Menkes Sebut WHO Perkirakan RI Berisiko Tinggi Penularan Omicron

Menkes Sebut WHO Perkirakan RI Berisiko Tinggi Penularan Omicron

Menkes, Budi Gunadi Sadikin.

Jakarta, Batamnews - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah memprediksi Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki risiko tinggi akan penyebaran varian SARS-CoV-2 B.1.1.529 atau yang dikenal dengan varian Omicron.

Selain Indonesia, terdapat 10 negara bagian Asia Tenggara (SEARO) lainnya yang masuk perkiraan ini. Mereka yakni Bangladesh, Bhutan, Korea Utara, India, Maldives, Myanmar, Nepal, Sri Lanka, Thailand dan Timor Leste.

Baca juga: Omicron Merebak, Warga Malaysia Diminta Segera Booster Vaksin Corona

"WHO memperkirakan negara di bagian Asia Tenggara memiliki risiko sangat tinggi," kata Budi dalam keterangannya, Rabu (1/12/2021).

Kendati demikian, Budi juga mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian dan pengamatan sementara ini oleh para peneliti global, varian Omicron tidak menimbulkan gejala klinis yang lebih parah dari varian Delta.

Dengan begitu apabila varian Omicron teridentifikasi di Indonesia, maka diperkirakan tidak akan membuat kolaps keterisian rumah sakit rujukan Covid-19.

Namun, Budi menambahkan bahwa penelitian sementara menyebutkan varian Omicron memiliki tingkat penularan yang lebih cepat dari varian Delta.

"Dengan karakteristik mutasi protein spike yang dimiliki varian Omicron, diprediksi varian ini dapat menggantikan Delta," jelas Budi.

Baca juga: Jepang Deteksi Kasus Pertama Varian Virus Corona Omicron

Lebih lanjut, mantan wakil menteri BUMN itu memastikan varian Omicron belum teridentifikasi sejauh ini di Indonesia berdasarkan pemantauan dan hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS).

Budi kemudian merinci sampai saat ini sudah ada 249 kasus yang terkonfirmasi varian Omicron di 21 negara di dunia. Negara yang melaporkan kasus varian Omicron tertinggi yakni adalah Afrika Selatan dengan 128 kasus.

Budi kemudian berjanji pemerintah akan memperketat pengawasan seluruh pintu masuk Indonesia untuk mencegah penyebaran varian ini. Selain itu pihaknya juga akan menggenjot pemeriksaan WGS untuk mendeteksi varian yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan ini.

(fox)