Terpengaruh Indonesia, Harga Minyak Sawit Mentah di Malaysia Anjlok

Terpengaruh Indonesia, Harga Minyak Sawit Mentah di Malaysia Anjlok

Ilustrasi. (Foto: ist)

Kuala Lumpur - Penurunan drastis harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) hampir 30 persen di Malaysia pada bulan ini diperkirakan akan mempengaruhi bisnis produsen minyak sawit.

Analis Maybank IB Ong Chee Ting mengatakan produsen akan terpengaruh karena ada kemungkinan peningkatan risiko gagal bayar atau kegagalan melakukan pembayaran di antara pembeli yang ingin menunda pengiriman minyak sawit, karena mereka telah mengunci harga tinggi sebelumnya.

Namun, kata dia, secara positif, harga jual rata-rata (ASP) CPO saat ini masih di atas rata-rata biaya operasional produksi industri.

Biaya operasi rata-rata produksi industri untuk tahun keuangan 2022 diperkirakan kurang dari 2.500 Ringgit atau sekira Rp 8,4 juta per ton.

"Namun, situasi di Indonesia mengkhawatirkan (walaupun sementara) karena ASP bersih domestik CPO dikutip pada 8.000 rupiah per kilogram per ton pada 24 Juni," katanya dalam sebuah catatan penelitian dilansir Berita Harian, Rabu (29/6/2022).

Harga CPO menunjukkan tren penurunan dari 7 Juni, dari 6.753.50 Ringgit atau sekira Rp 22 juta per ton menjadi 5.046.00 Ringgit (sekira Rp 17 juta) per ton pada 22 Juni 2022 atau turun 25,3 persen hanya dalam waktu sekitar dua minggu.

Harga CPO berjangka satu bulan turun 16 persen minggu ke minggu menjadi 4.798 Ringgit atau Rp 16 juta per ton Jumat lalu, atau penurunan 27 persen untuk bulan tersebut pada 24 Juni 2022, yang menghapus hampir seluruh kenaikan untuk tahun ini .

Harga CPO berjangka satu bulan juga telah turun 41 persen sejak mencapai level tertinggi 8.163 Ringgit per ton pada 1 Maret 2022.

Chee Ting mengatakan, sisi positifnya, gap harga antara CPO dengan minyak nabati lainnya, yakni minyak kedelai dan minyak lobak, masih cukup lebar sehingga memberikan sedikit dukungan terhadap harga CPO.

Dia mengatakan meskipun harga CPO menarik, penurunan tajam harga komoditas baru-baru ini dapat mengganggu bisnis karena pembeli mungkin mengambil sikap menunggu dan melihat, berharap untuk menuai kenaikan harga yang lebih rendah karena stok saat ini di Indonesia 'melimpah'.

“Situasi di Indonesia tampaknya buruk jika dilihat dari penurunan tajam harga CPO domestik (dalam negeri) yang mencapai rekor terendah dua tahun.

“Harga terakhir yang disebutkan adalah 2.374 Ringgit atau Rp 8 juta per ton (penurunan 14 persen tahun-ke-tahun), 40 persen di bawah harga awal tahun ini di Indonesia dan sekitar 2.421 Ringgit per ton didiskon ke harga CPO Malaysia.

"Namun, kami memperkirakan situasi ini hanya sementara karena harga domestik akan pulih dengan cepat setelah stok Indonesia kembali normal," katanya.

(dod)