Cerita Horor Penjaga Eks Camp Vietnam Pulau Galang, Banyak Cerita Mistis

Salah satu sudut bangunan peninggalan eks pengungsi Vietnam di Pulau Galang. (Foto: Iskandar/Batamnews)

BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Lokasi eks pengungsian manusia perahu dari Vietnam atau dikenal dengan Camp Sinam Pulau Galang, banyak menyimpan cerita misteri. Beberapa cerita, sepeninggal para pengungsi Vietnam yang pergi ke negara ketiga dan ke negaranya, bermunculan.

Saat ini sejumlah kenangan, seperti bangunan-bangunan rumah, sekolah, rumah sakit, serta tempat ibadahnya masih bisa disaksikan. Mereka mengungsi sekitar tahun 1979. Pada saat itu tengah berkecamuk perang saudara di negera mereka.

 

Salah satu gerbang menuju bangunan peninggalan eks pengungsi Vietnam. (Foto: Iskandar/Batamnews)

 

Beberapa bangunan yang kini masih terawat diantaranya Vihara Quan Am Tu, Gereja Katolik Nha Tho Duc Me Vo Nhiem, Gereja protestan, dan juga mushola. Selain itu seperti Vihara Quan Am dan bangunan yang lain seperti tempat tinggal pengungsi, rumah sakit, kantor UNHCR sudah terlihat hancur.

Camp Sinam terletak di Pulau Galang, Kepulauan Riau. Dari pusat kota Batam, lokasi ini bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi, butuh waktu kurang lebih satu jam untuk mencapai ke sana.

Kini lokasi tersebut dikelola oleh BP Batam, dan menjadikannya situs bersejarah. Hampir setiap pekan Camp Vietnam  kerap dikunjungi warga Batam, maupun luar Batam bahkan wisatawan asing.

Untuk masuk ke lokasi, para pengunjung biasanya harus membayar uang sejumlah Rp 10.000 untuk mobil dan Rp 5.000 untuk motor.

Penduduk setempat, Sumardi (51), yang bekerja sebagai pekerja di eks pengungsian itu bercerita banyak kejadian aneh yang ia temui. Terutama semenjak lokasi tersebut tak lagi ditunggu pengungsi atau ditinggal.

Pernah ada kejadian aneh, seorang pengunjung yang sedang berselfie di salah satu bangunan tempat terjadinya peristiwa pemerkosaan, tiba-tiba di kamera ponselnya muncul sosok penampakan diduga makhluk halus.

 

Salah satu bangunan peninggalan lainnya. (Foto: Iskandar/Batamnews)

 

"Ada salah seorang pengunjung pengungsian yang tiba-tiba sakit setelah selfie di monumen kemanusiaan itu," ujar Sumardi, Sabtu (26/3/2016).

Selain pengunjung, ia juga mengaku melihat hal yang aneh saat piket. Ia pernah melihat bayangan banyak orang, suara, rintihan, tangisan, tawa. "Tapi saya , tidak terlalu memperdulikan hal tersebut," kata dia.

Sumardi mengatakan, di lokasi tersebut memang banyak cerita miris para pengungsi. Ia menambahkan, di lokasi tersebut terdapat 503 kuburan pengungsi Vietnam yang meninggal akibat wabah penyakit bawaan, dan tidak sedikit pula yang bunuh diri akibat depresi.

"Tekanan kejiwaan, kriminalitas antar pengungsi sangat tinggi, seperti pemerkosaan, penyiksaan dan meninggal karena bunuh diri akibat depresi," ungkap Sumardi.

Pada waktu itu, sambung Sumardi, hidup di pengungsian, bagi mereka bagai hidup di neraka. Banyak yang tak tahan dan bahkan bunuh diri atau saling bunuh.

Selain itu ada yang lebih miris. Di sekitar monumen yang dibuat UNHCR (United Nation High Commission for Refugees), terdapat patung kemanusian. Konon di sana ada seorang pengungsi erempuan Vietnam (Tinhnhan Loai), yang nekat mengakhiri hidupnya setelah diperkosa oleh 7 orang pengungsi pria.

Sumardi menambahkan, ada juga kisah bunuh diri dengan cara  membakar dirinya setelah ditolak sebagai pengungsi. Hal yang sama juga terjadi pada seorang kopral Vietnam Selatan (pokong), ia melakukan gantung diri setelah status pengungsi dan permohonan peninjauan ulang, ditolak dan ada yang juga membakar dirinya di depan kantor UNHCR, menyabet perutnya dan membakar dirinya.

"Macam-macam kisah pilu yang di alami 'Manusia Perahu' di Pulau Galang Indonesia dulu dan dulu masyarakat di sekitar sini dilarang berinteraksi dengan pengungsi," kata Sumardi.

 

[is]

SHARE US :