`Dijemput, Dikeroyok, Didiamkan`: Kisah Pilu Vanza, Siswa MTsN 1 Batam yang Disiksa Teman Sekolah
Ilustrasi
Batam, Batamnews – Suasana haru dan amarah menyelimuti ruang mediasi darurat yang digelar Kamis malam, 24 April 2025. Keluarga Vanza Prayoga Alfaros, siswa MTsN 1 Batam, memaksa pihak sekolah duduk bersama mereka—bukan untuk mencari damai, tapi untuk mencari keadilan.
Sang ibu, Rosi Sepriyani, sudah tak sanggup lagi menahan pertanyaan yang terus menghantui: apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya?
“Saya datang siang ke sekolah, cuma disuruh bawa Vanza berobat. Tidak ada penjelasan,” kata Rosi kepada Batamnews.co.id. Maka, malam itu, semua dikumpulkan. Pihak pelaku, korban, para saksi dari kelas 9, ustadz asrama, guru, dan keluarga masing-masing. Semua hadir. Pertemuan yang dipaksa, tapi justru membuka fakta mengerikan.
Dimulai dari Canda, Berujung Teror
Senin, 21 April 2025
Di sela jam kosong, Vanza dan temannya Hadad tengah bercakap ringan di kelas. Topiknya? Hal sepele—soal ayah teman mereka, Jihan. Hadad bertanya apakah Vanza tahu wajah ayah Jihan. Vanza menjawab pernah melihat saat pawai lebaran. Hadad menimpali dengan candaan, “Berarti MKKB dong (Masa Kecil Kurang Bahagia).”
Tawa meledak di kelas. Obrolan selesai. Tapi tidak bagi Jihan.
Selasa pagi, 22 April 2025.
Jihan datang dengan emosi. Ia membawa sapu, menodongkan ke Vanza dan Hadad. “Ko berdua ngomong apa soal bapakku kemarin?” katanya dengan nada tinggi. Kedua bocah itu hanya diam. Jihan menangis, dan tangis itu mengalir ke telinga kakaknya, Lukman, siswa kelas 9.
Tak lama, perintah tak tertulis pun dijalankan.
Diteror di Kamar Asrama
Selasa siang, jam 14.45 WIB.
Vanza dan Hadad baru saja hendak pulang. Tiba-tiba, Said, siswa kelas 9, menjemput mereka. Alasannya? Disuruh ke kamar asrama kelas 7. Tanpa curiga, keduanya ikut. Tapi saat pintu terbuka, tubuh mereka membeku.
16 siswa kelas 9 sudah menunggu.
Lukman berdiri paling depan. Di belakangnya, ada Rf, Sd, Ad, Ft, Nb, Sb, Fr, Mn, Nj, Ar, Bm, Saz, Zak, Far, dan Zik. Pintu ditutup rapat. Kamar berubah jadi ruang “eksekusi”. Tidak ada guru. Tidak ada kamera. Tidak ada jalan keluar.
“Anak Saya Dikeroyok!”
Itulah yang akhirnya terungkap dalam mediasi malam itu. Semua nama disebut. Semua kejadian dikonfirmasi. Tapi pertanyaannya tetap: kenapa sekolah diam?
“Saya sebagai ibu hanya ingin kejelasan, bukan ditenangkan tanpa penjelasan,” tegas Rosi.
Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak MTsN 1 Batam. Pihak keluarga mendesak agar kasus ini ditangani serius, tidak dianggap sebagai "masalah anak-anak semata".
Klarifikasi dari Pihak Sekolah
Kepala MTSN 1 Batam, Khairina, membenarkan bahwa insiden bermula dari ejekan antar siswa.
“Pada Selasa, 22 April, Luqman memukul dan menendang Vanza dan Hadad saat menjelang salat Ashar,” ujarnya.
Hadad mengalami memar ringan, sedangkan Vanza mengeluh sakit di bahu. Pada malam harinya, ia hanya dibawa untuk dipijat. Besoknya, baru pihak sekolah membawa Vanza ke Klinik Budi Kemuliaan Bengkong, dan hasil rontgen menunjukkan ada patah tulang di bagian bahu.
Ahli ortopedi dari RS Mayapada Jakarta, dr. Windi Martika, menyatakan bahwa Vanza dapat sembuh tanpa operasi dengan penanganan yang tepat.
Komentar Via Facebook :