Stabilitas Sistem Keuangan Terjaga Meski Kredit Bermasalah di Kepri Meningkat
Kepala BI Kepri Gusti Raizal Eka Putra. (Foto: Johannes/batamnews)
Batam - Tren positif pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan II 2018 sebesar 4,51 % (yoy), juga berpengaruh terhadap stabilitas sistem keuangan yang tetap terjaga. Hal ini tercermin dari indikator-indikator perbankan yang masih tumbuh meski tidak sekuat triwulan sebelumnya.
Total penyaluran kredit tumbuh melambat sebesar 5,15% (yoy) dibanding Tw-I 2018 sebesar 7,25% (yoy).
"Berdasarkan jenis penggunaan, perlambatan kredit dipengaruhi oleh pelemahan kredit investasi yang tumbuh 5,18% (yoy) dibanding triwulan-I 2018 14,82% (yoy)" kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, Sabtu (1/9/2018).
Sedangkan untuk Kredit modal kerja dan konsumsi tumbuh menguat masing-masing sebesar 3,42% (yoy) dan 6,77% (yoy). dibandingkan triwulan lalu yang tumbuh sebesar 0,64% (yoy) dan 6,61% (yoy).
"Secara umum, proporsi kredit per jenis penggunaan relatif terdistribusi secara merata dimana kredit investasi mencatatkan porsi terbesar yaitu 34,27%, diikuti oleh kredit konsumsi sebesar 34,25% dan kredit modal kerja sebesar 31,48%," jelasnya.
Non Performing Loan (NPL) Kepri yaitu kredit bermasalah yang merupakan salah satu kunci untuk menilai kualitas kinerja bank. Berdasarkan lokasi proyek adalah sebesar 4,58%, lebih tinggi dibanding triwulan lalu sebesar 4,23%.
"NPL mengalami peningkatan namun masih berada dibawah ambang batas (treshold) yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 5%," katanya.
Untuk Rasio Loan to Deposito Ratio (LDR) Kepri berdasarkan lokasi proyek tercatat sebesar 95,57%, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 91,93%.
Aktivitas sektor UMKM tercatat tumbuh melambat tercermin dari pertumbuhan kredit UMKM sebesar 5,37% (yoy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 6,35% (yoy).
Net outflow uang kartal pada triwulan II-2018 sebesar Rp2,65 triliun atau terkontraksi 18,34% (yoy) dibandingkan triwulan yang sama tahun lalu yang juga mencatatkan net outflow sebesar Rp3,24 triliun atau tumbuh 6,95% (yoy).
"Sesuai dengan pola historisnya, aktivitas pembayaran tunai mengalami net outflow sementara pembayaran non tunai mulai meningkat," jelas Gusti.
Transaksi non tunai masih terkontraksi namun lebih baik dibandingkan periode lalu. Pada triwulan II-2018, nominal transaksi terkontraksi 2,42% (yoy) dibanding triwulan lalu sebesar 26,27% (yoy). Jumlah warkat yang dipertukarkan juga masih terkontraksi sebesar 1,82% (yoy), namun lebih baik dibandingkan triwulan lalu sebesar 15,85% (yoy).
(ret)

Komentar Via Facebook :