Komet Langka Muncul Usai 170.000 Tahun Menghilang, Bisa Dilihat dengan Mata Telanjang
Tangkapan layar sebuah video memperlihatkan benda diduga komet di wilayah Kupang, Nusa Tenggara Timur.
Jakarta, Batamnews – Sebuah komet yang tak terlihat selama 170.000 tahun kini kembali muncul dan dapat disaksikan dengan mata telanjang, di Indonesia fenomena tersebut sempat terlihat di wilayah Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang di posting oleh akun Thereza Ryu pada 11 April 2026, pukul 19:30 WITA.
Pengunjung dari ujung terluar tata surya ini akan memberikan pertunjukan di langit sebelum fajar sepanjang April.
Komet bernama C/2025 R3 (Pan-STARRS) ini berasal dari awan Oort, wilayah terjauh di tata surya. Komet menyelesaikan satu orbit setiap 170.000 tahun. Pada 11 April lalu, komet ini tercatat memiliki magnitudo 5,1 dan sudah terlihat tanpa alat bantu.
Komet pertama kali ditemukan pada 8 September 2025 oleh teleskop survei Pan-STARRS di Haleakala, Hawaii. Sejak itu, komet terus mencerah saat bergerak menuju bagian dalam tata surya.
Baca juga: Wakil Kepala BP Batam Turun Tangan Tindak Aktivitas Tambang Pasir Ilegal Kampung Jabi
Saat ini, komet melayang di konstelasi Pegasus. Posisinya rendah di langit timur, sekitar 90 menit sebelum matahari terbit. Untuk saat ini, teropong memberikan pandangan terbaik.
Namun, perkiraan menunjukkan komet bisa mencapai magnitudo +3 atau lebih terang saat mendekati titik terdekat dengan Matahari (perihelion) pada 19 April. Beberapa model optimis bahkan memprediksi puncak kecerahannya mencapai magnitudo -0,5.
Nick James, kepala bagian komet di Asosiasi Astronomi Inggris, mengatakan waktu terbaik untuk melihat adalah dalam sepekan ke depan.
"Jika Anda ingin melihat komet, kesempatan terbaik Anda adalah sekitar seminggu ke depan saat komet semakin terang, tetapi komet tetap dapat diamati di langit yang relatif gelap," ujarnya kepada Space.com.
"Anda perlu bangun pagi-pagi sekali, beberapa jam sebelum matahari terbit, dan memiliki cakrawala timur yang rendah dan bagus."
Beberapa pagi menjadi momen istimewa. Pada 14 April, bulan sabit tipis akan tampak di dekat Merkurius. Tanggal 17 hingga 19 April, sekitar bulan baru, langit paling gelap bertepatan dengan puncak kecerahan komet.
Setelah perihelion, komet akan menukik menuju silau Matahari dan sulit dilihat dari belahan utara. Komet akan mencapai jarak terdekat dengan Bumi pada 26 April, sekitar 0,49 unit astronomi. Namun, saat itu posisinya hanya beberapa derajat dari Matahari.
Baca juga: KPK Ungkap Skema Permintaan Rp5 Miliar Bupati Tulungagung Gatut Sunu ke Kepala OPD
Pengamat di Belahan Bumi Selatan baru bisa menyaksikan pada akhir April dan Mei, saat komet muncul kembali sebagai objek di malam hari.
Para astronom mencatat, C/2025 R3 berada pada lintasan hiperbolik. Kemungkinan besar komet ini akan terlempar keluar dari tata surya setelah melewati titik ini. Artinya, ini bukan hanya peristiwa sekali dalam 170.000 tahun, tetapi bisa menjadi kali terakhir siapa pun melihatnya.

Komentar Via Facebook :