Nelayan Bintan Panen Ikan Dingkis, Raup Keuntungan Besar Menjelang Imlek
Para nelayan di Bintan tengah sibuk panen ikan dingkis. Hasil tangkapan melimpah membuat mereka meraup keuntungan yang tidak sedikit. (Batamnews)
Bintan, Batamnews - Saat sebagian masyarakat menikmati waktu libur, para nelayan di Bintan justru tengah sibuk panen ikan dingkis. Hasil tangkapan yang melimpah membuat mereka meraup keuntungan yang tidak sedikit.
Menjelang perayaan Imlek, harga pasaran ikan dingkis melonjak drastis. Jika biasanya dijual dengan harga Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram, kini harganya bisa mencapai Rp220 ribu per kilogram.
Bahkan, ikan yang berisi telur dan berukuran lebih besar bisa dihargai hingga Rp300 ribu per kilogram.
Tingginya permintaan ikan dingkis tidak terlepas dari tradisi masyarakat Tionghoa yang kerap menyajikannya dalam perayaan Imlek, baik dengan cara dikukus (steam fish) maupun dipanggang.
Baca juga: Dampak Reklamasi di Bengkong Batam: Nelayan Sulit Melaut, Banjir Makin Parah
Permintaan tinggi terutama datang dari Batam dan Singapura, membuat para pengepul sigap menjemput hasil tangkapan nelayan untuk dikumpulkan di tempat penampungan.
Ikan dingkis memiliki nilai ekonomi yang signifikan bagi nelayan lokal. Momen Imlek menjadi kesempatan emas bagi mereka untuk mendapatkan keuntungan lebih besar.
Dalam sehari, nelayan bisa menghasilkan belasan hingga puluhan kilogram ikan dingkis, yang jika dihitung dapat mencapai jutaan hingga puluhan juta rupiah.
Salah satu nelayan, Razid, mengungkapkan bahwa ia sukses menjual 6 kilogram ikan dingkis dengan harga Rp1,9 juta. Ia biasa mendapatkan puluhan kilogram ikan dalam sehari dengan harga jual di atas Rp200 ribu per kilogram.
Puncak musim ikan dingkis diprediksi berakhir pada 27 dan 28 Januari 2025. Data dari balai karantina ikan mencatat bahwa ikan yang diekspor, khususnya ke Singapura, harus memenuhi standar kualitas tertentu.
Pada tahun 2024, perayaan Imlek yang jatuh pada 10 Februari menunjukkan hasil panen ikan dingkis mencapai 23 ton di bulan Februari dan meningkat hingga 1901,4 ton di bulan Maret dalam periode yang dikenal sebagai "dingkis balik".
Dengan harga yang terus meningkat, ikan dingkis dari Belakangpadang semakin diminati pelanggan.
Baca juga: Tahun Ular Kayu 2025: Kuliner Favorit Saat Perayaan Imlek
Perburuan ikan dingkis di Bintan bukanlah hal baru. Tradisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Panen ikan dingkis biasanya terjadi tiga kali dalam setahun, tergantung pada kondisi laut dan musim angin. Saat musim angin barat, ikan dingkis bertelur, meskipun harga jualnya tidak setinggi menjelang Imlek.
Meskipun memberikan keuntungan besar, proses penangkapan ikan dingkis penuh tantangan. Cuaca yang tidak menentu, arus laut yang kuat, serta kondisi perairan yang sulit diprediksi menjadi bagian dari keseharian para nelayan.
Pelestarian ikan dingkis terus dijaga dengan menerapkan siklus panen yang tetap hanya 3-4 kali dalam setahun. Nelayan menggunakan alat tangkap tradisional dan menunggu ikan dingkis berdatangan secara alami sesuai dengan arus laut, tanpa melakukan penangkapan secara aktif.
Dengan harga yang terus meningkat dan permintaan yang tinggi, ikan dingkis menjadi salah satu sumber penghidupan utama bagi para nelayan Bintan, terutama saat perayaan Imlek tiba.

Komentar Via Facebook :