Konflik dengan AS–Israel Memanas, Mojtaba Khamenei Resmi Jadi Pemimpin Tertinggi Iran
Mojtaba Khemenei. (Foto: istimewa)
Teheran, Batamnews - Mojtaba Khamenei dilaporkan resmi terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran menggantikan ayahnya, mendiang Ayatollah Ali Khamenei. Penunjukan tersebut diumumkan oleh Majelis Ahli Iran pada Minggu (8/3/2026) malam waktu setempat.
Media pemerintah Iran menyebut keputusan itu diambil setelah Majelis Ahli mencapai kesepakatan melalui proses kajian yang disebut berlangsung secara ekstensif dan menyeluruh. Majelis Ahli kemudian secara resmi mengumumkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin negara sekaligus Pemimpin Tertinggi Iran.
Majelis juga menyerukan rakyat Iran untuk berjanji setia kepada kepemimpinan baru, serta menekankan pentingnya menjaga kohesi, persatuan, dan keselarasan di tengah situasi yang berkembang.
Sebelumnya, seorang ulama senior Iran yang ikut dalam proses pemungutan suara, Ayatollah Hosseinali Eshkevari, telah mengisyaratkan hasil tersebut.
“Nama Khamenei akan terus berlanjut,” kata Eshkevari, salah satu dari 88 anggota Majelis Ahli, dalam video yang dipublikasikan media Iran.
“Pemungutan suara telah dilakukan dan akan segera diumumkan,” tambahnya.
Sejumlah sumber di Iran sebelumnya juga menyebut Mojtaba Khamenei menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan ayahnya. Jika terpilih, hal itu dinilai menandakan bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali kuat dalam pemerintahan Iran.
Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 dan dikenal sebagai ulama Syiah yang memiliki hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Meski tidak pernah memegang jabatan publik formal, dalam dua dekade terakhir ia disebut memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan Iran, terutama dalam urusan politik domestik dan keamanan.
Konflik Iran dengan AS dan Israel Memanas
Di tengah pergantian kepemimpinan tersebut, konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel juga terus meningkat.
Militer Amerika Serikat melaporkan seorang warga Amerika ketujuh meninggal akibat luka yang diderita dalam serangan balasan Iran pekan lalu. Kabar itu muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump memimpin pemulangan jenazah enam korban lainnya ke Amerika Serikat.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menegaskan bahwa Teheran tidak sedang mencari gencatan senjata dan akan menghukum para agresor, di tengah tekanan Trump agar Iran melakukan “penyerahan tanpa syarat”.
Trump sendiri menyatakan tidak sedang mencari negosiasi untuk mengakhiri konflik tersebut.
“Pada suatu titik, mungkin tidak akan ada siapa pun yang tersisa [di Iran] untuk mengatakan, ‘Kami menyerah’,” ujarnya di pesawat Air Force One.
Memasuki hari kesembilan kampanye militer AS dan Israel terhadap Iran, warga Teheran melaporkan asap hitam tebal menggantung di langit kota setelah serangan terhadap fasilitas penyimpanan minyak yang memicu kobaran api besar.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut serangan tersebut sebagai “fase baru yang berbahaya” dalam konflik dan menuduhnya sebagai kejahatan perang.
Selain itu, ketegangan juga meluas ke kawasan Teluk. Arab Saudi, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan Bahrain melaporkan serangan drone yang diduga berasal dari Iran.
Di Kuwait, dua petugas dilaporkan tewas akibat serangan tersebut. Uni Emirat Arab menyebut empat pekerja migran meninggal dan menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil menembak jatuh 16 rudal balistik serta 113 drone.
Bahrain juga melaporkan kerusakan material pada fasilitas desalinasi akibat serangan drone, sementara Arab Saudi menyatakan dua orang tewas dan 12 lainnya terluka setelah proyektil menghantam kawasan permukiman di kota Al-Kharj.
Konflik tersebut juga melibatkan Lebanon setelah kelompok Hizbullah yang didukung Iran meluncurkan roket dan drone ke Israel. Kementerian kesehatan Lebanon menyebut hampir 400 orang tewas akibat serangan Israel dalam sepekan terakhir.
Di tengah situasi itu, laporan media menyebut Amerika Serikat dan Israel juga membahas kemungkinan mengirim pasukan khusus ke Iran untuk mengamankan persediaan uranium yang sangat diperkaya.
Menurut Duta Besar Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, serangan AS dan Israel sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 1.332 warga sipil Iran dan melukai ribuan lainnya.
Sementara itu, serangan Iran dilaporkan menewaskan 10 orang di Israel dan sedikitnya enam personel militer Amerika Serikat. Iran juga mengklaim telah menyerang pangkalan militer AS di Kuwait, sementara Israel menyebut dua tentaranya tewas di Lebanon selatan.

Komentar Via Facebook :