Hadapi Hoaks Politik Berbasis Video, Puluhan Media Siber Ikuti Pelatihan OSINT AMSI
Foto Bersama Para Peserta Pelatihan Cek Fakta AMSI. (Foto. Batamnews.co.id).
Jakarta, Batamnews – Ancaman hoaks berbasis video buatan kecerdasan buatan (AI) kian nyata. Menanggapi hal ini, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bersama Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) menggelar Pelatihan Cek Fakta dan Open Source Intelligence (OSINT).
Pelatihan dua hari ini digelar di Hotel Grove Suite, Jakarta Selatan, pada Jumat dan Sabtu 6-7 Februari 2026, diikuti puluhan media siber anggota AMSI dari seluruh Indonesia.
Kegiatan ini merupakan respons atas masifnya peredaran disinformasi, terutama di momentum politik seperti pemilu. Kepala Bidang Bisnis AMSI, Yulis Setiawan, membuka fakta mengkhawatirkan.
MAFINDO mencatat 2.119 hoaks beredar pada paruh pertama 2024, dengan lebih dari 1.037 di antaranya bertema politik.
Baca juga: Kronologi Lengkap: Siswi Hilang di Batam Ditemukan Usai Staycation dengan Kenalan TikTok
"Selama bertahun-tahun, jurnalis dan pemeriksa fakta sudah berjuang. Namun, jangkauan konten pemeriksaan fakta masih terbatas," ujar Yulis.
Ia menegaskan, tantangan kini semakin kompleks. Masyarakat lebih percaya informasi dari media sosial ketimbang media arus utama. Konten video kini menjadi format paling dominan.
"Pada Januari 2024, YouTube memiliki 139 juta pengguna, sementara TikTok mencapai 126,8 juta pengguna dewasa. Ini berdampak langsung pada peningkatan hoaks berbasis video," jelasnya.
Data MAFINDO menunjukkan, 44,6% hoaks ditemukan di YouTube dan 43,4% di Facebook. Namun, TikTok punya daya sebar lebih luas.
"Hoaks video di TikTok bisa mencapai 2,9 juta views. Video pendek lebih disukai. Sementara, proses pemeriksaan fakta untuk video justru memakan waktu lebih lama," tambah Yulis.
Ia juga menyoroti minat rendah pada konten cek fakta berbasis teks. Situs Cekfakta.com, misalnya, hanya memiliki sekitar 7.400 pengguna aktif.
"Audien mulai enggan membaca. Mereka beralih ke video dan konten AI. Media tidak bisa diam. Cek fakta harus jadi tulang punggung dan jangkar untuk meluruskan hoaks," tegasnya. Yulis mengimbau media memproduksi konten yang lebih menarik dan kompetitif untuk menyaingi hoaks.
Direktur Eksekutif AMSI, Elin Y. Kristanti, menekankan pentingnya memahami motif di balik hoaks.
"Motifnya beragam, dari perlawanan, iseng, hingga mencari keuntungan. Ini tantangan bersama. Media juga harus paham, AI tidak netral. Kita harus waspada pada maksud di balik setiap konten AI," papar Elin.
Trainer Cek Fakta, Adi, memberikan pemahaman mendasar. Ia membagi tiga jenis informasi berbahaya: misinformasi (keliru tanpa sengaja), disinformasi (keliru disengaja), dan malinformasi (informasi benar yang digunakan untuk merugikan).
Baca juga: Dohar Jadi Kadis DLH Batam, Ditugaskan Tangani Status Darurat Sampah Kota
"Wartawan wajib melakukan verifikasi untuk mencegah misinformasi dan disinformasi meracuni karya jurnalistik," jelas Adi.
Sebagai langkah konkret, AMSI akan mengembangkan modul pelatihan khusus bagi media untuk memproduksi konten pemeriksaan fakta yang efektif di platform media sosial. Upaya ini diharapkan dapat menguatkan pertahanan industri media dan publik dalam menghadapi gelombang disinformasi, khususnya yang memanfaatkan teknologi video dan AI.

Komentar Via Facebook :