Cosplayer Tanjungpinang Sedang Mengekspresikan Diri, Bukan Menolak Tradisi!
COSPLAY: Antara Warisan dan Fantasi
Sumber Foto: Dok. Cinta Alfina
Oleh: Ratu Balqis Cinta Alfina
Di tengah semarak festival budaya dan parade tradisi, sekelompok anak muda berdiri dengan kostum karakter Jepang, Korea, Game, Film, bahkan Fiksi Barat. Mereka bukan pengganggu, mereka bukan penolak warisan. Mereka adalah pencari makna menjelajahi identitas di antara baju kurung adat Melayu dan juga anime, di antara tuntutan adat dan ruang imajinasi.
Cosplay di Tanjungpinang bukan sekadar hobi, Cosplay adalah bahasa baru yang digunakan generasi muda untuk bicara tentang diri, tentang dunia yang mereka lihat dan tentang tempat mereka di dalamnya. Sayangnya, ekspresi ini kerap disalahpahami. Dianggap asing, bahkan dianggap mengganggu nilai-nilai lokal. Padahal yang terjadi bukan benturan budaya, melainkan negosiasi yang sehat antara warisan dan kebaruan, antara akar dan sayap.
“Budaya-budaya luar itu kadang suka dilihat aneh sama warga lokal, tapi sebenarnya ini salah satu kebebasan ekspresi. Asal kita gak lupa aja sih sama budaya sendiri. Ya, intinya perlu seimbangin,” ujar salah satu cosplayer Tanjungpinang.
Menariknya, jika kita menengok ke Batam, kota tetangga yang juga bagian dari Kepulauan Riau, Cosplay tidak mengalami hambatan serupa. Di sana, komunitas kreatif tumbuh dengan dukungan publik yang lebih terbuka. Festival Cosplay digelar di pusat perbelanjaan seperti mall. Anak muda tampil percaya diri dan masyarakat menyambutnya sebagai bagian dari dinamika kota modern. Perbedaan ini menunjukkan bahwa penerimaan budaya bukan soal wilayah, tapi soal cara kita memaknai perubahan.
Cosplay juga bisa mengangkat dan melestarikan budaya-budaya Melayu, dengan nge-Cosplay karakter ataupun pahlawan bersejarah di kota Melayu ini.
Opini ini mengajak kita melihat lebih dekat bukan pada kostum yang dikenakan, tapi pada pesan yang ingin disampaikan bahwa menjadi pemuda-pemudi di Tanjungpinang hari ini berarti berdialog dengan banyak dunia, dan Cosplay adalah salah satu cara mereka menjawab pertanyaan:
“Siapa aku, di tengah semua ini?”
-----------
Penulis adalah mahasiswi prodi kajian film, televisi dan media di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang

Komentar Via Facebook :