Batam Saat Ini Jadi Tujuan Para Imigran Gelap, Ini Buktinya
Dua imigran di Batam Centre, Ju(23/10/2015). (foto: iskandar)
BATAMNEWS.CO.ID, Batam - Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri) saat ini menjadi daerah tujuan para imigran gelap asal Timur Tengah. Sejak bulan Maret hingga saat ini jumlah mereka terus bertambah.
Dari pantauan Batamnews.co.id, Jumat 23 Oktober 2015 sekira pukul 11.30 WIB, dua orang imigran gelap asal Somalia sedang duduk di bawah pohon di depan Kantor DPRD Kota Batam. Diduga mereka mencari perhatian warga yang melintas yang hendak ke masjid Raya.
Namun, warga yang melintas tidak ada yang peduli. Tapi tidak lama seorang diantaranya mengeluarkan handphone jenis Android dengan harga yang cukup mahal nampak menghubungi seseorang.
Sekilas kalau dilihat dari segi penampilan seperti pakaian yang dikenakan, mereka tidak seperti para imigran yang sedang mencari suaka. Mereka terlihat seperti para turis yang hendak berlibur ke suatu negara.
Saat batamnews.co.id coba menghampiri dan menanyakan asal dan maksud mereka ke Batam. Dua orang imigran tersebut enggan menjawab dan terus menanyakan dimana Kantor Imigrasi.
" Where is the imigration office," ujar salah seorang imigran tersebut.
Kemudian saat mau diambil foto mereka menolehkan muka seakan enggan difoto. Sebelum dua imigran ini beberapa hari lalu ada 18 orang imigran yang terlantar di taman ispirasi Batam Centre.
Lalu, pihak Imigrasi kelas I khusus Batam kemudian membawa mereka ke Hotel Kolekta. Mereka digabungkan bersama imigran gelap lainnya.
Saat ini, jumlah imigran gelap yang berada di Hotel Kolekta berjumlah 178 orang. Jumlah mereka terus bertambah, pihak imigrasi saat ini sedang mencari tahu apakah mereka ini benar-benar imigran korban konflik atau menjadi korban jaringan trafficking.
Kepala Bidang Pengawasan dan Penindakan Imigrasi Kelas I Khusus Batam Rafli SH mengatakan, pihak imigrasi bukannya melakukan pembiaran terhadap mereka. Saat ini pihaknya sedang mencari tahu karena jumlah mereka terus bertambah.
"Kita heran, kemaren kita kirim delapan, trus besok datang lagi delapan," ujar Rafli saat mengunjungi para imigran bersama Wali Kota Batam, beberapa hari lalu.
Sambung Rafli, mereka tiba-tiba diturunkan oleh taksi di pinggir jalan. Kemudian datang ke Kantor Imigrasi membawa surat dari United Nations Higs Commissioner for Refugees (UNHCR).
"Kami menduga sebagian dari mereka menjadi korban trafficking. Soalnya saat disidak beberapa kamar kami menemukan paspor," kata Rafli.
Awalnya imigran gelap asal Suria, Sudan, Somalia, Pakistan, Irak dan Mesir, tersebut masuk lewat jalur udara. Namun, belakangan mereka masuk lewat jalur laut melalui pelabuhan tikus.
(isk)
Komentar Via Facebook :