Tambelan Sebagai Tempat Bertelurnya Penyu

Penguatan Peran Kelompok Pemerhati Penyu sebagai Upaya Konservasi Penyu di Tambelan

Penguatan Peran Kelompok Pemerhati Penyu sebagai Upaya Konservasi Penyu di Tambelan

Penyu.

TAMBELAN adalah salah satu lokasi yang menjadi tempat bertelurnya berbagai jenis penyu. Secara administratif, Tambelan merupakan satu dari sepuluh kecamatan yang ada di Kabupaten Bintan dan merupakan kecamatan yang terjauh dengan jarak sekitar 360 km dari Kabupaten Bintan. Untuk sampai di Tambelan, dapat menggunakan maskapai Susi Air milik mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti atau menggunakan kapal roro dan sabuk.

Tambelan terdiri dari gugusan pulau kecil yang berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan. Terdapat pulau berpenghuni dan juga pulau yang tidak berpenghuni. Pada musim bertelurnya penyu, ratusan induk penyu mendatangi pulau yang tidak berpenghuni untuk menguburkan telur-telurnya.

Hampir seluruh pulau yang tidak berpenghuni di Tambelan akan disinggahi oleh penyu untuk bertelur. Selain lokasinya yang merupakan jalur migrasi penyu, karakteristik pantai yang ada juga ideal bagi penyu untuk meletakkan telur. Penyu akan memilih pantai yang mudah dijangkau dari laut, cenderung landai atau tidak terlalu miring, lembab, serta memiliki substrat dengan ventilasi yang baik. Penyu tidak menyukai tempat yang bercahaya, sehingga penyu hanya dapat dijumpai di pulau yang tidak berpenghuni.

Beberapa pulau kecil di Tambelan yang menjadi tempat bertelurnya penyu yaitu Pulau Nangka, Pulau Genting, Pulau Uwie, Pulau Tamban dan Pulau Lesuh. Universitas Maritim Raja Ali Haji dalam kegiatan ANTROPOS (Antropogennic Pressure in Small Island) berkesempatan mendatangi Pulai Uwie dan Pulau Genting untuk melakukan penandaan (taging) pada beberapa penyu yang bertelur serta pegambilan sampel guna keperluan analisis DNA penyu. Untuk mencapai Pulau Uwie, dibutuhkan waktu sekitar 3 jam menggunakan kapal milik nelayan.

Di Pulau Uwie, ditemukan penyu hijau (Chelonia mydas) yang memiliki karapas dengan ukuran rata-rata panjang 92 cm dan lebar 82 cm. Penyu hijau pertama kali terlihat menuju pantai sekitar pukul 19.00 WIB. Pada dasarnya penyu akan memilih waktu malam hari untuk bertelur. Tidak jauh dari pantai, penyu hijau mencari pasir yang sesuai kemuudian mulai menggali menggunakan sirip belakangnya. Setelah mencapai kedalaman 70-100 cm, penyu hijau akan mengeluarkan telurnya. Jumlah telur yang dikeluarkan penyu hijau berkisar 80-120 butir.

Setelah itu lubang akan ditimbun kembali menggunakan pasir dan penyu kembali ke laut. Pada saat akan kembali ke laut, beberapa penyu akan berputar-putar untuk membuat jejak palsu sebagai pengecoh bagi predator yang mengincar telur penyu sehingga lokasi sarang tersamarkan. Selain itu penyu juga akan mengeluarkan air mata untuk mengeksresi kelebihan garam di dalam tubuhnya.

Selanjutnya pengamata dilakukan di Pulau Genting. Untuk mencapai Pulau Genting, dibutuhkan waktu sekitar 45 menit dari Pulau Uwie. Spesies penyu yang ditemukan yaitu penyu hijau (Chelonia mydas) dan penyu sisik (Eretmochelys imbricata). Penyu sisik memiliki ukuran rata-rata lebih kecil dibanding penyu hijau dengan panjang karapas sekitar 74 cm dan lebar 66 cm. Kedalaman lubang yang digali penyu sisik juga lebih rendah dibanding penyu hijau. Namun penyu sisik mengeluarkan telur lebih banyak yaitu berkisar 150-210 butir telur. Pergerakan penyu sisik terlihat lebih cepat dibanding penyu hijau. Pada saat penelusuran di Pulau Genting, ditemukan pula tukik atau anak penyu yang baru menetas dan akan menuju laut. Puluhan tukik bergerak lincah menuju laut, rata-rata ukurannya adalah 5-7 cm.

Tantangan dalam Konserbasi Penyu

Tambelan sebagai tempat bertelurnya penyu perlu dijaga kelestariannya mengingat penyu merupakan hewan yang dilindungi. Badan Konservasi dunia IUCN memasukkan penyu sisik ke dalam daftar spesies yang sangat terancam punah, sedangkan penyu hijau sebagai terancam punah. Atas kesadaran akan perlunya perlindungan terhadap penyu, masyarakat Tambelan yang terdiri dari beberapa nelayan menginisiasi adanya Kelompok Pemerhati Penyu Pulau Nangka pada tahun 2016. Kelompok ini aktif mendata sarang penyu khususnya di Pulau Nangka. Kelompok yang diketuai oleh Bapak Hidayat Yahya (Pak Daat) ini kemudian disahkan oleh Kepala Desa pada tahun 2018.

Selain mendata penyu, Kelompok Pemerhati Penyu Pulau Nangka juga menawarkan pengalaman wisata berkunjung ke Pulau Nangka, pelepasan tukik, dan snorkling namun dengan tetap memperhatikan prinsip konservasi. Pembiayaan operasional kelompok dilakukan secara sukarela oleh masyarakat. Beberapa bantuan sempat diajukan seperti pada tahun 2019, diajukan bantuan operasional kepada pemerintah berupa kapal operasional serta bantuan pendampingan legalitas dari Dinas Kelautan dan Perikanan.

Namun setelah tahun 2019, perhatian terhadap kelompok pemerhati penyu semakin berkurang. Anggota kelompok beroperasi dengan dana seadanya untuk melindungi keberlangsungan hidup penyu. Tidak ada lagi bantuan yang diturunkan sehingga dana operasional menjadi satu permasalahan utama dalam upaya konservasi ini. Namun demikian, penjagaan telur penyu, penangkaran, hingga pelepasan tukik tetap dilakukan.

Telur penyu perlu dijaga menginigat banyaknya predator yang mengincar telur penyu seperti biawak, ular dan lainnya, namun predator tertingginya ialah manusia. Tukik yang baru menetas rentan dimangsa predator di laut sehingga kelompok pemerhati penyu juga melakukan penangkaran beberapa hari untuk mempersiapkan tukik agar lebih kuat ketika dilepaskan ke laut. Berdasarkan peneitian, hanya 1 dari 1000 tukik yang mampu bertahan hingga dewasa. Peran kelompok pemerhati penyu memberikan peluang lebih besar bagi penyu untuk bertahan hidup.

Oleh karena itu, perhatian dan komitmen bersama dalam menjaga penyu sebagai hewan terancam punah sangat diperlukan. Pemerintah melalui regulasi dan program kerjanya hendaknya mampu menyasar hingga ke pelosok negeri. Bantuan berupa bahan bakar, pakan, dan perlengkapan penangkaran diperlukan untuk menunjang operasional kelompok pemerhati penyu.

Penulis: Kemala Septia

Komentar Via Facebook :