MUI Imbau Masyarakat Tak Tentukan Idulfitri 2026 Sendiri, Tunggu Sidang Isbat Pemerintah
ilustrasi Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Jakarta, Batamnews – Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat untuk bersabar menanti hasil sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idulfitri 2026. Imbauan ini menyusul potensi perbedaan penetapan hari raya akibat posisi hilal yang masih tipis.
Wakil Ketua Umum MUI, KH. Cholil Nafis, menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah melalui sidang isbat. Penentuan awal Syawal, kata dia, harus menunggu hasil rukyat atau pemantauan hilal di lapangan.
"Penentuan awal Syawal tetap menunggu hasil rukyat di lapangan dan keputusan sidang isbat pemerintah. Imbauan ini merujuk pada Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah," ujar Gus Cholil dalam keterangan resmi yang dikutip dari situs MUI, Selasa, 17 Maret 2026.
Baca juga: H-3 Lebaran, Dua Kabupaten di Kepri Gagal Bayar THR ASN Sebelum Idul Fitri 2026
Secara astronomi, ijtimak atau konjungsi bulan diperkirakan terjadi pada pagi hari tanggal 19 Maret 2026. Setelah matahari terbenam di hari yang sama, posisi hilal sejatinya sudah berada di atas ufuk.
Namun, ketinggiannya di seluruh wilayah Indonesia masih tergolong rendah, rata-rata hanya berkisar satu hingga dua derajat. Kondisi ini membuat hilal sulit terlihat dengan mata telanjang. Waktu kemunculannya pun sangat singkat setelah matahari terbenam.
Gus Cholil menjelaskan, posisi hilal paling optimal di Indonesia berada di wilayah Aceh. Meski demikian, ketinggiannya masih di bawah standar visibilitas yang dipersyaratkan.
"Kondisi paling tinggi berada di Aceh karena wilayah yang posisi hilalnya paling baik di Indonesia adalah Aceh. Dengan tinggi hilal sekitar 2°51' dan elongasi sekitar 6°09'," terangnya.
Indonesia sendiri menggunakan kriteria imkanur rukyat MABIMS dalam penentuan awal bulan Hijriah. Standar yang disepakati negara-negara Asia Tenggara ini mensyaratkan tinggi hilal minimal tiga derajat dan elongasi mencapai 6,4 derajat agar bulan sabit pertama dapat terlihat.
Sementara itu, Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam Muhammadiyah telah lebih awal mengumumkan bahwa Idulfitri 1447 H jatuh pada 20 Maret 2026. Penetapan tersebut menggunakan metode hisab hakiki dengan kriteria kalender hijriah global tunggal.
Senada dengan MUI, Peneliti Ahli Utama Astronomi-Astrofisika dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, memprediksi Idulfitri kemungkinan besar akan jatuh pada 21 Maret 2026. Prediksi ini didasarkan pada belum terpenuhinya kriteria baru MABIMS.
Baca juga: Sore Ramadan, Wabup Bintan Temui Lansia di Kampung Pisang
"Fakta astronomi, pada saat Maghrib 19 Maret 2026 di wilayah Asia Tenggara, hilal belum memenuhi kriteria baru MABIMS," kata Thomas kepada wartawan.
Menanggapi hal ini, pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia akan tetap menggelar sidang isbat penetapan 1 Syawal 1447 H.
Sidang yang akan melibatkan para ahli astronomi, perwakilan ormas Islam, dan pihak terkait lainnya itu dijadwalkan berlangsung pada 19 Maret 2026 di Jakarta. Masyarakat diimbau untuk menunggu keputusan resmi pemerintah sebagai bentuk persatuan dan menjaga ukhuwah islamiyah.

Komentar Via Facebook :