Tumis Sulur Keladi: Hidangan Khas Banjar yang Lezat dan Mudah Dibuat di Tanjungpinang
Sulur keladi atau tumis keladi santan.
Tanjungpinang, Batamnews — Salah satu hidangan khas masyarakat Banjar yang kerap ditemukan di Kota Tanjungpinang adalah sulur keladi. Hidangan ini menggunakan sulur, tunas muda tanaman keladi, yang dikenal dengan tekstur unik dan cita rasa khas.
Sulur keladi mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional dengan harga yang terjangkau, berkat tanaman keladi yang tumbuh subur di berbagai daerah, terutama di Kalimantan dan Kepulauan Riau.
Sulur keladi biasanya dimasak dengan cara ditumis, sering kali dipadukan dengan udang sebagai pelengkap. Namun, sebelum diolah, ada teknik khusus yang harus diterapkan untuk memastikan sulur tidak menyebabkan rasa gatal saat dimakan.
Baca juga: Lezatnya Ikan Palumara Khas Makassar, Kuah Asam Segar yang Menggugah Selera
Sutanty, salah satu penjual lauk pauk khas Banjar di Tanjungpinang, mengungkapkan langkah penting dalam mengolah sulur keladi.
"Sulur keladi yang akan ditumis harus dibersihkan kulitnya terlebih dahulu dan dipotong pendek. Kemudian direbus dengan asam Jawa agar tidak gatal saat dimakan," jelasnya.
Alternatif bahan pendamping tumis sulur juga beragam. Mama Madan, seorang ibu rumah tangga yang gemar memasak kuliner Banjar, menambahkan bahwa sulur keladi bisa dikombinasikan dengan bahan lain sesuai selera.
Setelah direbus hingga sedikit empuk, sulur ditiriskan dan siap untuk ditumis bersama bumbu sederhana seperti bawang merah, bawang putih, cabai merah besar, dan cabai hijau.
"Bumbu tumisan sulur sama seperti masakan lainnya. Tinggal tambahkan garam dan penyedap rasa, serta tingkatkan rasa pedasnya sesuai selera," kata mama Madan.
Proses memasak tumis sulur keladi juga terbilang cepat. Dalam waktu sekitar 5 hingga 7 menit, hidangan sudah siap disajikan. Tumis sulur keladi cocok disantap bersama nasi putih hangat.
Baca juga: 5 Hidangan Khas Thailand Halal yang Mirip dengan Masakan Indonesia, Wajib
"Masakan ini mencerminkan kearifan lokal masyarakat Banjar yang pandai memanfaatkan bahan alami dari lingkungan sekitar," tutur mama Madan menutup perbincangan.
Hidangan ini tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menjadi bukti bahwa tradisi kuliner daerah terus hidup di tengah masyarakat, termasuk di perantauan seperti Tanjungpinang.

Komentar Via Facebook :