Dibalik Kemilau Pacu Jalur Dibuka Wapres Gibran, Sungai Kuantan Kembali Bernyawa dari Tambang Ilegal
Ritual sebelum dimulainya pacu jalur sebuah perahu hias diisi sejumlah petinggi.
Riau, Batamnews – Kemeriahan pesta rakyat Pacu Jalur di Sungai Batang Kuantan, Rabu, 20 Agustus 2025, mencapai puncaknya. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka secara resmi membuka event budaya yang mendunia itu, dihadiri sejumlah menteri, Kepala PCO, hingga influencer dalam dan luar negeri.
Sorak sorai penonton menyambut setiap jalur (perahu panjang) yang melesat di sungai seakan menyatu dengan gemuruh eforia.
Namun, di balik aura glamor dan gegap gempita yang menyedot perhatian nasional itu, tersimpan sebuah keajaiban yang bagi warga lokal terasa lebih dahsyat daripada gemuruh pacu jalur sendiri: air Sungai Kuantan yang jernih dulunya sempat membiru kecoklatan.
Bebatuan di dasar sungai di pinggir terlihat jelas. Kawanan ikan-ikan kecil berkejaran dalam kelompoknya. Pemandangan yang seolah memutar waktu ke tiga dekade silam, sebelum lubang-luka bernama Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) atau tambang ilegal menggerogoti tubuh sungai.
Baca juga: Viral! Fakta Sejarah Pacu Jalur Kuansing Ternyata Lebih Tua dari yang Dikira
Dari Lumpur Coklat ke Air yang Berkilau
Sebelum operasi penindakan PETI digalakkan Polda Riau secara serius, wajah Sungai Kuantan pilu.
Dari hulu di Kuantan hingga hilir di Cerenti, airnya pekat seperti lumpur tanah. Penyebabnya, ribuan rakit PETI memenuhi alirannya, menyedot dan menggerus tanah yang mengandung emas, lalu membuang sisa pengolahan beracun langsung ke sungai.
Kini, dari kejernihan air yang terhampar, sulit dibantah bahwa kekeruhan selama puluhan tahun adalah buah pahit dari maraknya PETI. Sebuah kebenaran yang terekam jelas oleh alam.
Bagi masyarakat Kuantan, sungai bukan sekadar aliran air. Ia adalah nadi kehidupan, ruang sosial, penyangga ekonomi, dan pusat budaya.
“Dulu, air yang bening membuat kami leluasa mencuci, mandi, dan yang utama, mencari ikan,” kenang seorang warga dikutip dari video warga.
Setelah lelah menyadap karet, warga biasa menurunkan jala dalam ritual tradisional 'Mengopuang'—menangkap ikan secara beramai-ramai. Hasilnya tak pernah mengecewakan. Ikan yang melimpah bukan hanya untuk lauk, tetapi juga biaya sekolah anak-anak.
“Sejak PETI marak, ikan menghilang. Air keruh seperti lumpur, habitat rusak. ‘Mengopuang’ pun tinggal kenangan,” ujarnya.
Budaya pacu jalur, sang magnet wisata dunia, juga terancam. Aktivitas PETI menyebabkan pendangkalan masif di banyak titik. Gelanggang pacu di Tepian Nerosa Telukkuantan bahkan harus dikeruk dalam-dalam hanya agar jalur-jalur terpanjang di dunia itu bisa berlaga.
Ada ironi yang pahit. Saat razia digencarkan, para pemodal PETI kerap bersembunyi di balik dalih “rakyat kecil yang kesulitan ekonomi”.
“Mereka yang susah itu hanya pekerja upahannya, bukan pemodalnya. Yang benar-benar susah justru kami di desa-desa sepanjang sungai. Kami tak bisa lagi mencari ikan, sungai kami rusak,” tukas seorang warga lain.
Baca juga: Lagu 'Young Black & Rich' Viral, Melly Mike Akan Hibur di Festival Pacu Jalur Riau Agustus 2025
Keberhasilan Polda Riau membersihkan PETI, yang bertepatan dengan momen pacu jalur, disambut syukur. Namun, harapan terbesar warga adalah komitmen ini berkelanjutan, tidak hanya musiman saat pesta rakyat.
“Jika Sungai Kuantan dipenuhi ikan seperti tiga dekade lalu, kehidupan masyarakat di pedesaan akan semakin sejahtera,” demikian harapan yang disampaikan seorang wartawan PWI Kuansing.
Air jernih yang memantulkan kemilau pacu jalur hari ini adalah secercah harapan. Ia adalah janji bahwa Sungai Kuantan bisa kembali menjadi ibu yang baik, yang memberi kehidupan, bukan lagi korban yang terluka. Kemeriahan pacu jalur akan berlalu, tetapi doa agar sungai tetap jernih akan terus mengalir, seperti aliran Sungai Kuantan itu sendiri.
Komentar Via Facebook :