Sejarah Tersembunyi Perang Padri: Ketika Candu Memicu Konflik di Bumi Minangkabau

Sejarah Tersembunyi Perang Padri: Ketika Candu Memicu Konflik di Bumi Minangkabau

Sejarah perang padri menurut dosen Unand Dr Emeraldy Chatra adalah perang melawan peredaran candu di Minang, bukan perang kaum wahabi dengan kaum adat (ilustrasi wikipedia)

Denni Risman

Padang, Batamnews - Sebuah penelitian mendalam oleh Dr. Emeraldy Chatra dari Universitas Andalas mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai sejarah Perang Padri yang terjadi di Sumatera Barat antara tahun 1809 hingga 1837. Ternyata, penyebab sebenarnya dari perang tersebut adalah peredaran candu atau narkotika, bukan karena ketegangan antara kelompok Wahabi dengan Penghulu Adat seperti yang selama ini dipercaya.

Baca juga: Hasil Investigasi Kasus Penyakit Ngorok pada Ternak Kerbau di Kuansing, Riau, Karena Belum Vaksin

Dr. Emeraldy Chatra dalam artikelnya yang berjudul "Perang Padri versi Lokal, Sejarah Perang Candu" menjelaskan bahwa istilah "Perang Padri" sebenarnya berasal dari Profesor Veth, seorang orientalis Belanda yang tidak pernah mengunjungi Sumatera Barat. Konstruksi mengenai Perang Padri ini dibangun oleh Veth berdasarkan laporan-laporan dari pegawai Belanda.

Menurut Dr. Emeraldy Chatra, Perang Padri sebenarnya adalah Perang Candu. Pada masa itu, candu merupakan barang yang legal dan diawasi oleh pemerintah kolonial Belanda. Candu telah tersebar di berbagai lapisan masyarakat Sumatera Barat, termasuk kalangan adat. Selain candu, masyarakat juga terlibat dalam kebiasaan menyabung ayam, minum tuak, dan bahkan perzinahan dianggap biasa.

Situasi ini memprihatinkan Tuanku Nan Renceh (TNR), seorang penganut tarekat Naqsabandyah. Dengan sekelompok pasukan kecil yang berbasis di sebuah surau, TNR memerangi peredaran candu dan maksiat di sekitar kampungnya. Inisiatif TNR ini murni berasal dari dirinya sendiri dan tidak mendapat dukungan penuh dari gurunya, Tuanku Nan Tuo di Canduang.

Aksi TNR ini mengancam tiga orang bandar besar candu di Tanah Datar yang kebetulan juga merupakan penghulu adat. Mereka bertiga adalah bandar resmi yang ditunjuk oleh Belanda untuk mengedarkan candu di wilayah Sumatera Barat, dengan jaringan yang meluas.

Penting dicatat bahwa tidak semua penghulu adat terlibat dalam peredaran dan pemakaian candu. Banyak penghulu adat yang melawan, tetapi mereka selalu kalah karena kekuatan gerombolan pengedar candu.

Baca juga: Razia Perjudian Dadu Liung Fu di Batam: Jatanras Polda Kepri Berhasil Mengamankan 10 Orang

Gerakan TNR lebih tepat disebut sebagai gerakan surau, bukan Wahabi. Istilah Wahabi muncul dari penyebutan Belanda setelah tiga orang Haji, yaitu Haji Sumanik, Haji Piobang, dan Haji Miskin, pulang dari Mekah dan bergabung dalam gerakan TNR.

Tindakan tiga orang bandar candu melaporkan TNR ke Belanda dan mengakibatkan campur tangan Belanda dalam konflik ini. Belanda kemudian mendukung kalangan adat, menciptakan perang yang berkepanjangan antara kelompok adat dan kelompok tarekat Naqsabandyah yang dipimpin oleh TNR.

Tokoh yang paling terkenal dalam perang Padri atau perang candu ini adalah Tuanku Imam Bonjol, murid terkuat TNR. Ia menjadi simbol perlawanan dan berhasil mengakhiri perang yang berlangsung selama 28 tahun tersebut. Namun, Tuanku Imam Bonjol ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Cianjur, Ambon, dan akhirnya ke Lotar Sulawesi.

Baca juga: Warga Tiban Bersiaplah, Aliran Air Bakal Mati Mulai Pukul 11.00 WIB, Ini Wilayah yang Terganggu

Penelitian ini mengungkapkan fakta sejarah yang berbeda dari narasi yang selama ini dipahami oleh masyarakat Sumatera Barat. Perang Padri bukanlah konflik antara Wahabi dan Penghulu Adat, melainkan akibat dari peredaran candu dan perjuangan TNR dalam memerangi maksiat yang merajalela pada masa itu.

Temuan ini menunjukkan pentingnya pemahaman yang akurat mengenai sejarah agar dapat melihat berbagai faktor yang mempengaruhi suatu peristiwa dan menghindari konstruksi kolonial yang dapat mengaburkan pemahaman kita akan masa lalu.  

Baca Berita Lainnya di Google News.
Simak Berita Terupdate Tentang Batam, Kepri dan Sekitarnya di Ponselmu. Pilih Saluran Batamnews di Channel WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VaZTLte2f3EBce7FG60k. Pastikan Aplikasi WhatsApp sudah Terinstal.

Komentar Via Facebook :

Berita Terkait