Tragedi di Laut Hitam: Tiga Perenang Tewas Akibat Ledakan Ranjau di Pantai Ukraina
Tangkapan layar video X beberapa perenang wisatawan ketakutan akibat ledakan yang tewaskan sejumlah pengunjung.
Jakarta, Batamnews – Tiga orang tewas setelah ranjau laut meledak di dekat pantai yang dipenuhi wisatawan di Ukraina, Minggu, 10 Agustus 2025. Dua pria dan satu wanita dilaporkan meninggal di dua lokasi berbeda setelah ranjau tersebut hanyut ke dekat pantai dan meledak saat mereka berenang di Laut Hitam.
Menurut laporan setempat, ledakan terjadi sekitar 50 meter dari garis pantai di Pantai Zatoka dan Karolino-Buhaz. Rekaman mengejutkan memperlihatkan para pengunjung pantai berdiri terkejut ketika ledakan memunculkan semburan air tinggi ke udara.
Beberapa saat kemudian, potongan tubuh korban terlihat terdampar di tepi pantai, sementara seorang perempuan duduk menangis di pasir.
Baca juga: Pesawat Jatuh, 4 Tewas dan Bangunan Hancur – Pilot dan Warga Jadi Korban
Ledakan itu terjadi di pantai-pantai yang telah dilarang untuk berenang sejak meletusnya konflik laut antara Rusia dan Ukraina yang membuat Laut Hitam dipenuhi ranjau.
Kepala Administrasi Militer Regional Odesa, Oleh Kiper, menegaskan bahwa korban mengabaikan tanda larangan.
“Bahaya mematikan di air: tiga nyawa melayang akibat mengabaikan larangan,” tulis Kiper di Telegram.
“Satu pria meninggal di Karolino-Buhaz, satu pria dan satu wanita di Zatoka. Semuanya tewas akibat ranjau saat berenang di area yang dilarang untuk rekreasi,” tambahnya.
Dinas Medis Darurat Oblast Odesa menyebut, ledakan terpisah itu terjadi dengan selang waktu kurang dari 30 menit di zona terlarang untuk berenang.
Saat ini, tim investigasi, penjinak bom, dan petugas penyelamat bekerja di lokasi kejadian. Kiper menambahkan, terdapat 32 area berenang yang aman dan bebas ranjau di wilayah tersebut.
“Kami mengingatkan: saat alarm udara, gelombang mencapai 2 poin, atau terdeteksi benda mencurigakan – masyarakat DILARANG memasuki laut,” tegasnya.
Insiden ini terjadi di tengah kabar bahwa pembicaraan gencatan senjata antara Ukraina dan Rusia berpotensi digelar pekan ini. Menurut lembaga kajian CSIS, perang telah menewaskan hingga 100.000 tentara Ukraina, sementara korban di pihak Rusia mendekati satu juta jiwa.
Baca juga: Nonton Video Sabung Ayam Saat Sidang, Anggota DPR Filipina Kena Callout!
Terdapat kekhawatiran bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin melihat peluang pertemuan dengan Donald Trump untuk mengamankan keuntungan teritorialnya, sekaligus mencegah Ukraina bergabung dengan NATO dan menjadi tuan rumah pasukan Barat, yang dapat membuat Moskow secara perlahan menarik Ukraina kembali ke pengaruhnya.
Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tetap pada pendiriannya. Ia bersedia menerima gencatan senjata yang diusulkan Trump, namun menegaskan Ukraina tidak akan meninggalkan upaya bergabung dengan NATO dan tetap menolak klaim aneksasi Rusia atas wilayahnya.

Komentar Via Facebook :