https://www.batamnews.co.id

Belajar Berfikir

L.N Firdaus

Oleh: L.N. Firdaus

Pensyarah di FKIP Universitas Riau

Belajar adalah berfikir. Kalau tak berfikir? Ya, tidak belajar lah. Kapan kita berfikir? Waktu menghadapi masalah. Apa itu masalah? Sesuatu yang kita belum tahu jawabannya. Untuk bisa tahu? Bertanya terus sampai tahu jawabannya. Jawaban atau solusi atas masalah disebut Pengetahuan.

Apa saja yang kita tahu, itu lah pengetahuan kita. Selebihnya adalah ketidaktahuan. Apakah semua yang kita tahu itu benar? Belum tentu. Pengetahuan yang benar kita sebut Ilmu. Kalau ternyata pengetahuan yang kita tahu itu tidak benar? Itu lah yang disebut dengan Keliru.

Perkara bertanya tiada henti sampai memperoleh pengetahuan (dari tidak tahu menjadi tahu) itu yang ramai orang enggan melakukannya. Kenapa? Malas. Kenapa malas? Karena tak mau tahu alias rendah rasa ingin tahunya (kuriositas). Padahal kuriositas inilah rahasia kekuatan Albert Einstein yang mengubah peradaban, bukan Kecerdasan Intelektual (IQ).

Hanya Si Pemalas itu yang tahu persis faktor “x” apa yang menyebabkan dia menjadi malas. Cari dan temukan lah faktor “x” itu dalam diri masing-masing. Jadi, kita belajar, kalau kita berfikir. Kalau tidak? Ya, hanya pura-pura belajar. 

Tak bisakah guru menemukan? Tak bisa. Kenapa? Karena pemegang kunci kotak “x” si Pemalas itu adalah diri dia sendiri, bukan orang lain. Jika hendak mengembangkan diri, ubah lah x (kecil) itu menjadi X (BESAR). Sebaliknya, ubah X (BESAR) menjadi x (kecil) jika berhasrat mengempiskan diri. Tinggal pilih suka yang mana satu.

Jika demikian, untuk apa Guru hadir? Pertama, untuk membantu menumbuhkan semangat (motivator); dari tak bergairah, menjadi bergairah dalam belajar. Kedua, untuk menata (manajer); dari tak kemas, menjadi kemas. Ketiga, untuk membuat yang sulit menjadi mudah (fasilitator).

Cuma itu Tri Tugas Guru. Relasi Guru-Murid ibarat Kuda dengan Majikannya. Jika kuda merasa haus, Sang Majikan hanya bisa membantu menuntun kuda ke sumber air. Tapi pekara minum, ya kuda itu sendiri yang harus minum. Bukan kah yang haus itu Kuda?

Walhasil, ukuran kecerdasan manusia memang terletak pada kemampuannya dalam belajar. Seberapa dahsyat perubahan itu dapat terjadi tergantung pada kapasitas seseorang dalam belajar. Sedangkan proses belajar hanya dimungkinkan jika ada kegiatan berfikir. Tanpa berfikir tidak ada belajar yang sesungguhnya, kecuali belajar semu (pseudo learning) dan tanpa belajar tidak akan ada perubahan. 

Manusia sejatinya adalah makhluk yang berfikir. Karena itu kita diberi nama Latin Homo sapiens (Sapiens=berfikir). Kegiatan berfikir dimungkinkan oleh adanya otak (brain). Otak manusia adalah Mahakarya Sang Khalik. Sayang seribu sayang, meski semua orang memiliki otak, tapi hanya sedikit yang menggunakan pikirannya. Sampai detik Anda membaca artikel ini, masih ramai orang tak percaya adanya Covid 19- partikel protein
pemusnah masal yang telah mematikan 45.521 orang Indonesia dan 3.158. 792 seluruh dunia (30/4/2021).

Maka benar lah, hanya dua presen orang berfikir, kata Bahkan Sastrawan George Bernard Shaw. Tiga persen orang berfirkir bahwa mereka berfikir. Celakanya, sembilan puluh lima persen orang lebih memilih mati ketimbang berfikir (Only two percent of the people think; three percent of the people think they think; and ninety five percent of the people would rather die than think).

Belajar dengan berfikir memang tidak mudah. Tidak berfikir dalam belajar berarti kita tidak belajar. Tidak belajar berfikir dalam belajar berarti kita belum sempurna belajar. Belum sempurna belajar berarti kita masih perlu belajar bagaimana sesungguhnya belajar. Jika kita dapat memahami mengapa kita belajar, maka kita dapat belajar dalam situasi apapun, kapan pun, dan dimana pun. Pikir-pikir lah, Pikir itu Pelita Hati..! Wallahualam…