https://www.batamnews.co.id

Ini Sejumlah Istana Kerajaan Melayu yang Pernah Berdiri di Lingga

Replika Istana Damnah yang berada di Komplek Kampung Damnah, Daik Lingga (Foto:Ruzi/Batamnews)

Lingga - Daik Lingga memang tidak begitu dikenal oleh seluruh masyarakat Indonesia bahkan sebagian masyarakat Kepulauan Riau.

Namun, Kota Daik yang berada di Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau ini ternyata pernah menjadi pusat kerajaan Melayu kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang selama lebih kurang 114 tahun.

Bahkan, cikal bakal Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa berasal dari bahasa Melayu. Selama 114 tahun menjadi pusat kerajaan Melayu, pastinya banyak istana-istana megah yang pernah berdiri pada masa itu di Daik Lingga.

Pemerhati Sejarah dan Budaya di Daik, Lazuardy mengatakan, selama pemerintahan kesultanan Riau-Lingga di Kabupaten Kepulauan ini, sudah pernah berdiri 6 istana kesultanan.

Istana-istana tersebut yakni, Istana Dalam atau Pangkalan Kenanga, Istana Kota Baru atau Kota Batu, Istana Damnah, Istana Robat, Bilik 44 serta Istana Kolam.

"Untuk Bilik 44 ada juga yang menamakan istana tempat tinggal sultan, tapi belum selesai dibangun. Kemudian, Istana Kolam Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah, tapi ada yang menamakan tempat bersantai sultan," kata dia kepada Batamnews.co.id, Kamis (26/7/2018).

Dia menjelaskan, Istana Kenanga dulunya berdiri di Kampung Pahang, Kelurahan Daik yang terletak diantara Kuala Sungai Sepincan. Istana ini diyakini berdiri semasa Sultan Mahmud Riayat Syah (1761-1812) dan merupakan istana yang pertama.

Kemudian, ada Istana Kota Baru yang perencanaannya dibuat pada masa Sultan Muhammad Syah (1832-1841) dan dibangun semasa Sultan Mahmud Muzzafar Syah (1841-1857) yang lokasinya berada diantara Kampung Damnah dan Kampung Robat.

"Kalau Istana Damnah, istana ini berdiri di Kampung Damnah semasa Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah memerintah (1857-1883) yakni tahun 1860," ujarnya.

Lanjut dia, untuk Istana Robat yang berada di Kampung Robat berdiri semasa Yang Dipertuan Muda (YDM) Riau X, Raja Muhammad Yusuf (1858-1899), yakni tidak beberapa lama dengan pembangunan Istana Damnah.

Selanjutnya, Bilik 44 yang juga berada di Kampung Damnah, perencanaan dibuat pada masa Sultan Muhammad, tapi dibangun semasa Sultan Mahmud Muzzafar Syah. Namun sayangnya, bangunan tersebut tidak selesai dibangun.

Sedangkan yang terakhir yakni Istana Kolam yang berada di Kampung Robat. Istana yang didirikan Sultan Abdul Rahman Muazzam Syah ini, diketahui juga merupakan tempat bersantai sultan.

"Itulah tempat yang diyakini para narasumber baik yang masih tersisa maupun hanya tinggal lokasi saja. Sekarang hanya tinggal tapak situs, sedangkan yang lain hanya tinggal lokasi dan kolam," katanya.

Diketahui, runtuhnya istana peninggalan kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang itu, ada beberapa sumber lisan menyebutkan karena ditinggalkan begitu saja dan sebagian dirusak oleh cuaca dan faktor lainnya.

Namun, jika berkunjung ke Daik Lingga, situs-situs sejarah peninggalan kesultanan tersebut masih dapat di lihat.

(ruz)