1.900 Tewas di Iran, Trump Beri Ultimatum Malam Ini: "Peradaban Akan Hancur"

1.900 Tewas di Iran, Trump Beri Ultimatum Malam Ini: "Peradaban Akan Hancur"

Kondisi perang Iran.

Nurjali

Jakarta, Batamnews – Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan ancaman paling kerasnya terhadap Iran, menyatakan bahwa "seluruh peradaban akan mati malam ini dan tidak akan pernah bisa dihidupkan kembali" jika Teheran menolak membuka kembali Selat Hormuz sebelum tenggat waktu Selasa, 7 April 2026 pukul 20.00 waktu Timur.

Ultimatum itu disampaikan pada hari ke-38 kampanye militer gabungan AS-Israel terhadap Iran, yang dimulai 28 Februari lalu dengan nama sandi "Operasi Epic Fury" dari Gedung Putih.

Selasa pagi, serangan udara menghantam dua jembatan dan sebuah stasiun kereta api di Iran. Sebagai respons, pejabat Iran menyerukan warga muda membentuk rantai manusia di sekitar pembangkit listrik yang terancam dihancurkan. 

Baca juga: Trump Sesumbar Ratakan Infrastruktur Iran dalam 4 Jam, Setiap Jembatan Akan Hancur Lebur

Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengunggah di X bahwa 14 juta warga Iran telah menjadi relawan perang, dan ia sendiri akan bergabung.

Konflik yang awalnya menargetkan fasilitas nuklir dan militer Iran kini berubah menjadi kebuntuan di Selat Hormuz. Pada masa damai, sekitar seperlima minyak dunia melintasi selat itu. Kini Iran mencekik jalur pelayaran, membuat harga minyak mentah Brent melonjak di atas 108 dolar AS per barel—naik sekitar 50 persen sejak perang dimulai.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menyatakan yakin Iran bernegosiasi "dengan itikad baik" namun tetap mempertahankan tenggat waktu. 

"Jika Anda pikir saya akan mengizinkan mereka memiliki senjata nuklir—itu tidak akan terjadi," ujarnya. 

Di Truth Social, ia memposting bahwa militer AS "dapat menghancurkan seluruh Iran dalam satu malam" dan menambahkan, "malam itu mungkin besok malam."

Senin, 6 April 2026 lalu, Iran menolak usulan gencatan senjata 45 hari dan sebaliknya menuntut penghentian permanen permusuhan, pencabutan sanksi, serta jalur aman di selat tersebut. Mediator dari Pakistan, Mesir, dan Turki digambarkan "berpacu dengan waktu" untuk mencapai kompromi, menurut seorang pejabat yang mengetahui perundingan.

Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menyatakan serangan terhadap infrastruktur sipil dan energi "dilarang oleh aturan perang dan hukum internasional." Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengeluarkan peringatan serupa. Namun Trump menjawab bahwa dia "sama sekali tidak" khawatir melakukan kejahatan perang.

Baca juga: Siap-Siap Rogoh Kocek Lebih Dalam, Tarif Pesawat Dunia Bakal Melejit Mulai April Akibat Perang

Lebih dari 1.900 orang tewas di Iran sejak perang dimulai. Korban tambahan dilaporkan di Lebanon, Israel, negara-negara Teluk Arab, dan di antara anggota militer AS. 

Garda Revolusi Iran memperingatkan Selasa ini bahwa mereka akan "merampas minyak dan gas kawasan itu dari AS dan sekutunya selama bertahun-tahun" serta memperluas serangan di seluruh Teluk jika Trump benar-benar melaksanakan ancamannya.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :