflasi Kepri selalu berada di atas nasional.

"Kelompok administered prices dan volatile food menjadi kelompok penyumbang dengan andil inflasi terbesar di tahun 2018," ujar Gusti usai Pertemuan Tahunan BI Kepri di Radisson Hotel, Batam, Kepri, Selasa (4/12/2018). 

Hal itu bersumber dari produk beras, tarif listrik dan tembakau dan minuman beralkohol.

Berdasarkan kota penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), Batam mengalami inflasi sebesar 0,13% (mtm) sementara Tanjungpinang mencatatkan inflasi sebesar 0,29% (mtm). Jika dilihat secara tahunan, inflasi Batam adalah sebesar 2,74% (yoy), masih lebih tinggi dibandingkan inflasi Tanjungpinang sebesar 2,50% (yoy). 

Pengendalian inflasi difokuskan untuk menjaga ketersediaan dan kelancaran distribusi bahan pangan. Koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus dioptimalkan dengan fokus utama menjaga ketersediaan dan distribusi bahan pangan strategis.

Selain itu juga mendukung percepatan pembangunan infrastruktur logistik pangan dan terus mendorong ketahanan pangan daerah. 

Secara historis laju inflasi cenderung meningkat pada akhir tahun akibat peningkatan permintaan, sehingga diperlukan rencana aksi 4K (memastikan ketersediaan pasokan komoditas, menjaga kelancaran distribusi, memastikan keterjangkauan harga dan melakukan komunikasi kebijakan) yang terjadwal sampai dengan Desember 2018.

"Laju inflasi Desember 2018 kami perkirakan meningkat," ucap Gusti. 

Gusti menjelaskan peningkatan laju inflasi diperkirakan akan didorong oleh kenaikan harga pangan terutama komoditas holtikultura dan ikan segar yang dipengaruhi oleh curah hujan tinggi dan gelombang tinggi (angin musim utara). 

Tekanan inflasi inti dan administered prices juga diperkirakan relatif tinggi dipengaruhi pergerakan nilai tukar dan kenaikan tarif angkutan udara. 

"Namun, capaian inflasi Kepri 2018 diperkirakan masih berada pada koridor sasaran inflasi nasional sebesar 4 ± 1% (yoy)," sebutnya. 

(ret)
 


Berita Terkait