SKK Migas: Keberhasilan Industri Hulu Migas Dorong Pendapatan Daerah

SKK Migas: Keberhasilan Industri Hulu Migas Dorong Pendapatan Daerah

Kepala Divisi Pengelolaan Rantai Suplai dan Analisis Biaya SKK Migas, Erwin Suryadi memberikan penghargaan kepada industri penunjang dan industri dalam negeri. 

Batam, Batamnews - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terus mendorong peningkatan peran industri penunjang jasa dan barang dalam negeri agar terciptanya efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian nasional dan daerah.

Kehadiran industri hulu migas bagi daerah memberikan dampak positif pada pendapatan pemerintah melalui dana bagi hasil migas dan participating interest. Dan bagi masyarakat melalui dampak tak langsung atas beroperasinya suatu wilayah kerja migas, serta juga mendorong industri usaha kecil, mikro, menengah (UMKM).

Kepala Divisi Pengelolaan Rantai Suplai dan Analisis Biaya SKK Migas, Erwin Suryadi mengatakan, SKK Migas berkomitmen untuk menggenjot Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) industri hulu migas dengan mendongkrak kemampuan usaha penunjang dalam negeri hulu migas.

Baca juga: TKDN Hulu Migas Jadi Lokomotif Ekonomi Nasional

“Kehadiran industri hulu migas memberikan multiplier effect yang sesungguhnya. Banyak sekali industri lain dapat terangkat dengan keberadaan industri hulu migas,” ujar Erwin Suryadi, dalam siaran persnya.

Di tahun 2020, kontribusi hulu migas pada penerimaan negara mencapai Rp 122 triliun atau 144 persen dari target APBN-P 2020.

SKK Migas berupaya meningkatkan kontribusi penerimaan negara di tengah pandemi Covid-19. Hingga kuartal tiga 2021, realisasi penerimaan negara dari sektor hulu migas mencapai USD9,53 miliar atau melebih target tahun ini sebesar USD7,28 miliar.

Penerimaan negara dari sektor hulu migas hingga akhir 2021 diperkirakan mencapai USD11,7 miliar. Sementara itu, investasi di hulu migas juga meningkat seiring dengan membaiknya harga minyak dunia dan mulai bergeraknya perekonomian nasional. Saat ini nilai investasi di hulu migas telah mencapai USD7,9 miliar.

 

“Kami perkirakan angka investasi yang digelontorkan KKKS terkait dengan target produksi nasional sebesar 1 juta barel per hari minyak dan 12 BSCFD gas pada 2030 secara total akan mencapai USD187 miliar,” kata Erwin.

Investasi yang tinggi sejalan dengan peningkatan produksi, maka kegiatan sektor hulu akan meningkat tajam yang akan diikuti dengan diperlukannya kehadiran industri jasa dan barang sebagai penunjang.

Erwin menjelaskan, pada saat pandemi Covid-19, sektor hulu migas adalah salah satu industri di Tanah Air yang tetap terus beroperasi sehingga membawa efek berganda pada industri-industri penunjang lainnya yang tetap hidup. Industri yang dimaksud yaitu perhotelan, kesehatan, catering, dan transportasi.

Baca juga: Efek Berganda Industri Migas Capai Rp 103 Triliun ke Sektor Lain di Masa Pandemi

“Disinilah letak keberadaan hulu migas. Tadinya hanya dilihat dari masalah produksi, lifting. Namun ternyata setelah dijabarkan lebih holistik, dampaknya luar biasa,” tukas Erwin.

Ia menyebutkan, nilai kontribusi industri migas bagi sejumlah industri lain pada 2020-2021 mencapai USD7,126 miliar atau setara dengan IDR 103 triliun. 

Diantaranya industri transportasi dengan nilai USD470 juta dan kandungan TKDN mencapai 78 persen, industri tenaga kerja USD 442,76 juta dengan nilai TKDN sebesar 86 persen, industri perhotelan senilai USD129.88 juta dengan kandungan TKDN sebesar 92 persen.

Sementara pencapaian industri kesehatan mencapai USD20,446 juta dengan TKDN 86 persen, disusul dengan industri asuransi senilai USD3,821 (dengan nilai TKDN sebesar 86 persen. Dari keseluruhan kontribusi tersebut, UMKM memiliki peranan aktif terhadap perputaran roda ekonomi sebesar 10,7 persen dengan nilai TKDN 100 persen.

Sampai dengan saat ini total pengadaan barang dan jasa per 30 September 2021 mencapai USD2,6 miliar (Rp37 triliun) dengan komitmen TKDN sebesar 58 persen atau di atas target yang ditetapkan pemerintah.

(ret)