Chip Mencuri Pikiran

Chip Mencuri Pikiran

Ilustrasi. (Foto: ist)

Oleh: Iskandar Zulkarnain Nasution

BIOTEKNOLOGI, yang menyasar manusia sebagai objek pelayanannya telah memulai fase penerapan. Adalah Elon Musk, sang taipan teknologi dengan startup yang didirikannya Neuralink, menyatakan bahwa penyakit-penyakit yang bersifat neurologis dapat disembuhkan dengan menanamkan chip pada otak manusia. Ini berkait erat dengan menggabungkan teknologi komputer dan manusia.

Teknologi ini, jika diterapkan akan menghubungkan otak manusia ke sistem cloud, dimana ingatan dapat disimpan, pikiran dapat ditukar dan pengalaman dapat diperoleh. Persis seperti yang pernah disajikan dalam filem bergenre bioteknologi.

Neuralink telah berhasil melakukan implan chip ke otak seekor monyet, dan monyet tersebut mampu menggerakkan kursor di layar komputer hanya dengan menggunakan pikirannya.

Elon Musk memperkirakan suatu hari nanti, teknologi Neuralink akan mampu membuat orang lumpuh dapat berjalan kembali dan memungkinkan manusia mencapai simbiosis dengan Kecerdasan buatan (Artificial Inteligence), menggabungkan kemampuan manusia dan otak komputer. Walaupun ada kekuatiran bahwa penggunaan yang meluas akan teknologi ini di masa depan, dimana sistem cloud akan menjadi modal ekonomi, maka data manusia yang terhubung ke sistem ini akan rentan diperjual belikan, seperti yang terjadi saat ini dalam beberapa aplikasi media sosial.

Membuktikan keniscayaan teknologi implan chip ke otak manusia, Food and Drug Administration (FDA) otoritas yang berkuasa dalam hal pengobatan di Amerika Serikat telah memberikan izin bagi sebuah perusahaan bioteknologi kecil, Synchron, untuk memulai uji kelinis bagi studi kelayakan awal penerapan implan Stentrode akhir tahun 2021 di Rumah Sakit Mountsinai dengan 6 subjek manusia.

Studi ini diperlukan untuk memastikan keandalan implan Stentrode dalam sisi keamanan dan kemanjuran neuroprostesis motoriknya pada pasien dengan kelumpuhan parah.

Implan chip Strentrode ini akan memungkinkan mereka menggunakan data otak untuk mengendalikan perangkat digital dan mencapai peningkatan kemandirian fungsional. Subjek penelitian akan mulai menggunakan perangkat di rumah segera setelah impantasi selesai dan mereka akan dapat mengontrol perangkat eksternal secara nirkabel dengan hanya berpikir tentang menggerakkan anggota tubuh mereka. Pada ujicoba ini, subjek akan mampu melakukan tugas seperti mengirim pesan teks, email, perdagangan online dan mengakses telemedicine.

Synchron mengatakan implantasi chip mereka bukanlah prosedur invasif, yakni pengeboran ke dalam tengkorak manusia dan menempatkan elektroda jarum langsung ke jaringan otak, seperti yang diaplikasikan oleh Neuralink ke otak monyet. Teknologi implantasi Synchron menggunakan jaringan pembuluh darah dalam prosedur dua jam, yang mirip dengan bagaimana stent dimasukkan ke dalam jantung.

Ternyata, selain di Amerika Serikat, Synchron juga sudah memiliki 4 pasien manusia di Australia yang telah menerima implan chip sebagai bagian dari uji klinis terpisah. Hasilnya, dua pasien manusia tersebut dapat mengontrol perangkat untuk mengirim teks dan mengetik. Mereka dapat menggunakan teknologi di rumah untuk mengirim pesan teks, berbelanja online dan mengelola keuangan secara nirkabel.

Perkembangan bioteknologi terhadap kesehatan manusia ini, juga berpotensi menjadi modal ekonomi di masa depan, yang tentu saja, kita belum berhasil mencapai ke sana.

Untuk di Kepulauan Riau, adalah Rektor Universitas maritim UMRAH, Agung Dhamar Syakti yang mengingatkan bahwa sebagai propinsi kepulauan, dengan luas laut yang lebih besar dari daratan, maka pengembangan bioteknologi dalam pengelolaan industri maritim sebagai sebuah keniscayaan. 

Dalam kaitan ini Agung mencontohkan perlunya bioteknologi dalam memodifikasi produk olahan perikanan, memperbaiki kualitas genetik atau fenotip tumbuhan laut dan hewan laut, bahkan termasuk untuk perbaikan lingkunganmaritim yang disebabkan oleh pencemaran minyak di laut.

Namun berbeda dengan di Luar Negeri, dimana riset pengembangan sepenuhnya dilakukan oleh industri atau perusahaan rintisan, Agung berharap adanya kerjasama dengan pemerintah dalam mengembangkan bioteknologi di Kepulauan Riau. Seperti kerjasama dalam membuat regulasi, kemudahan investasi dalam bidang bioteknologi dan mencari investor yang memiliki teknologi terdepan.

Hal yang sama juga berlaku dalam pengembangan vaksin merah putih, vaksin buatan anak negeri untuk meredam laju infeksi covid19. Alih-alih penelitian vaksin dilakukan oleh perusahaan vaksin, Indonesia mempercayakan kepada beberapa lembaga riset universitas dan Laboratorium Eijkman yang sepenuhnya belum terkoneksi dengan industri farmasi. 

Menurut koordinator peneliti vaksin Covid-19 dari Universitas Indonesia, sebagai salah satu perguruan tinggi yang turut mengembangkan vaksin merah putih, Budiman Bela, Indonesia memiliki kendala dalam bidang SDM,dan sistem yang berbeda di setiap institusi pengembang vaksin merah putih. Sistem yang berbeda itu meliput tatakelola, pemanfaatn paten, rencana produksi dan teknis lainnya.

Bahkan, walaupun sudah dikeroyok oleh berbagai institusi, vaksin merah putih tersebut baru akan memasuki uji klinis tahap 1 di awal tahun 2022. dan butuh 8 bulan setelah uji klinis tahap 1 baru bisa mendapatkan emergency use authorization. Thus artinya, kita masih membutuhkan vaksin yang dibuat oleh industri farmasi negara lain sampai vaksin merah putih bisa digunakan.

Bagaimana dengan vaksin sel dendritik nusantara yang dikembangkan DR Terawan? Juga sama, yakni dikembangkan oleh unit di rumah sakit milik Angkatan Darat, dimana prosedurnya tidak diakui BPOM selaku regulator, namun secara fakta, sudah melakukan beberapa kali uji klinis terhadap manusia. Industri farmasi indonesia sama sekali tidak terlibat. Artinya memang, Iklim penelitian dan pengembangan dalam berbagai bidang teknologi di Indonesia, belum menjadi inisiatif dari lembaga riset industri. Ianya masih bertumpu kepada inisiasi dan keperluan anggaran pemerintah.

Makanya, wajar saja, kita jadi heboh pada pergantian warna pesawat Kepresidenan dibandingkan bertanya, sudah sampai tahap mana tim pengembangan vaksin merah putih kita dan apa kendalanya yang patut menjadi pikiran kita bersama. 

Penulis adalah pengamat sosial di Kepulauan Riau.


Berita Terkait