Denpom 1/6 Siap Tindaklanjuti Laporan Kasus Pemerasan Berkedok BNN di Batam
Ilustrasi. (Foto: Tempo)
Batam, Batamnews – Kasus pemerasan yang dilakukan sekelompok orang yang diduga oknum anggota TNI dan Polri terus menjadi sorotan publik. Para pelaku tak hanya mengaku sebagai petugas Badan Narkotika Nasional (BNN), tetapi juga menggunakan senjata api jenis revolver saat beraksi.
Komandan Detasemen Polisi Militer (Denpom) 1/6 Batam, Letkol CPM Dela Guslapa Partadimadja, yang baru dua hari menjabat, memberikan tanggapan resmi terkait dugaan keterlibatan anggotanya. Ia menegaskan komitmennya untuk memproses laporan korban.
"Silahkan pelapor datang langsung ke piket Denpom, untuk membuat laporan polisi (LP). Nanti akan diambil keterangannya,” kata Dela melalui pesan singkat, Senin (3/11/2025) pagi.
Dela menjelaskan dirinya baru beberapa hari memimpin Denpom 1/6 Batam, yang kini berada di bawah naungan Pomdam XIX/TT di Pekanbaru, bukan lagi di Medan. Meski demikian, ia memastikan akan menindaklanjuti kasus ini apabila terbukti melibatkan oknum anggota TNI.
Sebelumnya diberitakan, para pelaku mengaku sebagai anggota BNN saat melakukan penggerebekan di rumah korban berinisial BJ. Kejadian terjadi saat BJ sedang bersantai di ruang biliar bersama teman-temannya. Sekelompok pelaku disebut mendobrak pintu tanpa menunjukkan identitas maupun surat tugas.
“Mereka datang langsung menggeledah, todong pistol, dan teriak-teriak seperti menangkap penjahat besar. Tapi tidak menunjukan surat tugas satu lembarpun,” kata Bj, Minggu (2/11/2025) malam.
Dalam penggerebekan tersebut, menurut BJ, para pelaku mengaku menemukan sebungkus plastik kecil berisi serbuk putih yang disebut sebagai narkotika. Namun, ia meyakini barang tersebut sengaja direkayasa.
“Saya yakin itu jebakan. Mereka datang bukan untuk menegakkan hukum, tapi untuk memeras saya. Semua dibuat seolah-olah penggerebekan resmi,” ujarnya.
Menurut pengakuan BJ, salah satu pelaku kemudian mengancam akan menembaknya jika tidak menyerahkan uang “damai” Rp1 miliar. Dalam kondisi panik dan demi melindungi istrinya yang sedang hamil, BJ mencari cara agar ancaman itu berhenti.
“Saya akhirnya terpaksa meminjam uang Rp300 juta ke abang ipar. Saya hanya ingin istri saya selamat dan tidak terjadi apa-apa malam itu,” katanya.
Beberapa hari setelah kejadian, BJ mulai mengetahui identitas para pelaku. Informasi dari rekannya mengarah pada dugaan keterlibatan oknum anggota TNI dan Polri. Temuan ini semakin menguatkan keyakinannya bahwa penggerebekan tersebut hanyalah modus perampokan terencana.
Peristiwa itu juga meninggalkan trauma mendalam bagi sang istri. Ia tak lagi berani kembali ke rumah tempat kejadian dan sering mengalami gangguan tidur.
“Istri saya melihat sendiri bagaimana pistol diarahkan ke saya. Sejak malam itu, dia tidak bisa tidur nyenyak. Katanya, yang datang malam itu bukan aparat, tapi perampok bersenjata api,” ujar BJ lirih.

Komentar Via Facebook :