Penyelundupan Beras Masih Berlangsung, Pelabuhan Batuampar Paling Favorit
Pelabuhan Batuampar yang terkenal masih rawan penyelundupan beras ke Batam (Foto: Batamnews)
BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Aktivitas penyelundupan sembako impor masih terus berangsung. Salah satunya adalah beras.
Pantauan di lapangan, masih banyak ditemukan beras lokal yang dioplos dengan beras.
Aktivitas ini sudah jamak terjadi. Beras impor ilegal itu diduga masuk melalui pelabuhan resmi Batuampar, Batam,
“Masuk melalui pelabuhan resmi dengan menggunakan kontainer,” ujar seorang sumber kepada batamnews.co.id, baru-baru ini.
Berdasarkan informasi yang dihimpun batamnews.co.id, volume beras yang diselundupkan pun beragam. Paling sedikit 5 kontainer yang berisi sekitar 50 ton per kontainernya.
Modus yang digunakan bermain mata dengan para petugas terkait di lapangan.
“Kalau tidak begitu mana bisa lolos,” ujar sumber itu. Lagi pula pada saat tertangkap kasus hukum terhadap penyelundupan beras impor ilegal itu pun tak jelas.
Beberapa bulan lalu, Bakamla RI menangkap dua kapal bermuatan beras. Kapal tersebut sempat diamankan di pelabuhan Sekupang. Kapal tersebut bermuatan 30 ton beras.
Selain Bakamla, Lanal Batam juga menangkap kapal penyelundup bermuatan sekitar 90 ton di perairan Batam Centre.
Kodim 0316 Batam juga sempat mengamankan beras impor ilegal di Batuampar seberat 3 ton.
Namun ironinya, perkembangan penyelidikan terhadap kasus-kasus tersebut tak jelas.
Sejauh ini belum ada kasus yang naik hingga ke Pengadilan Negeri Batam.
Ketua Komisi II DPRD Kota Batam Yudi Kurnain juga menilai ada mafia penyelundupan yang hingga saat ini tak tersentuh.
Ada lima pelaku besar di Batam yang masih terus bermain dengan para oknum aparat keamanan terkait.
Bahkan Yudi menyebutkan sempat memergoki kontainer dan kapal berisi beras yang keluar dari pelabuhan resmi di Batam, namun penanangan terhadap penyelundupan itu terkesan tak serius.
Kepala Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Khusus Kepri Parjiya menepis adanya pejabat Bea Cukai terlibat dengan para penyelundupan untuk meloloskan barang-barang tersebut.
Parjiya justru meminta media menunjukkan buktinya. "Mana buktinya." ujar Parjiya.
Penyelundupan sembako jenis beras ini memang sangat menggiurkan. Para pelaku usaha meraup untung yang sangat besar.
Informasinya, di Vietnam atau Thailand, pemasok beras impor hanya membeli beras seharga paling mahal Rp 4000 per kilogram, lantas dijual di Batam atau Kepri hingga Rp 15 ribu per kg.
Jadi tak heran, para pelaku penyelundupan beras ini memang dikenal bergelimangan harta dan dengan mudah menyuap oknum-oknum aparat.
[snw]
Komentar Via Facebook :