BRK Syariah Catat Laba Rp218 Miliar, Efisiensi Membaik
Ilustrasi.
Pekanbaru, Batamnews - Kinerja PT Bank Pembangunan Daerah Riau Kepri Syariah (BRK Syariah) pada kuartal III-2025 menampilkan dua sisi sekaligus. Di satu sisi, efisiensi operasional menunjukkan perbaikan yang nyata. Di sisi lain, tekanan biaya dana mulai terasa, seiring meningkatnya beban operasional dan distribusi bagi hasil.
Meski begitu, bank daerah berbasis syariah ini masih mampu menjaga pertumbuhan laba secara moderat di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan catatan Biro Riset Infobank (birI), laba BRK Syariah per September 2025 tercatat sebesar Rp218,20 miliar. Angka ini tumbuh 3,46 persen secara tahunan (year on year/YoY), mencerminkan ketahanan kinerja bank dalam menghadapi kenaikan biaya.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh fungsi intermediasi yang relatif stabil. Hingga akhir kuartal III-2025, penyaluran pembiayaan mencapai Rp21,59 triliun, meningkat 2,85 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp21,00 triliun.
Kontributor utama kinerja keuangan berasal dari pendapatan setelah distribusi bagi hasil yang mencapai Rp1,12 triliun, tumbuh signifikan 11,18 persen. Namun, tekanan mulai muncul dari sisi beban operasional yang melonjak 14,87 persen, dari Rp710,81 miliar menjadi Rp816,48 miliar.
Kenaikan terbesar terjadi pada beban tenaga kerja. Pos ini meningkat 2,27 persen dari Rp470,52 miliar menjadi Rp481,18 miliar. Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan biaya sumber daya manusia yang ke depan perlu diimbangi dengan peningkatan produktivitas.
Tekanan biaya juga tercermin pada distribusi bagi hasil kepada pemilik dana investasi. Nilainya naik 8,37 persen, dari Rp679,48 miliar pada September 2024 menjadi Rp736,29 miliar pada September 2025. Hal ini mengindikasikan mulai meningkatnya cost of fund (COF), meskipun struktur dana pihak ketiga (DPK) BRK Syariah masih didominasi dana murah.
Dari sisi penghimpunan dana, total DPK tercatat sebesar Rp26,39 triliun, tumbuh 3,56 persen dibandingkan Rp25,48 triliun pada September 2024. Dana tersebut terdiri dari giro Rp5,26 triliun, tabungan Rp8,17 triliun, dan deposito Rp12,96 triliun. Seiring pertumbuhan DPK, total aset bank juga meningkat menjadi Rp30,80 triliun atau naik 2,91 persen secara tahunan.
Pada aspek permodalan dan efisiensi, kondisi bank dinilai cukup solid. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) berada di level 20,69 persen, memberikan ruang yang memadai untuk menjaga stabilitas dan mendukung ekspansi pembiayaan. Rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) juga membaik ke level 84,63 persen dari sebelumnya 89,35 persen.
Likuiditas terjaga dengan Financing to Deposit Ratio (FDR) sebesar 81,85 persen. Namun, dari sisi kualitas aset, terdapat peningkatan risiko meski masih terkendali. Rasio Non Performing Financing (NPF) Gross naik tipis dari 2,55 persen pada kuartal III-2024 menjadi 2,61 persen pada kuartal III-2025.
Walau masih berada di bawah ambang batas aman industri perbankan syariah, kenaikan NPF tersebut menjadi sinyal adanya tekanan pada segmen pembiayaan tertentu.

Komentar Via Facebook :