Dorong Penggunaan Produk Lokal, SKK Migas dan KKKS Inspeksi 3 Pabrik di Batam

Dorong Penggunaan Produk Lokal, SKK Migas dan KKKS Inspeksi 3 Pabrik di Batam

Tim dari SKK Migas saat inspeksi di PT ASL Shipyard untuk memastikan kandungan lokal dalam produksi (Foto: istimewa)

Batam, Batamnews - Satuan Kerja Khusus Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) melakukan inspeksi ke sejumlah perusahaan di Batam, Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (7/6/2022). Inspeksi ini bertujuan untuk melihat dari kemampuan produk lokal.

Dalam inspeksi tersebut, SKK Migas menyertakan 8 KKKS untuk melihat secara langsung produk yang dibuat di Batam, untuk menunjang pelaksanaan proses produksi industri hulu migas di Indonesia.

“Inspeksi ini juga untuk melihat produk mana saja yang dibuat di Batam dapat digunakan di industri hulu migas,” ujar Kepala Divisi Pengelolaan Rantai Suplai SKK Migas Erwin Suryadi.

Baca juga: Forum SKK Migas Targetkan TKDN Industri Hulu Migas Tercapai 60 Persen 

Menurutnya, SKK Migas berkomitmen terhadap produk lokal untuk menggerakkan industri dalam negeri sesuai dengan keinginan pemerintah.

“Jika produknya berkualitas dan memenuhi standar Industri migas, kita akan supporting terus dan ini tidak main-main,” katanya.

Pada inspeksi ini, SKK Migas dan KKKS mendatangi 3 perusahaan lokal di Batam, diantaranya ASL Shipyard Indonesia, Tomoe Valve dan perusahaan pipa seamless, Rainbow Tubulars Manufacture.

Dari hasil inspeksi tersebut, diketahui bahwa PT ASL Shipyard Indonesia telah dapat melakukan produksi dengan kandungan lokal hingga 80 persen.

Baca juga: Pemkab Natuna Usulkan Penambahan 6 SPBU Baru ke BPH Migas

Saat ini, target TKDN yang perlu dicapai yaitu sebesar 57 persen. Namun hingga April 2022, target TKDN telah tercapai 62 persen.

“Tapi kami masih terus melihat, karena datanya masih terus bergerak,” kata Erwin.

Sementara itu, Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagut, Rikky Rahmat Firdaus mengatakan pada forum kapasitas nasional di Batam, perusahaan-perusahaan lokal tersebut akan didorong untuk lebih berperan dan bersaing dengan lebih profesional, sehingga dapat berpartisipasi di Industri hulu migas yang memiliki standar kerja keteknikan yang tinggi.

“Banyak perusahaan lokal di Batam yang sebenarnya memiliki potensi di proyek-proyek hulu migas dan ini sangat beruntung karena perusahaan tersebut beroperasi di Indonesia,” kata Rikky.

(ret)