Ekonomi Kepri Melesat 7,48 Persen, Namun Bayang-Bayang Trump Effect dan Persaingan Regional Mengintai di 2026
Capaian perekonomian Kepri tahun 2025.
Batam, Batamnews – Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menutup tahun 2025 dengan catatan pertumbuhan ekonomi yang impresif secara angka. Namun, di balik performa gemilang tersebut, sejumlah tantangan eksternal dan kerentanan domestik diprediksi akan menguji ketahanan ekonomi Bumi Bunda Tanah Melayu pada tahun mendatang.
Berdasarkan data terbaru dari Bank Indonesia, pada triwulan III 2025, ekonomi Kepri tumbuh signifikan sebesar 7,48% (year-on-year/yoy). Angka ini jauh melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di level 5,04% (yoy). Capaian ini menempatkan Kepri sebagai jawara pertumbuhan ekonomi di Pulau Sumatera dan menduduki peringkat ketiga secara nasional.
Sektor Penopang dan Realita di Lapangan
Pertumbuhan ini didorong oleh sektor-sektor tradisional Kepri, yakni industri pengolahan, pertambangan, konstruksi, dan perdagangan. Dari sisi pengeluaran, mesin utama pertumbuhan berasal dari investasi (PMTB), ekspor neto, serta konsumsi rumah tangga yang masih terjaga.
Meski secara makro terlihat kokoh, tekanan inflasi tetap membayangi kesejahteraan masyarakat. Hingga November 2025, inflasi tahunan Kepri berada di angka 3,00% (yoy). Walaupun masih dalam rentang sasaran 2,5±1%, masyarakat tetap merasakan kenaikan harga pada komoditas utama seperti angkutan udara, daging ayam ras, hingga emas perhiasan yang terus menjadi penyumbang utama inflasi.
Risiko Global: Trump Effect dan Persaingan JS-SEZ
Bank Indonesia secara kritis menyoroti risiko eksternal yang dapat mengerem laju ekonomi Kepri di 2026. Salah satu yang paling diwaspadai adalah kebijakan proteksionisme perdagangan Amerika Serikat atau yang dikenal sebagai "Trump Effect", yang berpotensi mengganggu arus ekspor manufaktur Batam dan Bintan.
Selain itu, munculnya Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ) menjadi tantangan serius bagi daya saing investasi Kepri. Jika tidak dibarengi dengan percepatan hilirisasi dan digitalisasi, Kepri berisiko kehilangan momentum investasi yang beralih ke negara tetangga.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto P., menegaskan bahwa meski optimisme tinggi, sinergi lintas sektor menjadi harga mati untuk menghadapi tahun 2026 yang penuh ketidakpastian.
"Diperlukan sinergi dan kolaborasi yang kuat dari semua pihak untuk dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Kepri tetap kuat pada tahun mendatang," ujar Rony dalam pertemuan dengan media di Batam Pada Selasa, (29/12/2025).
Rony juga menambahkan bahwa fokus BI ke depan bukan sekadar angka pertumbuhan, melainkan inklusivitas.
"BI Kepri akan terus memberikan komitmen dan dukungan penuh terhadap pengembangan UMKM dan perluasan digitalisasi pembayaran untuk perekonomian Kepri yang tumbuh berkelanjutan dan inklusif," tegasnya.
Untuk tahun 2025, BI memproyeksikan ekonomi Kepri tumbuh di kisaran 6,5% hingga 7,3% (yoy). Namun, untuk tahun 2026, proyeksi tersebut sedikit melandai di rentang 6,4% hingga 7,2% (yoy), mencerminkan sikap waspada terhadap dinamika global.
Satu catatan penting yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah adalah angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) yang masih menjadi tantangan di wilayah industri.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi di angka 7,48% diharapkan mampu berkontribusi lebih nyata dalam penyerapan tenaga kerja lokal agar pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Kepri.

Komentar Via Facebook :