Tanjungpinang, Jantungnya Kepulauan Riau yang Penuh dengan Cerita Menarik
Tugu Sirih tampak dari pelabuhan Sri Bintan Pura, Kota Tanjungpinang. (Foto: dok.Muhammad Farrel Aldiansyahputra)
Oleh: Muhammad Farrel Aldiansyahputra
(KO-GU, NE-PAN, KO-BE) APASIH INI?
Halo teman-teman ku semua yang berada di daerah manapun, kalian pernah dengar dengan nama tempat satu ini nggk, ya kota yang Farrel maksud yaitu Kota Tanjungpinang, mungkin dari sebagian orang tampak asing dengan kota ini, yang orang tau Kepulauan Riau itu pasti Batam, tetapi juga dari sebagian besar orang pasti sudah mengenali kota ini, terutama kota-kota yang berada di sekitar Tanjungpinang itu sendiri.
Baik, untuk yang belum tau kota yang satu ini mari kita kenalan yuk bersama Farrel, Farrel akan memberikan informasi tentang sejarah Kota Tanjungpinang. Farrel kutip dari laman resmi Pemerintah Kota Tanjungpinang, kota ini bukan sekedar ibu kota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), tetapi semacam buku sejarah yang berjalan, tempat perpaduan budaya Melayu, Tiongkok, dan Bugis bersatu di dalam kota ini. Bayangkan sangking kerennya Tanjungpinang ini sampai memliki julukannya loh, yaitu seperti yang Farrel tulis di awal (KO-GU, NE-PAN, KO-BE), iya ini lah julukannya yang Farrel singkat, yaitu kota ini di juluki Kota Gurindam, Negeri Pantun, dan Kota Bestari. Keren tak julukan ini? Julukan-julukan ini bukan sekedar tempelan saja teman-teman, tetapi juga mencerminkan warisan sastra, tradisi lisan, dan harapan untuk menjadi kota yang unggul (bestari yang memiliki arti pandai, cakap, atau ahli).
Tanjungpinang itu ibaratnya jantungnya Kepri, letaknya yang strategis, nggk jauh dari Singapura dan Malaysia, dua negara tetangga yang super duper sibuk. Nah, sejak juli 2004, Kepri resmi “Merdeka” dari Provinsi Riau daratan. Perpisahan ini melibatkan pulau-pulau penting seperti Batam (Kota Industri dan free trade zone), Bintan (dengan kawasan wisata dan perkebunannya), Karimun dan Lingga (yang kaya akan sejarahnya juga). Jadi Tanjungpinang ini adalah pusatnya, tempat segala urusan pemerintah dan sejarah dari gugusan pulau-pulau ini berkumpul dan diatur. Ini menjadikan simpul utama, baik secara politik maupun administratif.
Kalau teman-teman mampir kesini, oleh-oleh wajibnya bukan cuma snack biasa, tetapi ikan bilis (sejenis ikan teri), kerupuk, dan berbagai makanan laut kering. Kok harus makanan laut kering sih, kan masih banyak makanan lain? Karena kita berada di pulau nih! Hasil lautnya sudah tentu berlimpah ruah dan diolah menjadi cemilan yang tahan lama. Nggk usahlah pusing nyari, karena kawasan Kota Lama udah menjadi spot andalan buat berbelanja oleh-oleh. Disana, kalian bisa merasakan suasana kawasan komunitas Tionghoa yang kental dengan deretan toko yang menjual berbagai pernak-pernik dan tentunya makanan khas. Jadi, siap-siap jelah pulang dari Tanjungpinang nih, teman-teman membawa pulang sekoper rasa laut yang gurih, renyah dan Lezat!
KENAPE NAMANYE TANJUNGPINANG YE??
Masih diambil dari laman resmi milik Pemerintah Kota Tanjungpinang, nama kota ini ternyata nggk asal-asalan, tapi sangat deskriptif. Coba teman-teman bayangin, ada tanjung (daratan yang memanjang ke arah laut, posisi geografis yang ideal untuk pelabuhan) yang dulunya banyak di tumbuhi pohon pinang. Gampang, kan? Tapi di balik kesederhanaan nama itu, ada sejarah yang sangat-sangat penting. Lokasi Tanjungpinang ini sangat ideal karena terlindung dari ombak besar dan merupakan muara dari beberapa jalur air. Ini menjadikan spot sempurna untuk perahu berlabuh dan berdagang.
Waktu dulu, Posisinya itu strategis banget tau, kayak crossroad di Sungai Carang Hulu Riau. Lokasi ini memungkinkan kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru untuk berlayar masuk dan berinteraksi. Mangkanya, kawasan ini cepat jadi pusat perdagangan yang sangat ramai, menghubungkan pedagang dari semenanjung Melayu, Tiongkok, India, bahkan Eropa. Awalnya, kota ini dikenal sebagai Bandar Riau, semacam central hub buat transaksi dagang zaman itu. Keberadaan sungai dan posisi di tengah Selat Malaka membuat Bandar Riau menjadi pusat logistic yang tak tergantikan. Ini adalah masa di mana rempah-rempah, emas, dan hasil laut menjadi komoditas utama yang dipertukarkan.
(PAHLAWAN DAN PERANG RIAU YANG MELEGENDA) EMANG ADA APASIH?
Farrel ambil dari laman resmi Pemerintah Kota Tanjungpinang. Menurutnya, kejayaan Tanjungpinang mencapai puncaknya saat dipimpin oleh sosok heroik bernama Raja Haji Fisabilillah. Beliau ini bukan cuman seorang pemimpin biasa, tetapi juga yang dipertuan Muda Riau IV, seorang pemimpin militer dan spiritual yang sangat disegani. Di bawah kepemimpinanya, Riau berkembang pesat, baik ekonomi maupun militernya. Beliau ini pejuang yang gigih, yang berani menentang kekuatan besar pada masanya.
Sayangnya, kejayaan itu diuji berat dengan datangnya musuh bebuyutan zaman itu: VOC Belanda, sebuah kongsi dagang yang punya kekuatan militer setingkat negara. Belanda jelas mengincar posisi strategis Riau untuk menguasai jalur perdagangan Selat Malaka. Perang Riau melawan VOC Belanda di abad ke-18 jadi turning point sejarah. Perang ini bukan sekedar perebutan wilayah, tapi perjuangan mempertahankan kedaulatan dan kehormatan Melayu. Raja Haji Fisabilillah memimpin perlawanan dengan strategis gerilya laut yang cerdik. Puncaknya? Ada di tanggal 6 Januari 1784. Hari itu, pasukan Riau berhasil bikin pasukan Belanda menarik diri dengan rapi dan menderita kerugian besar. Ini adalah kemenangan heroic, meskipun Raja Haji sendiri gugur dalam pertempuran sebelumnya di Teluk Ketapang, Malaka. Kemenangan ini menunjukkan semangat pantang menyerah rakyat Riau. Momen kemenangan 6 Januari 1784 inilah yang akhirnya diabadikan sebagai Hari Jadi Tanjungpinang. Keren banget kan ceritanya? Kota ini punya tanggal lahir dari sebuah momen kemenangan yang heroic dan berdarah!
(JATUH BANGUN SETELAH KEMERDEKAAN) KOK BISA?
Setelah perang, kota ini memang sempat mengalami kemunduran karena Belanda kembali berkuasa dan memindahkan pusat administrasi. Namun, Tanjungpinang nggak hilang begitu saja. Justru, posisinye masih penting banget bagi pemerintah colonial Belanda, bahkan Jepang saat Perang Dunia II. Wilayah ini berfungsi sebagai pusat control dan logistic di kawasan kepulauan. Setelah Indonesia merdeka 1945, perjuangan Tanjungpinang ternyata belum selesai. Proses penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Republik Indonesia di wilayah Kepulauan Riau baru benar-benar tuntas pada tahun 1950 setelah melalui proses negosiasi dan perjuangan politik yang panjang. Rakyat Riau melalui berbagai organisasi terus mendesak agar wilayah mereka diakui sebagai bagian integral dari NKRI.
Perjalanan karir politik Tanjungpinang juga unik. Setelah menjadi bagian Indonesia, ia sempat diangkat menjadi Ibu Kota Provinsi Riau (Ketika Riau masih meliputi Riau daratan dan Kepulauan Riau). Namun, seiring waktu, statusnya sempat turun jadi Ibu kota Kabupaten Kepulauan Riau (Ketika pusat provinsi Riau dipindahkan ke Pekanbaru). Tapi, Nasib baik berpihak kepadanya dan posisinya kembali diakui. Melalui berbagai regulasi pemerintah dan perjuangan panjang tokoh-tokoh daerah, Tanjungpinang kembali naik kelas dan mendapatkan status sebagai Kota Tanjungpinang, dan akhirnya ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Riau (setelah pemekaran Kepri dari Riau) hingga sekarang. Jadi, kota ini punya track record yang penuh lika-liku, tapi selalu Kembali ke posisi sentral dan penting. Perjalanan ini mengajarkan kita tentang dinamika politik regional dan nasional.
(WARISAN BUDAYA YANG BIKIN BANGGA: GURINDAM DAN ZAPIN) SEPERTI APA ITU?
Kenapa Tanjungpinang punya julukan Kota Gurindam? Ini dia bagian paling asyik tentang warisan budayanya, julukan ini nggak bisa lepas dari karya sastra masterpiece bernama “Gurindam Dua Belas”. Dikutip dari laman resmi Kemendikbud “Gurindam Dua Belas” itu bukan cuman pusisi biasa. Itu adalah karya sastra Melayu klasik yang ditulis oleh seorang sastrawan super kece dan tampan dari Kesultanan Riau-Lingga, Raja Ali Haji, di abad ke-19. Raja Ali Haji dikenal sebagai pujangga, ulama, dan sejarawan yang karyanya menjadi fondasi bagi Bahasa Indonesia modern.
Coba temen bayangkan aja sendiri, isinya itu ada 12 pasal yang padat nasihat moral dan etika tentang hidup, dari ibadah yang benar, kewajiban anak ke orang tua, tanggung jawab orang tua ke anak, pentingnya budi pekerti, sampai etika kehidupan bermasyarakat. Gurindam ini ditulis dalam bentuk puisi yang terdiri dari dua baris (pasal pertama adalah sebab, pasal kedua adalah akibat), membuatnya mudah diingat namun punya makna Yang sangat dalam. Contohnya, pada Pasal pertama: Barang siapa tiada memegang agama, sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Intinya, beliau menekankan bahwa nilai-nilai keagamaan (Islam) adalah dasar dari segala perbuatan baik dan identitas diri. Bahasa yang dipakai memang Bahasa Melayu Kuno, dan penuh dengan istilah sufisme (tawasuf), kiasan, dan metafora yang membuat kita harus berpikir dalam-dalam untuk memahaminya. Makanya, karya ini disebut sebagai “Syi’r Al-Irsyadi” atau puisi didaktif (puisi pengajaran) karena tujuannya murni untuk mendidik dan memberi petunjuk hidup yang benar sesuai ajaran agama dan norma sosial. Julukan Kota Gurindam ini menunjukkan betapa bangganya masyarakat Tanjungpinang sama warisan sastra mereka, dan juga betapa pentingnya nilai-nilai yang ada di dalam Gurindam itu buat diterapkan dalam hidup sehari-hari. Ini adalah identitas intelektual kota ini.
(KERAJAAN RIAU LINGGA) KERAJAAN APA INI YA?
Karya sehebat Gurindam Dua Belas ini lahir dari Kerajaan Riau Lingga, sebuah Kerajaan Islam yang berdiri dari 1828 hingga 1911. Kerajaan ini didirikan setelah perjanjian Inggris-Belanda yang memecah Kerajaan Johor-Riau. Riau Lingga adalah pusat kebudayaan dan intelektual Melayu saat itu. Kerajaan ini sempat mencapai puncak kejayaan di bawah Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah II (memerintah 1857-1883).
Sultan ini sangat peduli pada perkembangan sastra dan ilmu pengetahuan. Di masa ini, istana tidak hanya menjadi pusat politik, tetapi juga pusat penerjemahan dan penulisan karya-karya penting. Wilayahnya dulu itu gede banget, meliputi Kepulauan Riau yang kita kenal sekarang, bahkan bagian wilayah Sumatera Timur.
Kejayaan ini terwujud dalam berbagai hal, salah satunya Pulau Penyengat yang menjadi pusat pemerintahan dan keagamaan. Di Pulau Penyengat inilah Raja Ali Haji menulis dan menyebarkan karya-karyanya. Jadinya, Gurindam itu produksi budaya dari zaman keemasan peradaban Melayu di kawasan ini, yang sampai sekarang masih jadi rujukan moral.
(TARI ZAPIN: THE MIX BUDAYA ARAB DAN MELAYU) APA LAGI INI YA?
Selain Gurindam, ada lagi warisan budaya yang super keren nih teman-teman Farrel, yaitu Tari Zapin. Tari Zapin ini ibaratnya hasil fusion yang sukses antara Budaya Arab dan Budaya Melayu. Kata “Zapin” sendiri berasal dari kata Arab Zafn yang berarti pergerakan kaki yang cepat. Menurut Tautan Representatif (Kajian Budaya) yang Farrel kutip, awalnya Zapin itu tarian istana dari Kesultanan Yaman di Timur Tengah. Terus, sekitar abad ke-16, saudagar Arab bawa tarian ini ke masyarakat di sekitar Selat Malaka, seiring dengan penyebaran agama Islam. Tarian ini awalnya dibawakan hanya oleh penari laki-laki dan diiringi alat musik gambus dan marwas. Seiring waktu, tarian ini “kawin” sama budaya lokal (akulturasi), dan jadilah dia ikon kemajuan Budaya Melayu Riau. Gerakannya menjadi lebih lentur, halus, elegan, dan tidak kaku, yang diiringi syair-syair berbahasa Melayu, dan kini juga ditarikan oleh penari perempuan (Zapin Kreasi).
Meskipun terlihat cuma tarian hiburan, Zapin itu penuh dengan nilai pendidikan dan keagamaan yang terselip dalam syair-syair pengiringnya. Syair-syair ini seringkali berisi pujian kepada Nabi Muhammad, nasihat moral, dan kisah-kisah Islami. Gerakannya dibagi jadi tiga urutan utama:
-
Salam (Pembuka): Gerakan penghormatan kepada hadirin dan musisi.
-
Gerak Inti: Bagian utama tarian yang melibatkan berbagai pola lantai dan gerakan kaki yang cepat namun anggun.
-
Tahto (Penutup): Gerakan penutup sebagai ucapan terima kasih dan perpisahan.
Totalnya ada 19 gerakan dasar yang masing-masing punya filosofi mendalam, seperti gerakan sembah (menghormati), gerak titi batang (kehati-hatian), hingga gerak ayun (keharmonisan). Jadi, kalau lihat Tari Zapin, kalian nggak cuma nonton tari saja, tapi juga nonton pelajaran hidup yang dibalut dalam keindahan seni gerak.
KEANEKARAGAMAN DI TANJUNGPINANG, APE SAJE YE??
Menurut laman resmi Pemerintah Kota Tanjungpinang yang Farrel ambil, ternyata Tanjungpinang itu bukan kota yang satu jenis. Sejak zaman Kerajaan Lingga (abad ke-18), kota ini sudah jadi pelabuhan yang super ramai. Peran sebagai pelabuhan transit membuat kota ini menjadi tempat ketemuan alias melting pot buat berbagai suku. Bayangin, ada orang dari Sulawesi (Bugis), Kalimantan (Dayak), Siak, Pahang (Malaysia), Bangka-Belitung, Padang, dan yang paling menonjol: Melayu, Bugis, dan Tionghoa. Keanekaragaman ini membuat Tanjungpinang memiliki cita rasa kuliner, arsitektur, dan adat istiadat yang sangat kaya.
SUKU MELAYU: TUAN RUMAH YANG BERSAHAJA
Suku Melayu adalah kelompok etnis terbesar dan mayoritas beragama Islam (Sunni). Mereka ini host-nya, yang memberikan corak utama pada budaya dan bahasa sehari-hari. Kesenian mereka masih lestari sampai sekarang: Tari Zapin, Gazal (sejenis seni teater), teater bangsawan (seni pertunjukan tradisional), dan Joget Dangkong (tarian rakyat). Pakaian adat Melayu, seperti Baju Kurung dan Teluk Belanga, masih sering digunakan dalam acara formal dan pernikahan.
Menariknya, di pesisir pantai ada kelompok yang disebut Orang Laut. Mereka dikenal sebagai pelaut ulung dan hidup nomaden di perairan. Mereka tinggal di rumah panggung atau perahu (karena itu mereka disebut orang sampan atau orang perahu). Budaya dan bahasa mereka berbeda dari Melayu Riau pada umumnya. Mereka adalah bagian unik dari kekayaan budaya di sini, yang memiliki pengetahuan mendalam tentang lautan dan ekosistem pesisir.
SUKU BUGIS: JEJAK PEJUANG DAN PENGUASA
Suku Bugis juga punya pengaruh besar di Tanjungpinang, terutama dalam sejarah kekuasaan. Mereka berasal dari Sulawesi Selatan dan dikenal sebagai pelaut, pedagang, dan pejuang yang berani. Mereka sudah lama berasimilasi dengan suku Melayu, bahkan sejak zaman Kerajaan Riau Lingga, ketika konflik suksesi di Johor-Riau membawa pengaruh Bugis masuk ke dalam struktur pemerintahan.
Buktinya? Beberapa pejabat penting kerajaan punya keturunan Bugis, lho. Contohnya, Daeng Celak, ayah dari Raja Haji Yang Dipertuan Muda Riau IV, adalah keturunan Bugis. Daeng Celak dan saudara-saudaranya (Opu Lima Bersaudara) berperan besar dalam menguatkan Kerajaan Riau Lingga. Ini menunjukkan kalau Bugis bukan cuma pendatang, tapi juga bagian penting dari struktur kekuasaan, militer, dan sejarah di sana, meninggalkan jejak yang kental, terutama di kawasan Kampung Bugis.
ETNIS TIONGHOA: PEDAGANG DAN PENJAGA TRADISI
Etnis Tionghoa di Tanjungpinang sebagian besar tinggal di Senggarang (Kecamatan Tanjungpinang Kota) dan di kawasan Kota Lama (Kecamatan Tanjungpinang Barat). Kedua daerah ini menjadi pusat aktivitas sosial, ekonomi, dan keagamaan mereka.
Mereka dikenal sebagai pedagang dan pengusaha rumah makan yang ulung, dan kontribusi mereka terhadap perekonomian kota sangat signifikan. Dialek yang paling sering kalian dengar dari mereka adalah Hokkian (Fujian). Selain itu, ada juga dialek lain seperti Khek/Hakka, Teociu, Hokcia, dan Hokciu, menunjukkan asal muasal mereka yang berbeda-beda di Tiongkok Selatan. Kehadiran etnis Tionghoa ini bikin Tanjungpinang jadi lebih berwarna, apalagi saat perayaan Imlek yang selalu dirayakan sangat meriah, dengan parade barongsai dan lampion yang menghiasi Kota Lama. Senggarang juga terkenal dengan vihara yang menyimpan ribuan patung Lohan (murid Buddha), menunjukkan kekayaan warisan spiritual mereka.
POSISI YANG SANGAT STRATEGIS: THE FREE TRADE ZONE NEIGHBOR
Kalau dilihat di peta, Tanjungpinang itu letaknya kece banget. Secara koordinat, dia ada di sekitar 0 derajat Lintang Utara dan 104 derajat Bujur Timur. Posisi ini adalah kunci kenapa kota ini begitu penting.
DEKAT DENGAN PINTU GERBANG PERDAGANGAN
Kenapa dibilang strategis? Karena posisi Tanjungpinang itu dekat banget sama Batam, bahkan bisa dilihat dari ujung barat kota. Batam ini ibaratnya pintu gerbang perdagangan Indonesia di wilayah barat, dan juga kawasan Perdagangan Bebas (free trade zone). Batam menjadi pusat industri berat, elektronik, dan galangan kapal.
Dengan kata lain, Tanjungpinang itu tetanggaan sama pusat bisnis dan logistik internasional. Ini tentu membawa dampak positif buat ekonomi dan pembangunan di kota ini, khususnya dalam sektor jasa, pemerintahan, dan perdagangan kecil-menengah yang mendukung aktivitas di Batam. Kedekatan ini juga mempermudah konektivitas transportasi laut dan udara ke kancah internasional.
BATAS WILAYAH: DI KELILINGI BINTAN, TETANGAAN SAMA BATAM
Tanjungpinang itu unik teman-teman, karena hampir semua batas wilayah daratannya adalah Kabupaten Bintan. Ini menciptakan ketergantungan dan integrasi wilayah yang erat antara kota dan kabupaten di Pulau Bintan.
-
Sebelah Utara: Kabupaten Bintan (mengarah ke Pulau Bintan bagian utara, kawasan wisata Lagoi)
-
Sebelah Selatan: Kabupaten Bintan (mengarah ke Bintan Timur)
-
Sebelah Timur: Kabupaten Bintan (mengarah ke laut dan kawasan pesisir Bintan)
-
Sebelah Barat: Kota Batam (dipisahkan oleh selat — ini yang paling penting, karena Batam adalah pusat ekonomi)
Luas total wilayahnya sekitar 258,82 km², yang terbagi jadi daratan (150,86 km²) dan perairan (107,96 km²). Jadi, meskipun ukurannya nggak terlalu besar, dia punya peran yang super vital sebagai pusat administrasi dan budaya di tengah gugusan pulau.
STRUKTUR PEMERINTAHAN: KENALAN DENGAN 4 KECAMATAN
Secara administrasi, Kota Tanjungpinang memiliki 4 kecamatan dan total 18 kelurahan. Pembagian ini penting buat kita tahu bagaimana roda pemerintahan kota ini berjalan, dari level pusat hingga komunitas terkecil.
• KECAMATAN TANJUNGPINANG TIMUR
Ini adalah kecamatan yang berorientasi ke arah Timur Pulau Bintan dan sering menjadi area pengembangan perumahan baru.
-
Kelurahan Melayu Kota Piring
-
Kelurahan Kampung Bulang
-
Kelurahan Air Raja
-
Kelurahan Pinang Kencana
-
Kelurahan Batu Sembilan (salah satu kawasan padat penduduk)
• KECAMATAN TANJUNGPINANG KOTA
Ini nih pusatnya. Kawasan paling padat, tua, dan bersejarah.
-
Kelurahan Tanjungpinang Kota (pusat keramaian, perdagangan, dan beberapa kantor pemerintahan lama)
-
Kelurahan Kampung Bugis (salah satu area bersejarah dengan jejak Bugis yang kental)
-
Kelurahan Senggarang (pusat komunitas Tionghoa yang kaya tradisi, terdapat vihara besar)
-
Kelurahan Penyengat (Pulau Penyengat—pulau bersejarah yang dulunya pusat Kerajaan Riau Lingga, wajib dikunjungi! Di sini ada Masjid Sultan Riau dan makam Raja Ali Haji)
• KECAMATAN TANJUNGPINANG BARAT
Ini juga area penting yang berdekatan dengan laut di sisi barat.
-
Kelurahan Tanjungpinang Barat
-
Kelurahan Kemboja
-
Kelurahan Kampung Baru
-
Kelurahan Bukit Cermin
• KECAMATAN BUKIT BESTARI
Kecamatan ini namanya diambil dari salah satu julukan kota, Kota Bestari. Kecamatan ini menjadi sentra pemerintahan modern.
-
Kelurahan Tanjungpinang Timur
-
Kelurahan Dompak (di sini pusat pemerintahan provinsi berada, lho! Kantor Gubernur dan DPRD Provinsi Kepri berada di pulau ini yang terhubung jembatan)
-
Kelurahan Tanjung Ayun Sakti
-
Kelurahan Sei Jang
-
Kelurahan Tanjung Unggat
Pembagian wilayah ini nunjukkin bahwa Tanjungpinang bukan cuma kota kecil. Dia punya struktur yang rapi untuk mengatur semua kebutuhan warganya, dari timur sampai ke barat, dari pusat keramaian historis sampai ke pusat pemerintahan provinsi yang ada di Dompak.
PERKEMBANGAN PENDIDIKAN, EKONOMI, DAN PARIWISATA
Sebagai ibu kota provinsi, Tanjungpinang terus berbenah. Infrastruktur dan fasilitas publik terus ditingkatkan untuk mendukung fungsinya sebagai pusat pemerintahan dan budaya.
SEKTOR PENDIDIKAN
Di bidang pendidikan, Tanjungpinang sangat serius. Kota ini punya banyak sekolah unggulan dan juga perguruan tinggi yang penting, seperti Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) — tempat kuliahnya Farrel juga ini. UMRAH adalah universitas negeri pertama di Kepri, yang fokus pada ilmu kelautan dan teknologi.
Keberadaan UMRAH ini nggak cuma buat anak Kepri, tapi juga menarik mahasiswa dari luar. Ini juga bukti bahwa warisan Raja Ali Haji (sosok di balik Gurindam) masih menginspirasi pendidikan modern dan pengembangan sumber daya manusia maritim. Selain itu, ada juga sekolah tinggi swasta dan lembaga pendidikan kejuruan yang menyiapkan generasi muda untuk bersaing di pasar kerja yang didominasi oleh sektor jasa dan perdagangan.
SEKTOR EKONOMI
Ekonomi Tanjungpinang bergerak di beberapa sektor, tapi yang paling menonjol adalah perdagangan, jasa, dan pariwisata. Berbeda dengan Batam yang padat industri, Tanjungpinang lebih fokus sebagai pusat jasa pemerintahan, pendidikan, dan trading.
Kedekatannya dengan Bintan dan Batam membuat aktivitas ekspor-impor melalui pelabuhan juga cukup aktif, meskipun tidak sebesar Batam. Barang-barang konsumsi seringkali masuk melalui pelabuhan Tanjungpinang sebelum didistribusikan ke pulau-pulau lain. Pasar-pasar tradisional dan pusat perbelanjaan selalu ramai, mencerminkan kehidupan kota yang dinamis.
Sektor perikanan juga tak kalah penting, dengan hasil tangkapan laut yang menjadi komoditas utama, baik untuk pasar lokal maupun ekspor dalam bentuk makanan laut kering.
SEKTOR PARIWISATA
Pariwisata di Tanjungpinang itu multidimensional, menawarkan lebih dari sekadar pemandangan laut.
-
Wisata Sejarah & Budaya: Pulau Penyengat adalah must-visit place. Di sana ada peninggalan Kerajaan Riau Lingga, termasuk Masjid Sultan Riau yang konon dibangun dari putih telur (campuran unik untuk semennya). Di sana juga terdapat makam Raja Ali Haji dan kompleks istana yang masih terawat. Selain itu, terdapat pula Istana Kota Rebah dan situs bersejarah lainnya yang menyimpan kisah kejayaan masa lalu.
-
Wisata Religi & Etnis: Vihara patung seribu wajah (Vihara Ksitigarbha Bodhisattva) di Senggarang juga jadi destinasi unik yang menarik wisatawan, menunjukkan toleransi dan kekayaan etnis Tionghoa. Pura dan Klenteng tua di kawasan Kota Lama juga menjadi saksi bisu akulturasi budaya.
-
Wisata Alam & Kuliner: Pantai-pantai di sekitar Bintan (yang mudah dijangkau) dan aneka kuliner seafood segar di tepi laut juga menjadi daya tarik utama. Jangan lupa mencoba Gonggong, sejenis siput laut khas Kepri, dan berbagai olahan ikan segar lainnya.
Jadi, pariwisata Tanjungpinang itu paket lengkap: sejarah, budaya, religi, dan kuliner.
PENUTUP: TANJUNGPINANG, KOTA SEJUTA MAKNA
Oke teman-teman, Tanjungpinang itu bukan sekadar titik di peta. Dia adalah rumah bagi sejarah yang berani, dari Perang Riau melawan VOC sampai perjuangan pasca-kemerdekaan. Dia adalah penjaga warisan budaya yang adiluhung, lewat Gurindam Dua Belas dan keindahan Tari Zapin. Dia adalah kota yang terbuka, tempat Melayu, Bugis, dan Tionghoa hidup berdampingan dalam harmoni.
Memahami Tanjungpinang sama seperti membaca puisi yang indah dan penuh makna. Setiap jalan, setiap bangunan di Kota Lama, setiap alun-alun, dan bahkan setiap nama kelurahan menyimpan cerita. Dari Tanjung yang menjorok ke laut hingga Pinang yang melambangkan kesuburan. Dari Raja Haji Fisabilillah yang gugur dengan gagah, hingga Raja Ali Haji yang mewariskan kebijaksanaan dalam bait-bait Gurindam.
Kota ini mengajarkan kita tentang pentingnya akar budaya, keberanian, dan persatuan dalam keberagaman. Ini adalah Negeri Pantun, tempat tradisi lisan menjadi penghubung. Ini adalah Kota Gurindam, yang menjadikan etika sebagai fondasi kehidupan. Dan ini adalah Kota Bestari, yang bertekad menjadi pusat pendidikan, pemerintahan, dan kebudayaan yang unggul di Indonesia.
Jadi, kalau kalian dengar lagi nama Tanjungpinang, ingatlah: ini adalah kota yang menjunjung etika dan moral, kota yang strategis secara geografis dan politik, dan kota yang terus bertumbuh sambil menjaga akar budayanya. Keren, kan? Kota ini adalah contoh sempurna bagaimana sejarah, budaya, dan modernitas bisa bersatu dalam harmoni yang Bestari.
---------
Penulis adalah Mahasiswa Prodi Kajian Film, Televisi, dan Media di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang.

Komentar Via Facebook :