Kronologi Lengkap Versi Keluarga Korban Kasus Dugaan Pengeroyokan Siswa MTSN 1 Batam

Kronologi Lengkap Versi Keluarga Korban Kasus Dugaan Pengeroyokan Siswa MTSN 1 Batam

Seorang siswa kelas 1 jalur asrama, Vanza Prayoga Alfaros, diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah senior (Foto: Ist. Batamnews)

Zuhri Muhammad

Batam, Batamnews – Kasus dugaan kekerasan terhadap siswa kembali mencuat, kali ini terjadi di lingkungan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTSN) 1 Batam. Seorang siswa kelas 1 jalur asrama, Vanza Prayoga Alfaros, diduga menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah senior. Kejadian itu menyebabkan Vanza mengalami patah tulang bahu dan luka lebam parah.

Berikut adalah kronologi lengkap versi keluarga korban:

Selasa, 22 April 2025 – Dugaan Pengeroyokan Terjadi

Insiden bermula pada Selasa siang, 22 April, ketika Vanza berada di asrama sekolah. Berdasarkan penuturan ibunya, Rosi Sepriyani, Vanza diduga dikeroyok oleh sekitar 16 orang senior yang tinggal di asrama yang sama.

Usai kejadian, Vanza tidak langsung melapor karena ketakutan. Ia kembali ke kamar dalam kondisi kesakitan, tanpa penanganan atau laporan dari pihak asrama.

Selasa malam – Rabu malam (22–23 April) – Kondisi Korban Memburuk

Vanza mengalami demam tinggi dan mengeluh nyeri hebat di bagian tubuh kanannya, terutama bahu dan lengan. Namun pihak sekolah maupun asrama tidak mengambil tindakan medis dan tidak menghubungi orang tua korban.

Kamis, 24 April – Baru Diberitahu dan Dibawa ke RS

Baru pada Kamis pagi, pihak sekolah menghubungi orang tua Vanza dan menginformasikan bahwa anak mereka mengalami kejadian di asrama. Vanza langsung dibawa ke RS Budi Kemuliaan Batam untuk pemeriksaan.

Hasil rontgen dan pemeriksaan dokter ortopedi menyatakan bahwa tulang bahu kanan Vanza patah dan bengkok, dengan memar dan lebam di sekujur tubuh bagian kanan. Dari sinilah pihak keluarga merasa ada upaya pembiaran dan penutupan dari sekolah.

Jumat, 25 April – Kasus Dilaporkan ke Polisi

Keluarga merasa tidak terima atas lambannya respons pihak sekolah, dan langsung membuat laporan ke Polresta Barelang. Laporan teregister dengan nomor:
STTLP/B/119/IV/2025/SPKT/Polresta Barelang
Atas dugaan tindak pidana kekerasan terhadap anak.

Dalam laporan tersebut, korban dicatat mengalami luka serius dan nama-nama saksi serta kronologi kejadian turut dicantumkan.

Satu Bulan Berlalu, Belum Ada Penyelesaian

Hingga kini, sudah satu bulan lebih sejak kejadian, namun pihak sekolah belum mempertemukan pihak korban dengan pelaku. Keluarga juga menyebut bahwa sekolah mengaku CCTV asrama rusak, sehingga tidak ada bukti visual atas peristiwa tersebut.

Pihak keluarga merasa proses mediasi tidak dilakukan dengan serius, dan ada kesan pengabaian karena sebagian pelaku disebut sudah menyelesaikan ujian dan tidak lagi berada di asrama.

Ada Korban Lain, Diduga Diselesaikan Diam-diam

Selain Vanza, teman sekelasnya bernama Hadad juga menjadi korban dalam insiden yang sama. Hadad mengalami memar dan cedera pada bagian rahang, namun orang tuanya tidak mendapat informasi dari sekolah, dan baru mengetahui kejadian setelah dihubungi oleh ibu Vanza.

Permintaan Keadilan

Keluarga Vanza berharap kasus ini tidak diselesaikan secara kekeluargaan, melainkan diproses secara hukum agar memberikan efek jera. Mereka juga meminta Kementerian Agama, sebagai otoritas pembina madrasah, serta aparat penegak hukum agar mengawal kasus ini hingga tuntas.

“Anak saya datang ke sekolah untuk belajar, bukan untuk dianiaya. Jangan ada lagi pembiaran seperti ini,” ujar Rosi, ibunda Vanza, dengan penuh harap.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :