Hilal Belum Terlihat, Kemenag: 1 Ramadan 1447 H Secara Hisab Jatuh 19 Februari 2026

Hilal Belum Terlihat, Kemenag: 1 Ramadan 1447 H Secara Hisab Jatuh 19 Februari 2026

Ilustrasi.

Rhuuzi Wiranata

Jakarta, Batamnews – Kementerian Agama (Kemenag) menyatakan hilal atau bulan sabit baru sebagai tanda memasuki 1 Ramadan 1447 Hijriah belum terlihat di wilayah Indonesia pada sore hari ini. Posisi hilal masih negatif atau berada di bawah ufuk setelah matahari terbenam.

Artinya, secara astronomis, hilal belum memenuhi kriteria visibilitas hilal (imkanur rukyat) yang digunakan Indonesia bersama negara-negara anggota MABIMS, yakni Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Kriteria MABIMS menetapkan ketinggian hilal minimal 3 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam dan elongasi atau jarak sudut bulan-matahari minimal 6,4 derajat. Namun, berdasarkan perhitungan, posisi hilal sore ini belum mencapai batas tersebut.

"Sehingga tanggal 1 Ramadan 1447 Hijriah, secara hisab ... MABIMS, jatuh pada hari Kamis 19 Februari 2026 Masehi, ini hisab sifatnya informatif, kita memerlukan konfirmasi, verifikasinya adalah rukyat, ya tentu saja nanti untuk bahan penetapan sidang isbat pada malam hari ini," kata anggota Tim Hisab Rukyat Kementerian Agama Cecep Nurwendaya dalam Seminar Sidang Isbat, di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).

Cecep menjelaskan, berdasarkan ilustrasi posisi bulan dan matahari di Jakarta Pusat pada 17 Februari, bulan terlambat melakukan gerak harian dibandingkan matahari sekitar 12 derajat per hari atau 0,5 derajat per jam.

"Matahari terbenam 17 Februari 2026 pukul 18.15.17 WIB umur Bulan Sabit 50 detik (hilal belum "lahir") 45 menit," ujarnya.

Pada hari yang sama, matahari terbit pukul 05.58 WIB. Sementara itu, ijtimak atau posisi saat bumi, bulan, dan matahari berada pada garis bujur astronomi yang sama terjadi pada 17 Februari pukul 19.01, dengan umur hilal 0 jam.

Meski secara hisab 1 Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, pemerintah tetap akan menetapkannya melalui sidang isbat. Penentuan awal bulan Hijriah, termasuk Ramadan, dapat dilakukan melalui dua metode, yakni hisab (perhitungan) dan rukyat (pengamatan langsung hilal).

Hisab menggunakan hitungan numerik-matematik untuk menetapkan awal bulan Hijriyah tanpa verifikasi faktual atau rukyat hilal. Dengan hisab, umat Islam dapat menghitung posisi geometris benda-benda langit untuk menentukan penjadwalan waktu di muka bumi, termasuk bulan kamariah yang berkaitan dengan ibadah.

Sementara itu, rukyat merupakan metode pemantauan dengan cara mengamati hilal secara langsung.

Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menggelar sidang isbat pemantauan hilal 1 Ramadan sore hari ini. Menteri Agama Nasaruddin Umar dijadwalkan akan mengumumkan hasil sidang tersebut.

Di sisi lain, PP Muhammadiyah telah lebih dahulu menetapkan 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026.

Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir meminta umat Islam menyikapi dengan cerdas dan tasamuh jika terjadi perbedaan awal puasa.

"Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri," kata Haedar pada Selasa (17/2/2026).

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :