Pegiat Medsos Tok Nuzu Pertanyakan Tradisi Mandi Safar di Daik Lingga, Marwah Budaya Melayu Mulai Luntur?

Pegiat Medsos Tok Nuzu Pertanyakan Tradisi Mandi Safar di Daik Lingga, Marwah Budaya Melayu Mulai Luntur?

Pegiat Media Sosial Budaya di Lingga, Tok Nuzu. (Foto: dok.Pribadi)

Rhuuzi Wiranata

Lingga, Batamnews - Penggiat media sosial budaya asal Daik Lingga, Tok Nuzu, atau memiliki nama lengkap Nuzu Chairu Akbar baru-baru ini mengangkat pertanyaan penting terkait hilangnya tradisi Mandi Safar yang dulunya kerap dilakukan di daerah yang dikenal sebagai "Bunda Tanah Melayu". Tradisi yang kaya akan nilai budaya ini, menurut Tok Nuzu, perlahan-lahan mulai dilupakan atau bahkan mungkin sengaja diabaikan oleh sebagian pihak.

Tok Nuzu menegaskan bahwa Mandi Safar bukan sekadar aktivitas mandi biasa, melainkan tradisi yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat Melayu. Tradisi ini biasanya dimulai dengan doa bersama dan niat yang mulia, yang dilakukan di tempat-tempat khusus seperti Balai Adat Melayu atau Pemandian Lubuk Papan di Daik Lingga.

“Sebagai daerah yang kaya akan sejarah dan budaya Melayu, seharusnya tradisi Mandi Safar tetap lestari di Daik Lingga. Mandi Safar itu bukan hanya sekadar mandi, tetapi mengandung makna yang dalam dan kaidah tersendiri, sehingga ia dikatakan sebagai tradisi. Dahulu, sebelum Mandi Safar, selalu ada kegiatan doa bersama dan niat yang mulia,” kata Tok Nuzu dengan nada prihatin.

Baca juga: Permainan Rakyat Semarakkan Tradisi Mandi Safar di Panggak Darat Lingga

Keberhasilan Desa Tetangga: Inspirasi atau Tantangan?

Pertanyaan Tok Nuzu semakin tajam ketika ia melihat kesuksesan desa tetangga seperti Desa Resun dan Desa Panggak Darat, yang masih melestarikan tradisi Mandi Safar dengan semarak. Kedua desa tersebut berhasil menggelar acara Mandi Safar dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat serta menyajikan berbagai kegiatan budaya yang menarik dan sesuai dengan niat pelaksanaan tradisi.

“Jika desa lain bisa menyelenggarakan tradisi Mandi Safar dengan sukses, mengapa Daik Lingga yang dianggap sebagai Bunda Tanah Melayu tidak bisa? Apakah julukan Bunda Tanah Melayu ini hanya sekadar simbol tanpa makna oleh pihak terkait?” tanya Tok Nuzu.

Ia berharap keberhasilan desa-desa tetangga bisa menjadi contoh dan inspirasi bagi masyarakat Daik Lingga serta pemerintah daerah untuk kembali menghidupkan tradisi leluhur mereka, sehingga gelar Bunda Tanah Melayu tidak hanya menjadi nama tanpa arti.

Baca juga: MUI Lingga Edukasi Masyarakat Hindari Khurafat dan Mudharat dalam Tradisi Mandi Safar

Faktor Penyebab Hilangnya Tradisi

Hilangnya tradisi Mandi Safar di Daik Lingga tentu menjadi perhatian banyak pihak, terutama di kalangan masyarakat setempat. Beberapa faktor yang diduga menjadi penyebabnya antara lain adalah modernisasi yang pelan-pelan menggerus nilai-nilai tradisional, pengaruh budaya luar, serta kurangnya minat generasi muda terhadap warisan leluhur.

“Modernisasi memang tidak bisa dihindari, tetapi bukan berarti kita harus kehilangan jati diri kita sebagai orang Melayu. Tradisi ini adalah warisan yang harus kita jaga bersama, bukan hanya sebagai aktivitas budaya, tetapi sebagai cerminan identitas kita,” tegas Tok Nuzu.

Baca juga: Mengenal Mandi Safar, Tradisi Turun Temurun di Lingga Negeri Bunda Tanah Melayu

Ajakan untuk Melestarikan Tradisi

Tok Nuzu berharap bahwa pertanyaan yang ia lontarkan ini dapat menjadi titik awal bagi masyarakat Daik Lingga untuk merenungkan kembali pentingnya menjaga tradisi Mandi Safar dengan marwahnya, bukan hanya sebagai kebiasaan tahunan belaka. 

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh agama, hingga generasi muda, untuk bersatu dan bekerja sama dalam melestarikan tradisi ini. Tradisi Mandi Safar selalu diperingati setiap Rabu terakhir di bulan Safar dalam hitungan tahun hijriah.

“Ayo, mari kita hidupkan kembali Mandi Safar sebagai bagian dari identitas kita. Jangan biarkan tradisi ini hilang di tengah arus modernisasi. Ini adalah tanggung jawab kita bersama,” tutup Tok Nuzu.

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :