Kuliner Enak di Batam
Cerita Suami Istri Sukses Bangun Bisnis Teh Tarik Raja Batam
Raja Rita Desita, pemilik usaha Teh Tarik Raja Batam. (Foto: Johannes/batamnews)
Batam - Resign dari PT (perusahaan terpadu) di Muka Kuning, Batam menjadi titik awal bagi wanita bernama Raja Rita Desita beralih menjadi pembisnis.
Ia memutuskan membangun usaha restoran atau yang saat ini sudah dikenal masyarakat Batam, Teh Tarik Raja.
Wanita asli Batam ini yakin berdagang adalah profesi terbaik mengarungi kehidupannya. Tidak mudah baginya membangun usaha tersebut.
Rita mencoba bercerita kepada Batamanews.co.id, Rabu (25/7/2018) sore.
Awalnya, Rita masih seorang karyawan disalah satu perusahaan di Muka Kuning, Batam pada pertengahan 2003. Tiba-tiba perusahaan tersebut pailit.
Ketika itu suaminya Raja Basri masih berada di Malaysia bekerja disalah satu rumah makan di negara Jiran itu. Sekali dua minggu suaminya pulang ke Batam.
"Ya kalau bekerja di negara orang, tahu sendirilah rasanya," ujar Raja.
Tidak nyamannya suaminya bekerja di luar negeri. Rita dan Basri berfikir, ingin mendirikan bisnis sendiri.
Raja sepakat dengan Basri mencari kios kecil di kawasan Jodoh untuk membuka warung makan dengan spesifik khas teh tarik.
Pencarian mereka membuahkan hasil ketika salah satu kios di kawasan jalan samping hotel Oasis tidak ada yang mengisi.
"Kami langsung ambil dan jualan, tepat samping Hotel Oasis," katanya.
Setelah itu ia menjalankan bisnis tersebut. Pelangan warungnya adalah orang yang tinggal di rumah susun Lancang Kuning, pengunjung Hotel Oasis, dan orang sekitar kawasan tersebut.
Setelah berjalan beberapa bulan, warungnya mulai berdatangan pelanggan. Dia menjual menu tomyan, masakan padang, dan tentunyha dengan menu andalahn khas teh tarik.
Semula ia berhasil meraup omset Rp 200.000 hingga Rp 300.000 satu hari pada waktu itu.

Berbagi peran dengan suami
Ia melayani tamu sedangkan suaminya yang mantan pekerja di rumah makan Malaysia bertindak sebagai juru masak.
Keahlian masak sang suami dan jiwa pedagang Rita berpadu. Sehingga menghasilkan sebuah bisnis yang menjanjikan.
"Saya dari kecil waktu SD sudah jual gorengan sama kawan-kawan, mungkin karena sudah ada bakat dari kecil," katanya.
Tidak besar modal yang mereka keluarkan untuk menghidupkan bisnis tersebut. Ia hanya bermodalkan uang Rp 1.500.000 penghasilan suaminya di Malaysia.
Setelah itu modal tersebut yang ia jadikan tumpuan untuk mendirikan warung yang buka pukul 16.00 WIB hingga 00.00 WIB.
"Di Jodoh malam lebih ramai," katanya.
Menyewa Ruko
Memasuki satu tahun bisnis warungnya cukup menggiurkan. Rita menyewa ruko yang berada tidak jauh dari kiosnya.
Meskipun kios tersebut cukup mahal ia yakin semakin tinggi modal dikeluarkan semakin besar penghasilannya.
Namun, bisnis besar tersebut tidak semudah yang ia bayangkan. Kedainya mengalami kesulitan. Bahkan sampai bangkrut pada tahun 2005.
"Di situ saya kaget, ternyata mengelola bisnis di ruko tidaklah mudah," ujarnya.
Ia tidak mau berdiam di sana, dan memahami bahwa setiap bisnis besar pasti ada hambatan dan rintangan.
Rita yakin managemen bisnis di kios berbeda dengan ruko. Namun ia tidak memperhatikan hal itu.
Managemen yang buruklah penyebab warung yang masih bernama teh tarik itu bangkrut.
"Kalau di kios kami kan masak aja, managemen keuangan ngak begitu penting, namun berbeda dengan warung di ruko setiap pengeluaran harus diperhitungkan," katanya.
Selang beberapa bulan ia mencoba bangkit. Mendudukan kembali managemen usaha yang baik. Ia menyewa ruko yang sama dan bisnisnya bangkit lagi.
Ternyata semangatnya yang besar membuahkan hasil. Sampai saat ini wanita yang memiliki tiga orang anak itu sudah memiliki dua ruko, di samping Hotel Oasis Jodoh Lubuk Baja dan di pusat pemerintah Batam Center, Batam mulai tahun 2011. Dan usahanya semakin baik.
(*)

Komentar Via Facebook :