7 Fakta Seputaran Pelaksanaan MTQ Natuna yang Sangat Mencemaskan
Jembatan rusak yang membahayakan pengendara menuju lokasi pelaksanaan MTQ Natuna (Foto: Fox/Batamnews)
BATAMNEWS.CO.ID, Natuna - Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-VIII tingkat Kabupaten Natuna yang diselenggarakan di Kecamatan Bunguran Utara disebut-sebut sebagai MTQ paling terberat secara fisik oleh para kafilah yang berlomba dalam berbagai cabang ini.
MTQ digelar pada 25 April - 1 Mei, 2016 di Desa Kelarik. Para kafilah dari berbagai kecamatan ini, tak hanya menyiapkan mental saja, namun fisik dan stamina prima. Bahkan MTQ ke-VIII Natuna ini disebut banyak orang gelaran yang berbahaya untuk kesehatan.
Berikut 7 fakta yang bisa jadi masalah pelaksanaan MTQ ke-VIII tingkat Kabupaten Natuna.
1. Jembatan kayu berbahaya menuju lokasi
MTQ digelar Kecamatan Bunguran Utara yakni di Desa Kelarik yang berjarak 75 Kilometer dari Ranai (Ibukota Natuna). Para kafilah dari Kecamatan lain di Pulau Bunguran Besar harus melewati jalan tanah merah berbatu sejauh sekitar 30 kilometer dari Batubi untuk sampai di Kelarik. Beberapa jembatan kayu keropos harus dilewati mobil dan sepedamotor. Kendati Dinas PU sempat melakukan perbaikan, namun tetap saja jembatan tersebut berbahaya.
2. Debu beterbangan mengancam pernafasan
Jalan tanah menuju Desa Kelarik merupakan jalan yang baru dibuka dan dirintis menembus hutan. Tanah merah berbatu menuju Desa ini sejauh 30 kilometer lebih itu jika dilewati kendaraan menimbulkan debu pekat yang beterbangan. Tidak ada body mobil yang tidak kotor jika sampai di desa ini.
Debu menjadi 'makanan sehari-hari' yang akan mengganggu pernafasan para kafilah. Begitupun di seputaran Desa kelarik saat menuju venue-venue perlombaan. Tak ayal banyak para kafilah yang membawa masker untuk bernafas
3. Minim Air
Air menjadi sesuatu yang mahal di lokasi ini. Minimnya sumber air membuat ratusan kafilah harus memutar otak untuk mandi, berwudu, hingga BAB. Saking sulitnya air, kafilah harus merogoh kocek 10 ribu sekali mandi di toilet di dekat Astaka MTQ. Mereka bisa saja terancam penyakit kulit. Rumah-rumah warga hanya punya persediaan air tanah terbatas. Tidak ada PDAM di lokasi ini. Untungnya pihak TNI AL Ranai berbaik hati secara sukarela membantu dalam distribusi air bersih dan hingga makanan untuk kafilah.
4. Menginap di rumah warga
Para kafilah dari berbagai kecamatan di Natuna hanya menginap di rumah-rumah warga yang sudah ditetapkan sebagai tempat menginap. Pasalnya tempat penginapan umum sangat minim di Desa ini, dan biasanya hanya diisi pejabat daerah yang turut dalam pembukaan dan penutupan.
5. Telekomunikasi selular blank
Jaringan telekomunikasi di Desa Kelarik bisa dibilang susah. Hanya beberapa titik lokasi yang bisa digunakan untuk menelpon, hanya bisa untuk mengirim SMS. Terkadang pesan yang terkirim terpending beberapa lama.
6. Krisis listrik
Listrik desa ini hanya hidup 12 jam dari pukul 18.00 sore sampai pukul 07.00 pagi. Panitia MTQ menyediakan genset untuk lokasi dan tempat menginap para kafilah.
7. Angkutan umum minim
Transportasi umum di sini bisa dikatakan tidak ada. Para kafilah jika ingin berpergian hanya mengandalkan sepedamotor yang dimiliki warga sekitar atau kendaraan operasional yang diplot untuk tiap wakil kecamatan. Namun itu digunakan untuk hal-hal penting
[fox]
Komentar Via Facebook :