Pedagang Somai di Batam Terpukul Isu Ikan Sapu-sapu, Omzet Anjlok Drastis
Toni (32) Pedagang somai ketika diwawancarai di Batam. Dia mengeluh dagangannya sepi, omzet menurun, Minggu, (26/4/26) (Jamaludin/Batamnews)
Batam, Batamnews – Kabar tentang pemberantasan ikan sapu-sapu di berbagai perairan Indonesia rupanya membawa dampak tak terduga bagi pedagang somai di Batam.
Alih-alih hanya menyasar pelaku usaha yang diduga menggunakan ikan invasif itu sebagai bahan baku, pemberitaan yang meluas justru membuat para pedagang somai keliling ketar-ketir. Omzet mereka merosot tajam karena pembeli enggan mendekati gerobak.
Pemerintah bersama masyarakat memang tengah gencar mengendalikan populasi ikan sapu-sapu. Ikan asal Amerika Selatan ini dinilai merugikan karena merusak ekosistem perairan, menggali dasar sungai, serta mengancam ikan lokal. Di berbagai daerah, ikan yang ditangkap massal itu kemudian dikubur.
Baca juga: Luki Zaiman Prawira Diganti Besok, Siapa Sekda Definitif Kepri?
Namun, pemberitaan yang menyebut bahwa ikan sapu-sapu diolah menjadi somai dan makanan lain membuat publik resah. Apalagi setelah lima penjual daging ikan sapu-sapu diamankan Satpol PP di bantaran Kali Ciliwung, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Pedagang somai di Batam yang tak menggunakan ikan sapu-sapu pun ikut terkena imbasnya.
Toni (32), pedagang somai keliling asal Sagulung, mengeluh pendapatannya turun drastis. Sebelum isu ini merebak, dagangannya selalu ludes setiap hari. Kini, dalam sehari ia hanya menjual untuk 10 hingga 15 orang.
"Sekarang paling hanya 10 orang yang beli. Kalau ramai, paling 15 orang sehari," ujar Toni, Minggu, 26 April 2026.
Ia berkeliling dari Sagulung hingga Batu Aji sambil mendorong gerobaknya. Meski jangkauannya luas, pembeli tetap sepi.
"Saya pakai ikan gabus campur ayam, kadang juga pakai ikan bandeng. Tidak pernah pakai ikan sapu-sapu," tegas Toni.
Dengan nada berharap, ia meminta masyarakat tak menyamaratakan pedagang somai. "Kami ini hanya cari makan. Jangan sampai semua pedagang kena dampaknya. Media juga tolong lebih bijak menyampaikan informasi."
Dari sisi kesehatan, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam, Didi Kusmarjadi menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu (pleco) sebenarnya tidak beracun. Namun, yang menjadi masalah adalah habitatnya.
"Ikan ini di Indonesia sering ditemukan di perairan kotor, drainase, atau sungai tercemar. Berisiko mengandung logam berat, bakteri, dan zat berbahaya lainnya. Jadi bukan ikannya yang berbahaya, tetapi potensi kontaminasi dari habitatnya," kata Didi.
Ia mencontohkan, di Amazon, Brasil, ikan ini hidup di ekosistem alami yang bersih sehingga aman dikonsumsi. Sementara di Indonesia, banyak ditemukan di selokan dan kanal perkotaan dengan limbah domestik.
Baca juga: Sekda Lingga Cuci Darah Tiap Pekan dan Siap Potong TPP ASN 50% demi Bayar Hutang Kontraktor
Secara gizi, ikan sapu-sapu memang mengandung protein, namun tekstur dagingnya keras dan tak umum dikonsumsi. Didi menegaskan bahwa ikan ini tidak direkomendasikan untuk konsumsi rutin, apalagi diolah massal seperti somai atau bakso.
"Kecuali berasal dari budidaya atau perairan yang benar-benar terkontrol dan bersih," pungkasnya. (Jam)
Komentar Via Facebook :