https://www.batamnews.co.id

Cara Gus Yahya Kenalkan Islam di Israel

Yahya Cholil Staquf (Foto: Detik.com)

BATAMNEWS.CO.ID, Jakarta - Yahya Cholil Staquf menjadi narasumber dalam forum yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC)  di Israel, Minggu (10/6/2018). Dalam forum itu, Gus Yahya memperkenalkan agama Islam yang mengajarkan rahmah atau kasih sayang.

Kehadiran pria yang akrab disapa Gus Yahya itu adalah untuk meneruskan perjuangan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) untuk masa depan yang panjang untuk peradaban manusia.

"Jadi Presiden Abdurrahman Wahid telah melakukan bagiannya dalam mengejar visi dan sekarang giliran generasi penerusnya untuk meneruskan pekerjaannya. Kami beruntung, terima kasih kepada Presiden Abdurrahman Wahid bahwa kita meraih perbaikan dalam tugas kita dan kita sekarang melihat lebih jelas hasil dari bagian tugas tersebut," kata Anggota Wantimpres yang juga Katib Aam Nahdlatul Ulama (NU) tersebut.

Jalan rahmah

Dalam forum itu, Gus Yahya memperkenalkan cara Islam untuk melawan ekstremisme. Yahya lalu mengutip ayat Alquran bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (QS 13:11).

Gus Yahya lalu melanjutkan paparannya bahwa selama ini umat beragama berkonflik memakai sumber daya, ilmu pengetahuan, dan lainnya hanya untuk mengalahkan sesamanya. Islam punya cara sederhana untuk mengubah situasi ini.

"Saya pikir sekarang ada cara sederhana, pilihan yang sangat mendasar yang memberikan kita kesempatan adalah tentang apa yang dalam Islam disebut 'rahmah', yang berarti kasih sayang dan menyayangi sesama," ujarnya.

Gus Yahya melanjutkan, mengapa harus rahmah, karena awal mula sesuatu, setiap hal baik, adalah rahmah. Jika memilih jalan rahmah, keadilan bisa dibicarakan, karena keadilan bukan semata tentang cara mendapatkannya.

Tetapi, kemauan untuk memberikan keadilan untuk sesama. Jika orang-orang tak punya rahmah, tak punya kasih sayang kepada sesama, masyarakat tak akan pernah mau memberikan keadilan kepada sesama.

"Jika saya bisa meminta kepada dunia, saya ingin meminta dunia, ayo kita pilih jalan rahmah!" tutur Yahya, yang kemudian disambut tepuk tangan meriah hadirin dalam forum itu.

Hubungan harmonis antar agama.

Di dalam forum tersebut, Gus Yahya juga menyampaikan bahwa Indonesia memiliki kearifan lokal asli yang membantu masyarakat untuk mengembangkan hubungan harmonis di antara lingkungan heterogen, namun tetap berpegangan dengan ajaran agama, termasuk Islam.

Menurut Gus Yahya, saat ini yang sedang dihadapi bersama adalah konflik di mana-mana dalam belahan dunia berbeda. Pada konflik-konflik itu hampir semua menggunakan agama sebagai justifikasi atau senjata.

"Sekarang kita menghadapi pertanyaan, 'apakah kita ingin ini berlanjut atau kita mau masa depan alternatif?' Tak ada orang yang bertahan dalam situasi ini, setiap orang harus punya cara lain untuk menghadapi sesuatu," ujarnya.

Gus Yahya melanjutkan, umat beragama, harus bertanya pada diri sendiri.

"apakah ini benar-benar fungsi agama, apa yang orang lakukan sekarang?' atau 'adakah cara lain agar agama berfungsi untuk menyajikan solusi untuk atasi konflik?", katanya lagi.

Ketika ditanya pendapatnya sebagai pribadi mengenai hubungan Islam dengan Yahudi, Gus Yahya berusaha menjelaskan dengan hati-hati. Ia berusaha fokus dengan tujuannya di forum itu untuk membangun hubungan harmonis antar umat beragama.

Dengan berusaha menghindari pembahasan issue-issue sensitif yang dapat merusak misinya itu, Gus Yahya mengatakan hubungan antara Islam dan Yahudi adalah fluktuatif.

Gus Yahya berusaha menjelaskan  hubungan Islam dengan Yahudi dengan menggunakan pendekatan sejarah.

"Kadang berhubungan dekat, tapi di sisi lain dari sejarah, ada banyak konflik dan tensi. Secara umum, kita tahu bahwa kita punya masalah dalam hubungan antara Islam dan Yahudi. Permasalahan--sebagian dari permasalahan--ada dalam pengajaran agama itu sendiri," jelasnya.

Lalu, Gus Yahya melanjutkan, bahwa yang terpenting saat ini adalah memahami fungsi agama untuk kehidupan nyata dan membangun hubungan harmonis antar agama.

"Sekarang konteks terkini kita dari realitas, umat beragama--termasuk Islam dan Yahudi--harus menemukan cara baru untuk, pertama, memahami fungsi agama untuk kehidupan nyata dan kedua, menemukan interpretasi moral baru dari agama yang bisa membuat kita menuntun umat beragama lebih memiliki hubungan harmonis," tutur Yahya.

Pernyataan Gus Yahya di atas merupakan jawaban-jawabannya atas pertanyaan Direktur Internasional AJC bidang Hubungan Inter-agama Rabbi David Rosen selaku moderator acara tentang kesan menghadiri pertemuan di Yerusalem ini.

Rekaman video dialog antara David dengan Gus Yahya tersebut dirilis AJC Global  lewat kanal YouTube. Sejauh ini, AJC baru mengunggah video itu saja yang menampilkan diskusi dengan Gus Yahya.

David memberikan konklusi. Menurut David, ada kesamaan di antara ajaran agama, yakni tentang kasih sayang.

David berharap pemikiran Yahya bisa jadi rujukan umat Islam seluruh dunia untuk menuju rekonsiliasi dan perdamaian.

Adapun usai berbicara di depan forum, Yahya kepada NU Online menyatakan dia ke Israel untuk berbicara mengenai perjuangan terhadap Palestina.

(deb)