Mantan Direktur Ifishdeco Tbk., Ineke Kartika Dewi Tersandung Kasus Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi Tambang Nikel

Mantan Direktur Ifishdeco Tbk., Ineke Kartika Dewi Tersandung Kasus Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi Tambang Nikel

Terdakwa kasus penipuan dan penggelapan, Direktur Ifishdeco Tbk., Ineke Kartika Dewi (Foto: Ist)

 

Batam, Batamnews – Pengadilan Negeri Batam tengah menangani kasus yang rumit dan serius terkait dugaan penipuan dan penggelapan dana investasi yang melibatkan mantan direktur keuangan perusahaan publik Ifishdeco Tbk., Ineke Kartika Dewi, SE. Kasus ini juga menyeret David M.H. Lumban Gaol dan sejumlah rekannya yang diduga secara sengaja dan melawan hukum menggelapkan dana investasi yang diberikan oleh Joan Clara Natasya untuk proyek penambangan bijih nikel di Sulawesi Tenggara.

Latar Belakang Kasus

Kasus ini bermula pada Januari 2020 ketika Joan Clara Natasya bertemu dengan Agoes Tjahjono di Batam. Agoes kemudian memperkenalkan Joan kepada saudara perempuannya, Ineke Kartika Dewi, yang mengklaim memiliki pengalaman luas di bidang tambang bijih nikel. Ineke menawarkan kerja sama kepada Joan untuk mendanai produksi bijih nikel, dengan janji keuntungan sebesar 7% hingga 8% per metrik ton bijih nikel yang terjual.


Ineke Kartika Dewi, terdakwa kasus penipuan dan penggelapan saat duduk disidang di PN Batam. 

Modus Pembentukan Perusahaan dan Penawaran Kerja Sama

Untuk memfasilitasi kerja sama ini, pada 13 Oktober 2020, Joan, Ineke, dan Agoes mendirikan PT. Delapan Daya Energi di Batam, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan bijih nikel. Joan berperan sebagai komisaris, sementara Ineke dan Agoes menjadi pemegang saham. Ineke juga berhasil meyakinkan Joan bahwa ia memiliki jaringan di Kementerian ESDM serta relasi smelter yang dapat menampung hasil produksi nikel mereka.

Penawaran dari David M.H. Lumban Gaol

Pada awal Januari 2021, David M.H. Lumban Gaol menghubungi Ineke dengan tawaran kerja sama produksi bijih nikel dari lokasi tambang di Desa Waturampa, Kecamatan Trobulu, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. David mengklaim bahwa tambang tersebut memiliki bijih nikel berkualitas baik dengan potensi keuntungan sekitar 7 hingga 8 dolar Amerika per metrik ton. Setelah verifikasi oleh saksi Dju Ming, yang ditunjuk sebagai direktur PT. Delapan Daya Energi, Joan setuju untuk menjadi investor dalam proyek tersebut.

Kronologi Penggelapan Dana

Setelah kesepakatan dicapai, pada 27 Januari 2021, PT. Delapan Daya Energi mentransfer Rp. 1.420.410.000,- ke rekening PT. Tiar Mora Tambang yang dikelola oleh David untuk persiapan dan penambangan tahap pertama. Namun, sebagian besar dana tersebut ditransfer ke rekening CV. Trust Cargo, dimana Ineke bertindak sebagai kuasa direksi, dan kemudian ke rekening pribadi Zulkifli Alias ZUL. Dana ini kemudian dikembalikan ke David melalui berbagai rekening, meninggalkan sisa dana Rp. 207.450.000,- yang masih berada di rekening Zulkifli Alias ZUL.

Pada 20 Februari 2021, PT. Tiar Mora Tambang melaporkan produksi bijih nikel sebesar 7.803 MT, jauh dari target yang dijanjikan. Meski demikian, pengapalan bijih nikel ini terganggu karena berbagai hambatan, termasuk penghalangan oleh masyarakat dan subkontraktor yang belum dibayar. Akibatnya, Joan Clara Natasya mengalami kerugian besar.

Dalam dakwaan disebutkan bahwa:

"Terdakwa David M.H. Lumban Gaol antara bulan Januari 2021 sampai dengan April 2021 bertempat di Desa Waturampa, Kecamatan Trobulu, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, dengan sengaja dan melawan hukum memiliki barang yang seluruhnya atau sebagian adalah kepunyaan orang lain. Perbuatan terdakwa dilakukan dengan cara mentransfer dana yang diterima dari PT. Delapan Daya Energi ke rekening CV. Trust Cargo dan rekening pribadi Zulkifli Alias ZUL, yang kemudian sebagian dana tersebut dikembalikan ke terdakwa."

Kerugian Korban

Akibat perbuatan David dan rekannya, PT. Delapan Daya Energi mengalami kerugian sebesar Rp. 1.251.240.000,-. Tindakan ini dianggap melanggar Pasal 372 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP tentang penipuan dan penggelapan. Joan Clara Natasya kemudian mengajukan tambahan dana untuk menyelesaikan masalah ini, namun kembali mengalami kerugian karena kapal tongkang yang membawa bijih nikel tidak dapat berangkat akibat dokumen kapal yang belum dibayarkan oleh Ineke.

Sidang kasus ini masih berlangsung di Pengadilan Negeri Batam. Kasus ini menjadi contoh penting tentang bagaimana investasi yang menjanjikan keuntungan besar bisa berakhir dengan kerugian besar jika tidak dikelola dengan baik dan transparan. Para investor diharapkan lebih berhati-hati dalam memilih mitra bisnis dan melakukan due diligence sebelum menginvestasikan dana mereka.

Sidang lanjutan akan digelar pada 12 Juni 2024 di Pengadilan Negeri Batam dengan agendan putusan sela. Sebelumnya sidang sudah berlangsung selama sebanyak tiga kali dengan agenda, pembacaan dakwaan pada 21 Mei 2024, kemudian dilanjutkan pada 28 Juni 2024 Eksepsi Penasihat Hukum Terdakwa serta pada 4 Juni 2024 agenda Pendapat Umum Terhadap Eksepsi Penasihat Hukum Terdakwa.

Persidangan dipimpin Karya So Immanuel SH, Abdullah SH, serta Marthyn Luther SH. 

 


Komentar Via Facebook :
close

Aplikasi Android Batamnews