Wawancara Khusus Menteri Masagos Zukifli: Mengapa Warga Singapura Enggan Menikah dan Punya Anak?

Wawancara Khusus Menteri Masagos Zukifli: Mengapa Warga Singapura Enggan Menikah dan Punya Anak?

Menteri Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura, Masagos Zulkifli, saat berbincang dengan Pemimpin Redaksi Batamnews, Zuhri Muhammad di program IJVP (Foto: Batamnews)

Zuhri Muhammad

Singapura menghadapi tantangan serius dalam tingkat kelahiran dan rendahnya angka kelahiran yang terus menurun. Banyak warga Singapura juga enggan menikah. Kala pun mereka menikah, memilih tidak memiliki anak. 

Bahkan, Elon Mask, CEO Tesla dan SpaceX, pernah menyebut, Singapura akan menjadi negara pertama yang akan punah di masa mendatang karena rendahnya populasi penduduk. Bayangkan, saat ini Singapura memiliki sekitar 3 juta penduduk pribumi, dan memiliki 500 ribu permanen residen, kemudian 1,8 juta adalah imigran. 

Menanggapi hal itu, Menteri Pembangunan Sosial dan Keluarga Singapura, Masagos Zulkifli, menjelaskan bahwa fenomena ini bukan hanya terjadi di negaranya, tetapi juga di banyak negara maju lainnya, termasuk China.

Masagos juga menyoroti bahwa perubahan struktur sosial dan sikap masyarakat berkontribusi besar terhadap rendahnya angka pernikahan dan kelahiran. 

"Ketika masyarakat semakin terdidik, struktur sosial berubah, begitu juga sikap terhadap pernikahan dan keluarga," ujar Masagos Zulkifli saat diwawancara Pemimpin Redaksi Batamnews.co.id, Zuhri Muhammad, pada 22 Januari 2025 di kantornya di Singapura.

Media online Batamnews.co.id menjadi salah satu media yang diundang dalam program Indonesia Journalists Visit Programme pada 21 Januari hingga 25 Januari 2025. Undangan dari Pemerintah Singapura itu memberikan kesempatan berdiskusi dan wawancara dengan enam menteri.

 

Marina Bay Sands, yang terlihat dari Singapore Barrage (Foto: Batamnews)

Selain itu, alasan lainnya, adalah, perempuan saat ini lebih mandiri dan memiliki kualifikasi akademik yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki, yang dapat memengaruhi keputusan mereka untuk menikah. 

"Misalnya, ada yang berpendapat bahwa perempuan yang lebih mandiri merasa tidak perlu menikah. Apakah itu benar? Saya tidak tahu," katanya. Di sisi lain, menurutnya, ada kecenderungan laki-laki enggan menikahi perempuan yang lebih berpendidikan atau berpenghasilan lebih tinggi dari mereka.

Angka kelahiran di Singapura terhitung sangat kecil 0,97 persen. "Idealnya, 2,1 persen. Itu perbandingan antara angka kelahiran dengan angka kematian," ujar Masagos. 

Masagos mengakui bahwa pemerintah telah mencoba berbagai kebijakan untuk mendorong kelahiran, termasuk insentif keuangan bagi keluarga yang memiliki anak pertama, kedua, dan seterusnya. 

Namun, efektivitas kebijakan ini masih menjadi tanda tanya. "Kami terus mencoba berbagai pendekatan, tetapi apakah ini berhasil? Kami tidak tahu. Kami hanya harus terus mencoba," ungkap Masagos. 

Orchard Road Singapore (Foto: Batamnews)

Ia bahkan berpesan kepada anak-anaknya tentang hal itu. "Kalian jangan mati sendirian, dan jangan hidup dalam kesepian," ujar menteri Singapura yang memiliki darah keturunan dari Palembang, Sumatera Selatan ini. 

Lebih lanjut, Masagos menekankan pentingnya hubungan manusia di luar sekadar stabilitas finansial. Menurutnya, banyak orang enggan menikah dan memiliki anak karena tidak ingin menghadapi tantangan dan ketidaksempurnaan dalam kehidupan berkeluarga. 

"Namun, justru dari tantangan itulah seseorang dapat lebih menghargai kehidupan," jelasnya. Ia berpendapat bahwa memiliki pasangan hidup dan anak membawa makna yang lebih dalam, yang tidak bisa diukur dengan nilai materi.

"Ketika seseorang sudah sukses, mereka mungkin tidak ingin ada ketidaksempurnaan dalam hidup mereka. Namun, hidup dalam ketidaksempurnaan membutuhkan cinta, dan itu berasal dari sisi kemanusiaan kita, bukan sisi rasional kita," tambahnya.

Masagos juga mengingatkan bahwa dukungan keluarga adalah sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh aspek lain dalam hidup.

"Anda bisa memiliki kemandirian finansial, tetapi ada sesuatu yang disebut hubungan manusia yang nilainya jauh melampaui uang. Sayangnya, banyak orang baru menyadarinya ketika mereka tidak lagi memilikinya," tuturnya.

Dengan tingkat kelahiran yang terus menurun, Singapura akan terus mencari solusi untuk mengatasi tantangan ini. Masagos menegaskan bahwa membangun kesadaran tentang pentingnya keluarga adalah langkah penting yang harus terus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat.

Masagos menambahkan bahwa tren ini terjadi di seluruh dunia, termasuk di negara-negara berkembang seperti China.

"Seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan penduduk, struktur masyarakat berubah, sikap sosial pun berubah," ujarnya. Teknologi dan media sosial juga dianggap memainkan peran dalam membentuk pola pikir masyarakat terhadap pernikahan dan keluarga.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :