Refleksi 242 Tahun Tanjungpinang 6 Januari 1784 - 6 Januari 2026
Merawat Ingatan Menjemput Masa Depan
Raja Dachroni.
Oleh: Raja Dachroni
Setiap kota punya cerita. Ada yang lahir dari riuh industri, ada yang tumbuh dari simpang jalan perdagangan. Tanjungpinang berbeda. Kota ini lahir dari perjumpaan nilai, peradaban, dan kesabaran waktu. Di usia 242 tahun, Tanjungpinang tidak sekadar bertambah angka, tetapi menambah lapisan ingatan tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana seharusnya melangkah.
Merujuk berbagai referensi, sejarah lahirnya Kota Tanjungpinang berakar dari perannya sebagai kawasan pesisir strategis di jalur perdagangan maritim Nusantara. Nama Tanjungpinang diyakini berasal dari sebuah tanjung yang ditumbuhi pohon pinang dan kerap menjadi tempat berlabuh perahu-perahu dagang. Sejak awal, wilayah ini berkembang sebagai permukiman nelayan sekaligus titik perjumpaan berbagai budaya, menjadikannya ruang hidup yang terbuka dan dinamis.
Perkembangan penting terjadi pada akhir abad ke-18, ketika Kesultanan Riau-Lingga menjadikan Tanjungpinang sebagai pusat pemerintahan. Pada tahun 1784, di masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah III, kota ini resmi berfungsi sebagai pusat administrasi, politik, dan kebudayaan Melayu. Sejak itu, Tanjungpinang tumbuh sebagai kota pelabuhan yang berpengaruh, sekaligus pusat intelektual dan keagamaan, tempat lahirnya pemikiran dan karya besar tokoh-tokoh Melayu.
Memasuki masa kolonial hingga kemerdekaan Indonesia, Tanjungpinang terus mengalami perubahan peran dan wajah kota. Dari pusat pemerintahan kesultanan, menjadi kota administratif kolonial, hingga akhirnya ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Riau pada tahun 2002. Penetapan hari jadi kota yang merujuk pada peristiwa tahun 1784 menegaskan bahwa Tanjungpinang bukan sekadar kota administratif, melainkan kota bersejarah yang tumbuh dari peradaban, budaya, dan nilai-nilai Melayu yang terus hidup hingga hari ini.
Dua abad lebih perjalanan ini tentu bukan lintasan lurus tanpa gelombang. Tanjungpinang telah melewati pasang surut sejarah, mulai dari masa Kesultanan Riau-Lingga, kolonialisme, hingga menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau. Namun satu hal yang tak pernah benar-benar hilang adalah jiwanya sebagai kota Melayu, kota yang menjunjung adab, menempatkan ilmu sebagai cahaya, dan memuliakan kebersamaan.
Nama Tanjungpinang sendiri menyimpan makna geografis sekaligus kultural. Ia tumbuh dari kawasan pesisir yang tenang, tetapi terbuka. Sejak dahulu, pelabuhan-pelabuhan kecilnya menjadi saksi lalu lalang manusia dari berbagai penjuru. Pedagang, ulama, dan pelaut singgah, bertukar kabar, lalu meninggalkan jejak budaya. Dari sanalah Tanjungpinang belajar hidup dalam keberagaman, jauh sebelum istilah toleransi menjadi wacana formal.
Dari sudut pandang sejarah perjuangan juga Kota Tanjungpinang melahirkan dua pahlawan nasional Raja Haji Fisabilillah dan Raja Ali Haji. Tak berlebihan jika Tanjungpinang disebut sebagai salah satu pusat peradaban Melayu. Dari kota inilah lahir Raja Ali Haji, tokoh besar yang karyanya melampaui zaman. Gurindam Dua Belas bukan hanya sastra, melainkan panduan moral yang masih relevan hingga hari ini. Ia mengajarkan bahwa kemajuan tidak pernah lepas dari akhlak, dan kekuasaan tanpa kebijaksanaan hanya akan menjadi beban sejarah.
Namun kota tidak boleh hidup hanya dari nostalgia. Sejarah memang penting sebagai penanda identitas, tetapi masa depan menuntut keberanian untuk berubah. Ketika Tanjungpinang dipercaya menjadi ibu kota provinsi, tantangannya pun bertambah. Kota ini tidak lagi sekadar simbol budaya, melainkan pusat administrasi, pelayanan publik, dan penggerak pembangunan kawasan kepulauan.
Di usia 242 tahun, Tanjungpinang menghadapi realitas yang tidak sederhana. Keterbatasan lahan pekerjaan untuk generasi mudanya, tekanan ekonomi, persoalan lingkungan pesisir, hingga tuntutan pelayanan masyarakat yang semakin tinggi adalah pekerjaan rumah yang nyata. Modernisasi berjalan cepat, sementara daya dukung kota tidak selalu sejalan. Di sinilah kebijaksanaan diuji: bagaimana membangun tanpa menghilangkan jati diri, dan bagaimana maju tanpa meninggalkan siapa pun.
Meski demikian, Tanjungpinang memiliki modal sosial yang kuat. Karakter masyarakatnya yang egaliter, budaya musyawarah yang masih hidup, serta ikatan sosial yang relatif terjaga adalah kekayaan tak ternilai. Kota ini mungkin tidak gaduh seperti kota metropolitan, tetapi justru di situlah kekuatannya. Tanjungpinang tumbuh dengan irama sendiri—tenang, namun bermakna.
Potensi kota ini juga terbentang luas. Sejarah dan budaya yang kaya, jika dikelola dengan baik, dapat menjadi daya tarik wisata yang berkelanjutan. Ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, UMKM, hingga sektor jasa dapat berkembang tanpa harus mengorbankan lingkungan. Tanjungpinang tidak harus meniru kota lain untuk maju; ia cukup menjadi dirinya sendiri dengan pengelolaan yang cerdas.
Peringatan hari jadi ke-242 yang dirayakan setiap 6 Januari ini seharusnya menjadi ruang refleksi bersama. Pemerintah tentu memegang peran penting, tetapi masa depan kota Tanjungpinang tidak bisa hanya diserahkan pada kebijakan birokrasi. Masyarakat adalah pemilik sah kota ini. Dari cara kita menjaga kebersihan lingkungan, menghormati perbedaan, hingga berpartisipasi dalam ruang-ruang publik semuanya adalah bagian dari pembangunan yang sesungguhnya.
Peran generasi muda menjadi sangat menentukan. Anak-anak muda Tanjungpinang hari ini hidup di persimpangan zaman: antara tradisi dan digitalisasi, antara lokalitas dan globalisasi. Tantangannya bukan memilih salah satu, melainkan merajut keduanya. Kota ini membutuhkan generasi yang bangga pada akar budayanya, tetapi juga percaya diri menghadapi dunia yang terus berubah.
242 tahun adalah usia matang bagi sebuah kota. Ia cukup tua untuk belajar dari kesalahan, dan cukup dewasa untuk menentukan arah. Tanjungpinang telah membuktikan kemampuannya bertahan dalam berbagai situasi. Kini saatnya melangkah dengan kesadaran penuh, bahwa setiap keputusan hari ini akan menjadi sejarah di masa depan.
Selamat Hari Jadi ke-242 Kota Tanjungpinang. Semoga kota ini tetap bertuah, masyarakatnya hidup dalam kebersamaan, dan pembangunannya berangkat dari nilai, bukan sekadar ambisi. Tanjungpinang bukan hanya tempat tinggal, tetapi rumah besar yang harus kita jaga bersama dengan ingatan yang jujur dan harapan yang terus menyala.
--------------
Penulis adalah Ayah Empat Anak dan Ketua Komunitas Peduli Kampung Sendiri (KPKS) Tanjungpinang

Komentar Via Facebook :