Nasi Padang vs Hati Angsa Gemuk

Nasi Padang vs Hati Angsa Gemuk

Ilustrasi.

Oleh: Iskandar Zulkarnain Nasution

MANG Eman, nama pedagang agar-agar asal Garut, yang videonya viral saat membeli nasi padang berbekal duit hanya Rp 5 ribu mendapat donasi mencapai ratusan juta rupiah. Kisah mang Eman ini dimulai ketika dirinya kelihatan mondar mandir masuk ke warung nasi padang dengan tujuan membeli nasi. 

Hal yang membuat terenyuh ketika Mang Eman yang mengepalkan uang Rp 5 ribu di tangannya memesan nasi padang dengan lauk rendang seharga Rp 18 ribu. Saat itu, pemilik warung yang iba melihatnya memutuskan untuk memberi seporsi nasi padang dengan lauk rendang secara cuma-cuma ke Mang Eman.

Anak pemilik warung tersebut ternyata memvideokan kisah ini dan lantas mengunggahnya di platform media sosial. Bahkan di tiktok, salah satu aplikasi video di media sosial, kisah ini ditonton lebih dari 17 juta kali. Banyak netizen yang simpati dan terenyuh nuraninya pada kesusahan Mang Eman.

Berbeda dengan kisah viral Mang Eman dan nasi padangnya, Sisca Kohl, salah seorang selebriti dunia maya, menuai kritik dengan videonya yang juga viral karena makan mie instan dengan menggunakan hati angsa gemuk sebagai toppingnya. 

Makanan mie instan ini ditaksir menghabiskan Rp 16 juta. Selain nilai makanannya yang sangat fantastis, dibandingkan seporsi nasi padang berlauk rendang Mang Eman, Sisca Kohl juga meggelitik para pencinta hewan karena menggunakan hati angsa gemuk.

Apa sih hati angsa gemuk itu?

Hati angsa yang diternakkan, yang lebih dikenal dengan nama foie grass, berukuran lebih besar dari hati angsa kebanyakan. Hati angsa ini membesar dengan menggunakan teknik khusus. Karena itu, hati angsa lebih terkenal dengan nama foei grass, yang dalam bahasa Perancis artinya “hati gemuk”.

Hati angsa gemuk sejak lama dikenal sebagai bahan makanan mewah dan mahal di dunia. Harga yang dibanderol untuk seporsi hati angsa gemuk berkisar Rp 500 ribu sehingga Rp 700 ribu. 

Hati angsa gemuk memiliki rasa yang gurih kuat dan sangat berlemak, teksturnya sendiri sangat halus dan lembut. Untuk warnanya, hidangan dari hati angsa gemuk ini berwarna krem dengan semburat merah muda. Biasanya dimasak dengan metode tradisional, seperti dipanggang utuh atau dengan dihaluskan dan membuatnya menjadi mousse pada suhu panas yang tinggi atau di-grill.

Namun di balik kelezatannya, proses produksi hati angsa gemuk terjalin dengan cara sangat mengerikan. Hati angsa itu diperbesar ukurannya hingga 10 kali lipat berbanding hati angsa biasa. 

Proses ini dilakukan dengan memberi pakan secara paksa melalui selang yang mengalirkan makanan melewati tenggorokan hingga ke perut angsa. Ini merupakan teknik kuno yang berasal dari Mesir pada 2500 SM. Tetapi ada juga yang berpendapat membuat hati angsa gemuk dapat dilakukan dengan mengatur pola makan dan waktu penyembelihan.

Mengapa kedua hal ini saya sajikan dalam tulisan kali ini?

Hanya untuk membuktikan bahwa dunia nyata selalu bisa mengungkapkan karakteristik masyarakat Indonesia yang sebenarnya jika bisa disajikan secara benar melalui platform media sosial.

Kadangkala imbauan, surat edaran maupun sejenisnya tidak memiliki impak yang signifikan dalam masyarakat kita. Sebab selalu disajikan dalam wujud perintah dari atasan kepada bawahan. Seakan akan masih dalam wujud seorang priyayi kepada rakyat jelata. Padahal selalu ditekankan bahwa pemerintah, adalah pelayan masyarakat. Sehingga rakyatlah yang menjadi tuan dan harus dilayani. Dasar itu, maka pemerintah perlu mengubah cara atau model dalam memberikan amaran atau menggugah masyarakat agar taat dan mengikuti anjuran pemerintah.

Saat ini model video atau konten yang menggugahlah yang bisa membantu kita dalam mengubah persepsi masyarakat atau bahkan mendapatkan dukungan dari masyarakat.

Bisa dibayangkan, di tengah situasi PPKM level 4 pun, ketika sebuah konten menjadi viral dan masyarakat netizen bergerak untuk membantu, hanya sekejab saja sudah terkumpul donasi sebesar Rp 108 juta. Bandingkan jika yang melakukan itu pengemis yang mengetuk rumah-rumah untuk mendapatkan donasi. Inilah kelebihan dari media sosial. Sebuah kekuatan perubahan yang seharusnya bisa kita gunakan secara lebih massif dalam menggalang dukungan dari masyarakat Indonesia dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Jiwa gotong royong, rasa senasib sepenanggungan dan kasih sayang sebagai sesama anak manusia yang hidup di bumi pertiwi Indoensia ini masih tertoreh dalam di hati sanubari rakyat Indonesia. Walaupun tidak semua makan hati angsa gemuk, tapi angsa dan bebek adalah salah satu hewan peliharaan yang ada di hampir seluruh rumah rakyat Indonesia. 

Sudah saatnya kita mengubah paradigma, daripada memamerkan makan hati angsa gemuk, mari kita sama menjalin kekuatan agar angsa- angsa yang ada di rumah rakyat Indonesia tidak hanya hatinya yang menjadi hati angsa gemuk dari proses yang sehat tapi juga menghasilkan telur emas. Ya angsa bertelur emas.

Bagaimana caranya? Disrupsikan cara komunikasi pemerintah saat ini menjadi lebih milenial dan mengawang di lautan media sosial.

Penulis adalah pengamat sosial di Kepulauan Riau.


Berita Terkait