Saling Sindir Lewat Sastra: Lirik Lagu, Pantun, Puisi, dan Gurindam Penutup Pamungkas Debat Pilkada Lingga 2024

Saling Sindir Lewat Sastra: Lirik Lagu, Pantun, Puisi, dan Gurindam Penutup Pamungkas Debat Pilkada Lingga 2024

Debat unik Pilkada Lingga saling sindir antar paslon dengan bait gurindam, pantun dan puisi.

Nurjali

Lingga, Batamnews – Debat Pilkada Kabupaten Lingga yang berlangsung tadi malam di Gedung Nasional Dabosingkep pada Selasa, 12 November 2024, berakhir dengan nuansa budaya yang kental. 

Masing-masing pasangan calon (paslon) saling melempar sindiran dan pesan moral melalui sastra dan budaya Melayu yang memukau hadirin.

Pasangan Calon (Paslon) Nomor Urut 1, Nizar-Novrizal, mengakhiri sesi debat dengan gaya yang unik. Calon Bupati Lingga, Muhammad Nizar, memulai dengan pesan pembangunan berkelanjutan untuk daerah Lingga, yang kemudian disambut Novrizal dengan bait sastra Melayu yang mengandung nasehat mendalam. 

Dalam bait-bait yang dilantunkannya, Novrizal menyampaikan, "Jike berkate hendaklah berbahase, karene mulut badan binase, apabile terpelihare lidah niscaye dapat daripadenye faedah, kalau berjalan ikutlah batas, kalau berlayar gerakan haluan."

Baca juga: Makna Lirik Lancang Kuning di Debat Pilkada Lingga, Pesan Bijak Menyentuh Alias Wello untuk Kepemimpinan

Bait-bait tersebut mengingatkan pentingnya etika dan aturan dalam memimpin serta hidup bermasyarakat. 

Tidak mau kalah, Calon Wakil Bupati dari Paslon Nomor 2, Muhammad Ishak, membalas dengan gurindam yang khas. Salah satu bait yang disampaikan berbunyi, "Di Lingga ada Istana Damnah, tempat Sultan dan para raja, ape tande pemimpin amanah, rakyat sejahtera." 

Dalam pesan yang tersirat, Ishak menyampaikan pentingnya kepemimpinan yang amanah demi kesejahteraan rakyat, yang merupakan harapan masyarakat Lingga.

Tak berhenti di situ, Alias Wello, tokoh senior ini, mengutip petikan sastra Melayu yang mendalam: "Biarkan langit bersinar tapi orang tau siape bintangnya," seolah menyiratkan makna bahwa seorang pemimpin akan selalu terlihat lewat perbuatannya, bukan sekadar kata-kata. 

Ia juga menyanyikan sepenggal lirik lagu Lancang Kuning, yang berbunyi, "Kalau Nahkoda kuranglah paham alamatlah kapal akan tenggelam." 

Pesan ini mengingatkan bahwa seorang pemimpin harus bijak dan berwawasan luas agar rakyat dan daerah yang dipimpinnya tidak terlantar.

Baca juga: Sempat Ada Penolakan, KPU Pastikan Debat Kedua Pilkada Batam 2024 Tetap Digelar, Catat Waktunya!

Acara pun semakin syahdu ketika beberapa potongan puisi Sutarji Kalsum Bahri dibacakan, yang menggugah perlawanan terhadap praktik korupsi di Indonesia. 

Dengan lantang dan tegas, puisi ini seolah menjadi pengingat bahwa para pemimpin di Lingga harus berjuang bersama-sama melawan korupsi demi kepentingan rakyat dan negara.

Penyelenggaraan debat ini sekaligus mengingatkan akan kekayaan budaya Kabupaten Lingga, yang dikenal dengan sebutan Bunda Tanah Melayu. Lingga, yang pernah menjadi pusat Kerajaan Melayu, merupakan wilayah asal tumbuh dan berkembangnya budaya Melayu dan agama Islam di nusantara. 

Warisan budaya dan adat istiadat Melayu yang kuat terasa hidup kembali di setiap bait yang disampaikan para calon pemimpin.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :