Kecewa Pelayanan Moya, Warga Tanjung Sengkuang Desak Pengelolaan Air Batam Kembali ke ATB

Kecewa Pelayanan Moya, Warga Tanjung Sengkuang Desak Pengelolaan Air Batam Kembali ke ATB

Aksi yang dimulai dengan demonstrasi di depan gedung dewan ini berlanjut dengan pertemuan antara perwakilan warga dan Komisi II DPRD Batam. (Foto: Asrul/Batamnews)

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews – Kekecewaan warga terhadap layanan air bersih di Kota Batam, Kepulauan Riau, mencapai titik puncaknya. Dalam audiensi panas di Kantor DPRD Kota Batam, warga Tanjung Sengkuang secara terbuka mendesak pemerintah agar pengelolaan air dikembalikan kepada PT Adhya Tirta Batam (ATB), Kamis (22/1/2026).

Aksi yang dimulai dengan demonstrasi di depan gedung dewan ini berlanjut dengan pertemuan antara perwakilan warga dan Komisi II DPRD Batam. Di hadapan Ruslan Sinaga, warga meluapkan amarah dan kesedihan mereka atas krisis air yang dianggap kian memburuk sejak pergantian operator.

Amin, warga RT 01/RW 04 Tanjung Sengkuang, menjadi salah satu tokoh yang paling vokal menyuarakan tuntutan ini. Menurutnya, selama pengelolaan dilakukan oleh ATB, gangguan air tidak pernah berlangsung selama dan separah saat ini di bawah kendali operator sekarang (Moya).

"Kembalikan lagi ke ATB. Selama ini ATB tidak ada masalah. Kalaupun ada troubleshooting sedikit-sedikit itu wajar, tapi tidak berlarut-larut seperti sekarang," tegas Amin dalam audiensi tersebut.

Ia menilai percepatan penanganan kerusakan sangat jauh berbeda. Penderitaan warga Tanjung Sengkuang yang sudah berlangsung hampir setahun dianggap sebagai bukti kegagalan operator saat ini dalam menjaga stabilitas distribusi air.

Amin juga memaparkan betapa krisis air ini telah mencederai martabat warga. Ia menceritakan sebuah insiden memilukan di mana seorang warga yang meninggal dunia terpaksa dimandikan menggunakan puluhan galon air karena keran di rumahnya kering total.

"Kebutuhan ini mendesak, ini kebutuhan primer. Bayangkan, ada warga yang istrinya meninggal, mau memandikan saja susah. Harus beli 16 galon air untuk memandikan jenazah. Ini tidak dirasakan oleh orang-orang di kantor operator itu," ucapnya dengan nada getir.

Warga menilai alasan-alasan teknis yang terus diberikan pihak operator sudah tidak dapat diterima lagi. Mereka menuntut keberanian dewan dan pemerintah untuk mengambil langkah ekstrem jika layanan tidak kunjung normal dalam waktu singkat.

"Pilihannya cuma satu, kalau memang tidak sanggup, ya mundur. Jangan berlagak mampu. Kami minta balik ke ATB saja," tambah Amin.

Menanggapi hal tersebut, Ruslan Sinaga selaku anggota Komisi II DPRD Kota Batam menyatakan akan membawa poin-poin desakan warga ini ke tingkat yang lebih tinggi.

Warga menegaskan bahwa air adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar dengan ubi atau jagung sebagai pengganti layaknya beras.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :