https://www.batamnews.co.id

Ekonomi Batam Genting, Ribuan Orang Eksodus

Sejumlah orang meninggalkan Batam beberapa waktu lalu (Foto: Batamnews)

BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Ribuan warga Batam diperkirakan memutuskan cabut dari Batam setiap bulannya. Angkanya setiap bulan di atas seribu orang. Mereka meninggalkan Batam dengan berbagai alasan. Yang pasti, terkait memburuknya ekonomi dan PHK menjadi salah satu alasan utamanya.

Data tersebut tercatat di Dinas Kependudukan Kota Batam. Itu belum termasuk yang tidak melaporkan kepindahannya ke kota lain.

"Bulan Mei jumlahnya meningkat," ujar Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Pendaftarana Penduduk Disdukcapil Batam, Muhammad Teddy Nuh kepada Batamnews, Selasa (13/6/2017).

Berdasarkan data yang diperoleh, di Bulan April jumlah surat keterangan pindah sebanyak 1.190 lembar sementara yang datang ke Batam berkisar 1.985 orang. 

Baca juga:

Mitos Merantau ke BATAM, Bila Anda Tiba Anda Menyesal?

Sejumlah Pemudik Curhat Tak Kembali Lagi ke Batam

BJ Habibie Setuju Batam Pisah dari Kepulauan Riau, Jadi Provinsi Istimewa

 

Kepindahan warga Batam ini secara besar-besaran dari Batam ini diduga tak lepas dari deraan PHK dan ekonomi yang kian lesu. Bank Indonesia mencatat, di triwulan pertama ini, pertumbuhan ekonomi di Kepulauan Riau hanya 2,02 persen.

Terburuk di Sumatera. Grafik pertumbuhan ekonomi ini dari tahun ke tahun menunjukkan tren negatif. Di tahun sebelumnya, 2016, pertumbuhan ekonomi sekitar 4 persen lebih, dan di tahun 2015 sekitar 5 persen.

Data tersebut tentu saja tidak dibuat-buat. Bank Indonesia memiliki indikator tersendiri dalam melakukan survei.

Selain itu, Dinas Tenaga Kerja Kota Batam mencatat ada sekitar 23 perusahaan yang tutup serta hengkang di tahun 2017. Jumlah pengangguran juga tak sedikit mencapai 200 ribu orang. Hampir sekitar 20 persen lebih jumlah penduduk Batam yang kini mencapai 1,2 juta jiwa.

Tak heran, ribuan orang yang kehilangan harapan, memutuskan untuk pulang kampung dan tak kembali lagi. ”Ya, beberapa minggu ini jumlah keluar batam mengalami kenaikan dari biasa," kata Teddy Nur.

Teddy Nur tak dapat menampik, kepergian orang-orang tersebut keluar Batam, tak lepas dari kondisi ekonomi saat ini dan pengangguran. 

Baca juga:

Ketua Apindo: Selamat Tinggal Batam...

Ekonomi Batam Kian Terpuruk, Apindo Kepri: Ini Lonceng Kematian

 

"Biasanya pendatang yang paling banyak. Di bulan ini malah yang keluar yang naik. Dengan alasan yang beragam," katanya.

Ia mengungkapkan, dalam satu hari pemohon yang mengurus surat keluar Batam rata-rata 80 hingga 90 berkas. Sementara yang masuk ke Batam, berkisar 80 hingga 100 orang. Mereka yang masuk bisa jadi tengah mencari pekerjaan dan tidak mengetahui kondisi Batam.

Pengajuan surat pindah dari kota Batam lebih banyak akan menuju pulau Jawa. 

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Kepri, Akhmad Ma’ruf Maulana, juga tak lepas dari keluhan. Kondisi ekonomi saat ini terburuk sepanjang sejarah Batam atau Kepri. 

“Ini sejarah terburuk pertumbuhan ekonomi,” ujar pria yang akrab disapa Ma’ruf itu. Maruf tak segan-segan, kebijakan yang diambil BP Batam serta tidak adanya upaya dari pemerintah Kota Batam dan Provinsi Kepri memperbaiki hal itu semakin memperparah kondisi dan iklim investasi.

“Malah mereka asyik ribut saja terus,” ujar Ma’ruf. Saat ini, kata Ma’ruf, pengusaha juga merasa dipersulit, terutama pengusaha lokal dalam mengurus sejumlah perizinan dan birokrasi. “Uang habis buat ngurus itu aja,” ujar dia.

Belum lagi kritikan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri, Ir Cahya, terhadap pemerintah. Tak hanya BP Batam, namun kebijakan Gubernur Kepri terasa kian memberatkan. Ujung-ujungnya, yang menjadi korban tak hanya pengusaha, tapi ribuan tenaga kerja yang bergantung kepada pengusaha.

“Para pemimpin pemerintah, kami sudah tak sanggup lagi,” ujar Cahya seolah mengibarkan bendera putih. Menurut Cahya, banyak kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan pengusaha. Baik dari segi tarif lahan serta layanan lainnya, kenaikan pajak, rencana kenaikan tarif air bersih, kenaikan UMS, UMK, dan lainnya.

“Siapa yang tanggungjawab kalau pengangguran sampai ratusan ribu?” ujar Cahya. Menurutnya, lapangan pekerjaan sudah pasti diciptakan para pengusaha, sementara, ruang gerak pengusaha seolah semakin dipersulit.

“Batam di ambang kolaps,” ujar Cahya. Cahya meyakini, bila kondisi ini dibiarkan terus menerus, bukan tidak mungkin, akan semakin memperburuk keadaan. Pengangguran akan semakin meningkat. Investasi memburuk. Tak heran, ekonomi pun bakalan anjlok lebih parah.***

(snw/ret)