Warga Rempang Gelar "Pasar Rakyat Melawan" Tolak Penggusuran di Tahun Kedua Tragedi
Suasana Pasar Rakyat Melawan di lahan Kosong Sembulang, Minggu (7/9) siang. Selama acara warga menjajakan sayur-sayuran, buah dan ikan hasil alam dengan harga sangat murah. Foto : Tommy Purniawan
Batam, Batamnews - Dua tahun telah berlalu sejak tragedi Rempang-Galang, namun semangat warga untuk mempertahankan tanahnya tak juga padam. Pada Minggu, 7 September 2025 siang, ratusan warga berkumpul di sebuah lahan kosong di Sembulang.
Mereka bukan hanya mengenang, tetapi juga merayakan perlawanan melalui "Pasar Rakyat Melawan".
Di atas tanah yang mereka perjuangkan, sayur-mayur, buah-buahan, dan ikan segar dijajakan dengan harga sangat murah. Suasana riuh rendah penjual dan pembeli menciptakan gambaran tentang kemandirian dan kekayaan alam yang selama ini menjadi sumber kehidupan mereka.
Baca juga: Warga Taman Raya Batam Gondol Bandar Narkoba, Polisi Kembangkan Jaringan
Tak hanya berjualan, aksi itu juga diwarnai dengan puluhan pertunjukan seni Melayu. Tarian rakyat dan pembacaan puisi yang mengkritik pemerintah, khususnya Pemerintah Kota dan BP Batam, turut menyemarakkan acara. Setiap gerakan dan setiap bait puisi menjadi suara yang menuntut keadilan.
Isaka, Ketua Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (Amargebe), dengan tegas menyatakan bahwa acara ini adalah bentuk penolakan terhadap rencana penggusuran.
"Kami memiliki alasan kuat untuk mempertahankan tanah leluhur yang telah kami tempati secara turun-temurun," ujarnya di sela-sela kegiatan.
Ia menjelaskan, kekayaan laut dan darat Rempang adalah bukti nyata bahwa tanah ini mampu menopang kehidupan warga.
Para nelayan, pedagang sayur, dan penjual ikan menggantungkan hidupnya pada sumber daya alam itu. “Rempang ini kaya. Jangan dirusak, jangan dihilangkan kampung tua kami,” serunya.
Penolakan warga bukan tanpa alasan. Selain alasan ekonomi, mereka juga ingin mempertahankan adat dan budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
“Kami ingin hidup di tanah kami sendiri, tanpa ancaman penggusuran. Inilah bentuk perlawanan kami,” tegas Isaka.
Baca juga: Digeledah Kejaksaan, Ruko di Nongsa Diduga Terkait Korupsi Pajak Hotel
Menurutnya, pembangunan seharusnya tidak mengorbankan hak-hak warga lokal. Pemerintah harus mencari solusi yang manusiawi, agar kesejahteraan rakyat tetap terjaga tanpa harus kehilangan tanah warisan leluhur.
Hingga kini, warga Rempang terus menyuarakan aspirasi melalui aksi damai dan pernyataan sikap.
Mereka berharap pemerintah mendengarkan suara rakyat kecil dan menghargai keberadaan kampung tua. "Rempang bukan hanya tanah, tapi juga identitas dan kehidupan kami. Jika digusur, hilanglah sejarah dan masa depan kami,” pungkas Isaka.

Komentar Via Facebook :