Menggali Warisan Leluhur, Wisatawan Kelantan Malaysia Ziarah ke Pusat Peradaban Melayu di Lingga
Sebanyak 20 orang wisatawan dari Kelantan, Malaysia, menggelar kegiatan ziarah sejarah selama tiga hari di Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, mulai dari Jumat, 2 Mei hingga Minggu, 4 Mei 2025. (Foto: istimewa)
Lingga, Batamnews – Sebanyak 20 orang wisatawan dari Kelantan, Malaysia, menggelar kegiatan ziarah sejarah selama tiga hari di Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, mulai dari Jumat, 2 Mei hingga Minggu, 4 Mei 2025. Rombongan ini dipimpin langsung oleh tokoh agama dan pimpinan Pondok Pesantren Yayasan Rahmah Al Mustafa, Abuya Abu Aswad bin Zakaria Al Kubro.
Kunjungan ini menjadi momen penting dalam mempererat hubungan budaya dan sejarah antara masyarakat Melayu di Malaysia dan Indonesia. Daik Lingga, yang dikenal sebagai salah satu pusat peradaban Melayu klasik, menyimpan warisan sejarah yang menjadi daya tarik utama ziarah ini.
Destinasi pertama rombongan adalah Masjid Jami’ Sultan Lingga, masjid bersejarah yang menjadi simbol kekuatan spiritual dan budaya Islam di Daik Lingga. Setelah itu, rombongan melanjutkan ke Makam Pahlawan Nasional Indonesia, Sultan Mahmud Riayat Syah, sosok penting dalam sejarah perjuangan melawan penjajahan yang dikenal dengan strategi gerilya laut di kawasan Melayu.
Ziarah berlanjut ke Istana Damnah, peninggalan kesultanan Lingga yang masih bisa disaksikan dari tapak-tapak istana yang sudah mulai dimakan zaman. Di tempat ini, para peserta disuguhi kisah-kisah kejayaan Kesultanan Riau-Lingga.
Tak jauh dari sana, rombongan juga mengunjungi Museum Linggam Cahaya, pusat dokumentasi sejarah dan kebudayaan Melayu yang menyimpan berbagai koleksi penting, mulai dari artefak hingga naskah-naskah kuno.
Salah satu kunjungan yang penuh makna adalah ke Makam Merah Raja Muhammad Yusuf Al Ahmadi, seorang ulama dan tokoh penting dalam penyebaran Tarekat Naqsabandiyah yang berjasa dalam penyebaran Islam dan pengembangan ilmu pengetahuan di wilayah Melayu.
Rombongan juga menyempatkan waktu singgah ke rumah situs cagar budaya Tengku Shaleh Damnah, tempat yang menyimpan sejumlah manuskrip penting dan catatan sejarah berharga dari tokoh besar tersebut. Rumah ini menjadi saksi bisu aktivitas intelektual dan peradaban Melayu masa lalu.
Menutup rangkaian ziarah, rombongan menikmati keindahan alam Lingga di Air Terjun Resun, sebuah destinasi wisata alam yang menyegarkan dan memberikan kesan mendalam setelah perjalanan spiritual dan historis yang intens.
Dalam kegiatan ini turut hadir Lazuardy, seorang pegiat sejarah Melayu yang selama ini aktif dalam pelestarian budaya setempat, serta Megat Haspariansyah, zuriyat atau keturunan langsung dari Sultan Mahmud Riayat Syah.
Saat dimintai tanggapannya, Megat menyampaikan harapan besar terhadap pelestarian sejarah di Lingga. “Saya mengajak semua kalangan masyarakat untuk menelaah kembali sejarah sebagai pedoman dalam menata Lingga ke depan. Sejarah adalah identitas kita menuju sesuatu yang bermanfaat, terutama sejarah Melayu. Orang luar menilai Lingga ini luar biasa, karena terkonsep dengan baik,” ujar Megat dengan penuh optimisme.
Ia juga mengusulkan pembentukan komunitas sejarah sebagai wadah berhimpun berbagai pegiat budaya dan juga para seniman, agar dapat bersinergi dengan kalangan terkait dalam merawat dan mempromosikan kekayaan budaya Melayu.
Kegiatan ziarah sejarah ini bukan hanya menjadi sarana napak tilas perjalanan masa lalu, tetapi juga momentum mempererat hubungan antarbangsa yang memiliki akar budaya serumpun. Semangat kebersamaan, kekaguman terhadap sejarah, dan komitmen untuk melestarikan warisan Melayu menjadi benang merah yang mengikat setiap langkah perjalanan rombongan dari Kelantan tersebut.
Dengan kunjungan seperti ini, harapannya Daik Lingga semakin dikenal sebagai pusat warisan budaya Melayu yang tidak hanya mempesona, tetapi juga memberikan banyak ilmu pengetahuan.

Komentar Via Facebook :