Refleksi Hari Desa Nasional 15 Januari

Membangun Ketahanan Keluarga dari Desa

Membangun Ketahanan Keluarga dari Desa

Fatmawati.

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Fatmawati

Setiap tanggal 15 Januari, Indonesia memperingati Hari Desa Nasional sebagai pengakuan atas peran strategis desa dalam pembangunan bangsa. Peringatan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali bahwa desa bukan sekadar entitas administratif, melainkan ruang hidup utama bagi sebagian besar rakyat Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa hingga 2024, sekitar 43 persen penduduk Indonesia masih tinggal di wilayah perdesaan. Angka ini menegaskan bahwa masa depan bangsa Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas kehidupan masyarakat desa, terutama kualitas keluarganya.

Keluarga merupakan unit sosial terkecil, tetapi menjadi fondasi utama pembentukan sumber daya manusia. Dari keluarga yang kuat akan lahir individu yang sehat secara fisik, mental, dan moral. Sebaliknya, rapuhnya keluarga kerap menjadi pintu masuk berbagai persoalan sosial, mulai dari kemiskinan antargenerasi, kekerasan dalam rumah tangga, hingga krisis karakter pada anak dan remaja. Karena itu, membangun ketahanan keluarga sejatinya merupakan investasi strategis bangsa, dan desa adalah titik awal yang paling relevan untuk memulainya.

Desa memiliki modal sosial yang besar untuk membangun ketahanan keluarga. Ikatan kekerabatan yang masih kuat, budaya gotong royong, serta kontrol sosial berbasis komunitas menjadikan desa relatif lebih resilien dalam menghadapi guncangan sosial. Dalam perspektif parenting, lingkungan seperti ini sangat kondusif bagi tumbuh kembang anak. Anak tidak hanya diasuh oleh orang tua, tetapi juga oleh komunitas sekitarnya. Kajian BPS tentang Modal Sosial (2022) mencatat bahwa tingkat partisipasi sosial masyarakat desa masih lebih tinggi dibandingkan masyarakat perkotaan, terutama dalam kegiatan keagamaan dan sosial kemasyarakatan.

Namun demikian, keluarga desa juga menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Arus digitalisasi telah mengaburkan batas antara desa dan kota. Survei BPS dan Kementerian Komunikasi dan Informatika menunjukkan bahwa penetrasi internet di wilayah perdesaan telah mencapai lebih dari 70 persen. Gawai kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari keluarga desa. Tantangannya, banyak orang tua belum dibekali literasi digital dan pengetahuan pengasuhan yang memadai untuk menghadapi perubahan ini. Anak-anak desa kini berhadapan dengan risiko yang sama seperti anak-anak kota, mulai dari kecanduan gawai, paparan konten negatif, hingga melemahnya nilai adab dan kearifan lokal.

Kondisi tersebut menegaskan bahwa ketahanan keluarga tidak bisa dibiarkan berjalan secara alamiah. Ia perlu dibangun secara sadar dan terencana. BKKBN dalam berbagai publikasinya menegaskan bahwa ketahanan keluarga mencakup dimensi fisik, ekonomi, sosial, psikologis, dan spiritual. Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang mampu menjalankan fungsi pengasuhan, pendidikan karakter, dan perlindungan anak secara seimbang. Desa memiliki posisi strategis untuk menjadi basis penguatan seluruh dimensi tersebut.

Peran pemerintah desa menjadi sangat krusial. Hingga 2024, Indonesia memiliki lebih dari 74 ribu desa, dengan alokasi Dana Desa yang setiap tahunnya mencapai ratusan triliun rupiah. Sayangnya, sebagian besar dana tersebut masih terfokus pada pembangunan fisik. Momentum Hari Desa Nasional setiap 15 Januari seharusnya mendorong perubahan orientasi pembangunan desa agar lebih seimbang antara infrastruktur dan pembangunan manusia. Program edukasi parenting, pendampingan keluarga rentan, pendidikan pranikah, serta penguatan ketahanan keluarga berbasis desa dapat dimasukkan dalam prioritas pembangunan desa. Investasi pada keluarga memang tidak langsung terlihat, tetapi dampaknya sangat menentukan kualitas generasi mendatang.

Selain pemerintah desa, tokoh agama dan tokoh adat memegang peran sentral dalam penguatan keluarga desa. Desa Indonesia identik dengan kehidupan religius yang kuat. Data BPS menunjukkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat desa dalam kegiatan keagamaan relatif tinggi. Masjid, musala, dan ruang-ruang sosial keagamaan dapat berfungsi sebagai pusat edukasi keluarga. Nilai-nilai agama tentang tanggung jawab orang tua, keharmonisan rumah tangga, dan pentingnya keteladanan dalam pengasuhan anak perlu terus diperkuat. Dalam Islam, keluarga diposisikan sebagai madrasah pertama, sebuah konsep yang sangat relevan untuk memperkuat ketahanan keluarga desa.

Aspek ekonomi juga tidak dapat diabaikan. BPS mencatat bahwa tingkat kemiskinan di desa masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Kondisi ekonomi yang rapuh sering kali menjadi sumber konflik keluarga. Oleh karena itu, pemberdayaan ekonomi keluarga desa merupakan bagian integral dari pembangunan ketahanan keluarga. Penguatan UMKM desa, kelompok usaha perempuan, serta pemanfaatan potensi lokal akan membantu keluarga memiliki penghasilan yang lebih stabil. Ketika kebutuhan dasar terpenuhi, orang tua akan memiliki ruang yang lebih luas untuk fokus pada pengasuhan dan pendidikan anak.

Peringatan Hari Desa Nasional setiap 15 Januari seharusnya menjadi titik tolak perubahan paradigma pembangunan. Desa perlu ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan bangsa. Membangun desa berarti membangun keluarga. Membangun keluarga berarti menyiapkan generasi masa depan. Ketahanan nasional tidak akan kokoh tanpa ketahanan keluarga, dan ketahanan keluarga Indonesia sebagian besar berakar di desa.

Di tengah berbagai krisis global yang melanda dunia hari ini, desa berpotensi menjadi benteng terakhir nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan spiritualitas. Dengan keluarga yang kuat, desa yang berdaya, serta kebijakan yang berpihak pada pembangunan manusia, Indonesia memiliki peluang besar melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.

Membangun ketahanan keluarga dari desa memang bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan kesadaran kolektif, keberpihakan kebijakan, dan konsistensi gerakan. Namun jika desa mampu mengambil peran strategis ini, maka Hari Desa Nasional setiap 15 Januari akan benar-benar bermakna sebagai tonggak kebangkitan keluarga Indonesia yang tangguh, berakar, dan berdaya saing.

----------------

Penulis adalah Founder Bintan Islamic Parenting (BIP) dan Ketua Komunitas Peduli Kampung Sendiri (KPKS) Bintan

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :