Sampaikan 3 Tuntutan, Warga Tanjung Sengkuang Desak DPRD Batam Atasi Krisis Air

Sampaikan 3 Tuntutan, Warga Tanjung Sengkuang Desak DPRD Batam Atasi Krisis Air

Demo warga diterima Anggota Komisi II DPRD Kota Batam, Ruslan Sinaga, di ruang rapat komisi. (Foto: Asrul/Batamnews)

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews – Krisis air bersih yang berkepanjangan memicu amarah warga Tanjung Sengkuang, Kota Batam, Kepulauan Riau. Ratusan warga mendatangi gedung DPRD Kota Batam untuk menggelar aksi unjuk rasa menuntut solusi nyata atas tersendatnya aliran air ke pemukiman mereka, Kamis (22/1/2026).

Suasana di depan Kantor DPRD Kota Batam sempat memanas saat warga menyuarakan aspirasinya melalui orasi. Tak lama berselang, perwakilan warga dari wilayah Tanjung Sengkuang akhirnya diperbolehkan masuk untuk melakukan audiensi langsung dengan anggota dewan. Mereka diterima oleh Anggota Komisi II DPRD Kota Batam, Ruslan Sinaga, di ruang rapat komisi.

Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) untuk DPRD

Dalam audiensi tersebut, Ruslan Sinaga membacakan tiga poin tuntutan utama yang disusun oleh warga. Ruslan menegaskan bahwa DPRD sebagai perpanjangan tangan rakyat harus segera turun tangan mengatasi krisis air ini.

"Pertama, seluruh anggota dewan harus segera turun mengatasi masalah kebutuhan air bersih. Jika air di rumah warga mati, maka kantor perwakilan kami pun harus merasakan hal yang sama. Ini supaya adil, agar dewan bisa merasakan betapa susahnya hidup tanpa air bersih," ujar Ruslan di hadapan warga.

Poin kedua menekankan pada penggunaan kewenangan DPRD secara maksimal untuk mendesak pihak operator. Sedangkan poin ketiga mencakup tenggat waktu perbaikan yang sangat singkat.

"Dalam waktu sesingkat-singkatnya, yakni 2 x 24 jam, harus ada perbaikan nyata untuk mengalirkan air. Intinya, jalan air harus lancar kembali secara normal," tegasnya yang disambut seruan setuju dari warga yang hadir.

Kekesalan warga memuncak bukan tanpa alasan. Amin, warga RT 01 / RW 04 Tanjung Sengkuang, membeberkan fakta memilukan yang terjadi di lingkungannya akibat buruknya pelayanan air bersih saat ini.

"Ini kebutuhan mendesak, kebutuhan primer. Kalau warga tidak punya beras, mungkin masih bisa diam atau cari pengganti ubi atau jagung. Tapi air tidak bisa tawar-menawar," kata Amin dengan nada tinggi.

Amin menceritakan pengalaman pahit salah satu tetangganya yang meninggal dunia. Akibat air mati total, keluarga jenazah harus merogoh kocek ekstra dan bersusah payah mencari air galon.

"Ada warga yang istrinya meninggal, mau memandikan jenazah saja susah. Sampai harus pakai 16 galon air. Orang-orang Moya (operator saat ini) tidak merasakan penderitaan ini," ungkapnya.

Desakan Kembali ke ATB

Dalam kesempatan itu, warga secara terang-terangan meminta pemerintah mengevaluasi kinerja operator air saat ini, PT Moya, dan membandingkannya dengan operator sebelumnya, ATB. Menurut Amin, selama bertahun-tahun dipegang ATB, masalah teknis memang ada namun tidak pernah separah dan selama ini.

"Kembalikan lagi ke ATB. Selama ini ATB tidak ada masalah, kalaupun ada gangguan itu wajar tapi tidak berlarut-larut. Ini sudah hampir setahun penderitaan warga Sengkuang. Kalau memang Moya tidak sanggup, lebih baik mundur. Jangan berlagak mampu," pungkas Amin.

Warga mengancam akan kembali membawa massa yang lebih besar jika dalam waktu 48 jam ke depan aliran air ke rumah mereka tidak mengalami perubahan signifikan.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :