Indah Tak Harus Mengorbankan Rezeki: Suara Kecil dari Taman Gurindam 12

Indah Tak Harus Mengorbankan Rezeki: Suara Kecil dari Taman Gurindam 12

Suasana di taman gurindam 12 Tanjungpinang. (Foto: istimewa)

Rhuuzi Wiranata

Oleh: Husban Ma'Ali

Taman Gurindam 12 di Kota Tanjungpinang kembali ramai diperbincangkan. Pemerintah daerah tengah menata kawasan ini agar lebih tertib, bersih, dan menarik bagi wisatawan. Tujuannya tampak mulia: menjadikan taman ini sentra UMKM yang menggerakkan ekonomi rakyat. Namun, di balik semangat membangun wajah kota, terselip pertanyaan penting apakah penataan ini benar-benar memberdayakan pelaku kecil, atau justru menggeser mereka dari ruang hidup yang telah mereka rawat selama ini?

Ruang Publik yang Hidup dari Rakyat

Sejak diresmikan beberapa tahun lalu, Taman Gurindam 12 telah menjadi jantung aktivitas masyarakat Tanjungpinang. Setiap sore, taman ini dipenuhi warga yang berolahraga, bersantai, atau menikmati jajanan khas Melayu dari pedagang kaki lima. Di tempat inilah denyut ekonomi rakyat kecil terasa nyata.

Kini, taman itu akan ditata ulang. Seperti kios dan area kuliner akan diatur lebih rapi, sementara pedagang diminta menyesuaikan diri dengan konsep baru. Secara konsep, langkah ini patut diapresiasi. Siapa yang tidak ingin ruang publik yang indah dan tertib? Namun bagi sebagian pedagang, penataan ini menimbulkan kekhawatiran. “Kami setuju taman ini ditata, tapi jangan sampai kami tidak bisa berjualan berbulan-bulan,” ujar seorang pedagang dalam wawancara media lokal.

Pernyataan sederhana itu menyimpan makna dalam: bahwa di balik setiap lapak, ada dapur keluarga yang harus tetap mengepul.

Menata Tanpa Mematikan

Pemerintah Kota Tanjungpinang menegaskan bahwa penataan ini bertujuan menjadikan taman sebagai pusat ekonomi kreatif dan kuliner lokal. Langkah ini sejalan dengan visi pembangunan pariwisata berkelanjutan Kepulauan Riau. Tetapi keberhasilan tidak cukup diukur dari tampilan taman semata. Penataan fisik harus dibarengi dengan penataan kapasitas.

Data Dinas Koperasi dan UKM Kepri tahun 2025 mencatat, lebih dari 60% pelaku usaha mikro belum memiliki akses pembiayaan formal dan belum pernah mengikuti pelatihan digital.

Artinya, tanpa pendampingan dan penguatan kapasitas, penataan hanya akan memoles permukaan bukan memberdayakan akar ekonomi rakyat.
Menata tanpa mematikan berarti menghadirkan kebijakan yang inklusif: melibatkan pedagang dalam perencanaan, menyediakan solusi transisi, dan memastikan mereka tetap bisa berjualan tanpa kehilangan penghasilan.

Kolaborasi, Bukan Instruksi

Pembangunan ruang publik seharusnya berangkat dari kolaborasi. Pemerintah, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha perlu duduk bersama. Model collaborative governance di mana kebijakan disusun dengan partisipasi aktif warga menjadi kunci agar penataan berjalan adil dan transparan.

Ruang publik seperti Taman Gurindam 12 adalah milik bersama. Ketika prosesnya dilakukan dengan partisipatif, taman itu akan benar-benar menjadi ruang hidup warga, bukan sekadar “proyek kota” yang indah tapi asing bagi rakyatnya.

Menumbuhkan Kota Kreatif yang Memanusiakan

Tanjungpinang punya potensi besar sebagai kota budaya dan kuliner pesisir. Dengan tata ruang yang baik, promosi digital yang kuat, dan dukungan infrastruktur seperti area parkir dan internet publik, taman ini bisa menjadi simbol “kota kreatif pesisir tempat di mana ekonomi, budaya, dan identitas lokal tumbuh bersama.”

Tapi yang paling penting, pembangunan harus tetap berpusat pada manusia. Taman yang indah adalah taman yang mampu menampung keberagaman aktivitas warganya — dari seniman, wisatawan, hingga pedagang kecil yang mencari rezeki halal.

Penutup: Merawat Ruh Taman

Penataan Taman Gurindam 12 adalah cermin bagaimana sebuah kota memperlakukan rakyatnya. Apakah pembangunan berarti memperindah ruang dengan mengorbankan yang lemah, atau justru memperindah dengan melibatkan mereka yang selama ini menghidupinya?

Keindahan sejati tidak lahir dari taman yang bersih semata, melainkan dari taman yang adil tempat semua warga punya ruang untuk tumbuh, bekerja, dan bermimpi. Taman Gurindam 12 seharusnya bukan hanya wajah kota, tetapi juga cermin kemanusiaan Tanjungpinang.

-------------------------

Penulis adalah mahasiswa prodi kajian film, televisi dan media di Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :