Tujuh ABK MT Shi Xing Akhirnya Dievakuasi Usai Terlantar di Perairan Myanmar, Dijadwalkan Tiba di Batam Malam Ini
Tujuh Kru Kapal MT Shi Xing, Warga Negara Indonesia, yang Diduga Terlantar Selama 3 Bulan Lebih di Perairan Myanmar. (foto. istimewa).
Batam, Batamnews – Setelah berbulan-bulan terlantar di perairan Myanmar, tujuh Anak Buah Kapal (ABK) MT Shi Xing akhirnya berhasil dievakuasi dan akan dipulangkan ke Indonesia. Mereka dijadwalkan tiba di Batam, Kepulauan Riau, pada Kamis (6/11/2025) malam menggunakan penerbangan Batik Air dari Kuala Lumpur, Malaysia.
Chief Engineer MT Shi Xing, Septia Riski, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang berperan dalam proses penyelamatan hingga kepulangan para ABK tersebut ke Tanah Air.
“Kami ucapkan terima kasih yang sangat mendalam atas bantuan dari setiap pihak yang terlibat dalam proses penyelamatan ABK MT Shi Xing, hingga akhirnya kami dapat kembali ke Indonesia,” ujar Septia kepada Batamnews.co.id, Kamis (06/11/2025).
Menurutnya, saat ini tujuh ABK masih berada di Malaysia dan tengah bersiap menuju Indonesia melalui Batam.
“ABK MT Shi Xing rencananya akan tiba melalui Bandara Internasional Hang Nadim Batam sekitar pukul 20.30 WIB,” ujarnya.
Adapun tujuh ABK MT Shi Xing yang dipulangkan ke Indonesia adalah:
-
Willem Padoma
-
Roland Mamuko
-
Septia Riski
-
Dede Kustendy
-
Sudiyanto
-
Syukri
-
Heriyansah
Kronologi 7 ABK Terlantar di Laut Myanmar Selama Berbulan-Bulan
Kisah pilu para ABK ini sebelumnya diungkap oleh keluarga salah satu kru, Siti Farhani, yang membeberkan bagaimana tujuh ABK tersebut terlantar di perairan Myanmar sejak Juli 2025. Mereka bekerja tanpa menerima gaji selama tiga bulan, kekurangan makanan, dan minim air bersih.
ABK MT Shi Xing mulai bekerja pada 5 Mei 2025 di Belawan, Sumatera Utara, dan dijadwalkan berangkat ke Malaysia pada 27 Mei 2025 untuk docking kapal. Namun sejak awal sudah muncul kejanggalan karena Perjanjian Kerja Laut (PKL) tidak diberikan oleh pemilik kapal, Juanda.
“Kapten sudah minta surat PKL dari awal, tapi kata pemilik kapal nanti saja setelah sampai Malaysia. Tapi sampai Myanmar pun belum diberikan,” ungkap Siti Farhani kepada Batamnews.co.id, Minggu (19/10/2025).
Kapal tiba di Malaysia pada 1 Juni 2025 dan diminta menunggu di wilayah Outside Port Limit (OPL) selama 13 hari sebelum masuk docking di Pasir Gudang, namun rencana itu dibatalkan. Pemilik kapal kemudian memutuskan memindahkan lokasi docking ke Yangon, Myanmar.
Pada 21 Juni 2025, kapal berlayar menuju Myanmar. Kapten kembali meminta PKL, namun pemilik kapal kembali menunda dengan janji yang sama. Kapal tiba pada 1 Juli 2025 di lokasi koordinat 6°11'57.1"N 96°19'58.7"E.
Gaji yang seharusnya ditransfer setiap tanggal 8 setiap bulan tak kunjung dibayarkan sejak Juli hingga Oktober 2025.
“Sudah tiga bulan para kru hidup tanpa kepastian di laut Myanmar. Pemilik kapal tidak menjawab telepon maupun pesan, dan tidak ada tanggung jawab,” ujarnya.
Di atas kapal, kondisi semakin memprihatinkan. Persediaan makanan menipis dan salah satu ABK mengalami maag akut tanpa perawatan medis layak.
“Sekarang mereka hanya mengandalkan air hujan untuk minum, dan menggunakan air laut untuk mandi dan mencuci,” tambahnya.
Pada 10 Oktober 2025, para ABK melaporkan kondisi mereka ke Kementerian Perhubungan RI melalui hotline WhatsApp, disusul laporan ke Peduli WNI Kementerian Luar Negeri keesokan harinya dengan mengirim video permohonan evakuasi.
Evakuasi yang akhirnya terwujud pada awal November ini menjadi penantian panjang keluarga dan menjadi harapan baru bagi seluruh ABK untuk pulih setelah mengalami kondisi yang sangat memilukan di tengah laut.

Komentar Via Facebook :