Warga Taman Raya Resah Aktivitas Cut and Fill Diduga Picu Banjir dan Kecelakaan

Warga Taman Raya Resah Aktivitas Cut and Fill Diduga Picu Banjir dan Kecelakaan

Warga Tama Raya Tahap 2A, Batam Kota, melakukan aksi penolakan terhadap penimbunan di wilayah mereka yang diduga dilakukan oleh dua Perusahaan Properti di Batam. (Foto. Batamnews.co.id)

Rhuuzi Wiranata

Batam, Batamnews – Warga Perumahan Taman Raya Tahap 2A, RT 003 RW 035, Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota, mengeluhkan aktivitas pemotongan dan penimbunan lahan (cut and fill) yang diduga berlangsung di sekitar permukiman mereka. Aktivitas tersebut dinilai berdampak langsung terhadap lingkungan, mulai dari banjir hingga kondisi jalan yang licin akibat ceceran tanah merah.

Informasi yang diperoleh batamnews.co.id, beberapa waktu lalu, sejumlah ibu-ibu warga setempat menggelar aksi orasi di lokasi penimbunan sebagai bentuk penolakan.

"Kami warga Taman Raya Tahap 2A dan 3 menolak penimbunan tanah di wilayah kami," ujar perwakilan warga dalam orasi penolakan melalui sebuah video yang diterima batamnews.co.id, Senin (03/11/2025).

Warga menyebut kondisi lingkungan perumahan mereka kerap dilanda banjir setiap kali turun hujan. Mereka khawatir aktivitas penimbunan lahan justru memperparah genangan air yang selama ini menjadi masalah utama.

"Kami meminta tolong kepada pemerintah, karena lokasi kami ini khususnya RW 035 sering mengalami banjir. Apalagi ditimbun, perumahan kami nanti bisa tenggelam. Tolong kami, Bapak Wali Kota," keluh warga.

Selain banjir, aktivitas cut and fill juga membuat ruas jalan di kawasan Taman Raya Tahap 2 semakin berbahaya. Tanah merah yang terbawa ke badan jalan menyebabkan permukaan licin saat hujan. Beberapa pengendara motor diketahui tergelincir dan mengalami kecelakaan.

"Gara-gara penimbunan lahan, jalan jadi semakin licin. Sudah beberapa kali pengendara celaka di Taman Raya. Ini perlu dipertanyakan," kata seorang warga yang sempat merekam kejadian pengendara terjatuh.

Ketua Forum Tengku Sulung Squad, Rahman Yasir, turut menanggapi keresahan tersebut. Ia mengaku telah menerima banyak keluhan warga terkait dampak negatif yang ditimbulkan aktivitas cut and fill di kawasan tersebut.

Menurut Rahman, ada dua persoalan utama yang muncul akibat kegiatan tersebut, yakni jalan licin saat hujan dan berdebu saat cuaca kering, serta potensi banjir yang dikhawatirkan semakin parah.

Rahman menyampaikan bahwa warga telah melakukan mediasi dengan pihak pengembang pada Kamis (30/10/2025). Dalam pertemuan tersebut, warga meminta aktivitas penimbunan dihentikan. Namun pada Jumat (31/10/2025), aktivitas di lapangan diketahui tetap berjalan.

"Ketika warga protes dan mempertanyakan izin kegiatan penimbunan, pihak pengembang belum dapat menunjukkan izin yang sah. Mereka hanya mengatakan nanti akan disampaikan. Namun sampai sekarang kami masih menunggu informasi mengenai legalitas kegiatan cut and fill tersebut," jelas Rahman kepada batamnews.co.id.

Rahman menegaskan, pihaknya meminta Pemerintah Kota Batam dan instansi terkait turun ke lapangan untuk mengusut tuntas persoalan ini. Ia juga mendesak pengembang agar menunjukkan legalitas resmi sebelum kegiatan penimbunan kembali dilanjutkan.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :